Pagi itu, meja makan dipenuhi suara gelas beradu pelan dan bisikan lirih. Aroma teh hangat dan roti bakar yang nyaris tak tersentuh menggantung di udara. Semua keluarga berkumpul: Haikal bersama istrinya, Mega bersama suaminya, dan tentu saja Aluna bersama Reza. Mereka makan dalam diam, sesekali melempar pandang ke arah ruang dalam, tempat ibu mereka duduk diam sejak kemarin—menolak makan, menolak berbicara. “Udah aku bujuk dari tadi pagi,” kata Mega, suaranya lelah. “Tetep aja nggak mau makan apa-apa.” “Aku juga barusan ke kamar Mama,” sambung Aluna lirih. “Nawarin sup, buah… apa aja, pokoknya. Tapi Mama cuma geleng kepala.” Haikal mendengus, mengaduk-aduk tehnya tanpa semangat. “Ya wajarlah,” katanya. “Baru juga sehari Papa pergi. Mama pasti masih kaget.” Semua mengangguk pelan, m

