Bab 18| Hai Aluna

1145 Kata

Sementara itu, di rumah Reza, suasana jauh dari tenang. Ibu Ratna masih berada di rumah sejak siang tadi. Aluna mencoba bersikap ramah, mengajak berbincang seadanya, menyajikan teh, dan sesekali menemaninya menonton televisi. Tapi sejak sore, Aluna merasa makin kesal—karena Reza belum juga pulang dan tak memberi kabar apa pun. Ia mondar-mandir dengan gelisah, mengecek ponsel berkali-kali. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Dan ketika akhirnya pintu rumah terbuka dan Reza masuk, ekspresi Aluna langsung berubah. “Baru pulang?” tanyanya, nadanya dingin dan tajam. Reza meletakkan kunci dan helm tanpa menatapnya. “Iya.” “Seharian, Mas. Ibu nungguin loh. Gak kasihan, apa? Harusnya kamu pulang lebih awal.” Reza menghela napas berat. “Salah satu pegawai toko tiba-tiba sakit. Aku har

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN