Sekar menarik napas panjang sebelum akhirnya melangkah keluar dari gang kecil yang dulu begitu ia hafal, nyaris seperti punggung tangannya sendiri. Jalanan yang dulunya akrab, kini terasa seperti dunia asing. Tapi hari ini, ia datang bukan untuk nostalgia. Buk Dila—yang sejak seminggu lalu berjanji akan membayar utang—akhirnya menelpon dan memintanya datang langsung. “Sekalian bawa anakmu ya, biar aku percaya kamu nggak bohong soal butuh uang,” begitu katanya. Jadi di sinilah dia, berjalan dengan kedua tangan menggandeng Nara dan Naya yang riang meski hari mulai temaram. Mereka baru saja keluar dari gang rumah Buk Dila ketika sebuah suara menyapanya. “Sekar?” Langkah Sekar terhenti. Ia menoleh pelan. Aluna berdiri tak jauh darinya, mengenakan kaus santai dan celana panjang, wajahnya ta

