Tubuh Sekar masih kaku. Ranjang itu dingin, bukan karena cuaca, melainkan karena kehangatan yang hilang sejak lama. Reza bangkit perlahan dari atas tubuhnya, menarik napas panjang seolah puas, sementara Sekar tetap meringkuk, membiarkan selimut menutupi wajahnya yang basah oleh air mata. Suara napas Reza masih berat, tapi bukan karena cinta. Itu adalah ledakan ego. Nafsu. Kepemilikan yang dibungkus dalih rasa takut kehilangan. Ia tidak berkata apa-apa saat mengenakan kembali pakaiannya. Kancing demi kancing ditutup dengan tenang, seolah yang baru saja terjadi hanyalah percakapan biasa—bukan paksaan. Bukan penghinaan terhadap cinta, martabat, dan tubuh. Sekar masih menangis. Tak bersuara, hanya sesekali tubuhnya berguncang. Ia memeluk lututnya sendiri, seperti berusaha mengecilkan tubuhn

