Aroma bawang tumis dan telur dadar yang baru matang menguar dari dapur mungil rumah mereka. Aluna berdiri di depan kompor, tangan kanannya menggenggam spatula, sementara tangan kirinya memegang ponsel yang diselipkan di antara telinga dan bahu. Suaranya terdengar jernih, agak tergesa, seperti sedang memaksakan diri agar tetap terdengar antusias. “Iya, Mbak Sisca. Aku bisa, kok. Syuting iklan lagi ya?” tanyanya sambil membalik telur. Dari ruang tamu, Reza duduk membaca koran. Kakinya bersilang santai, seolah pagi ini hanya miliknya sendiri. Tapi matanya melirik sedikit saat mendengar nama “Mbak Sisca” disebut. Ia tahu nama itu. Perempuan yang ngurus semua urusan endorsement dan kerjaan Aluna. “Lokasinya masih dibicarakan ya? Oh… Bandung?” suara Aluna sedikit meninggi, lalu turun pelan, “

