Keesokan harinya.. Pagi di Bandung menyambut dengan udara dingin yang menusuk, tapi juga segar. Aluna melirik jam tangannya—baru pukul sepuluh lewat lima belas. Ia baru saja turun dari mobil Reza, yang setelah mengantarnya ke hotel, hanya mencium keningnya singkat lalu pergi tanpa banyak kata. Sejenak, Aluna berdiri di depan lobi, menatap mobil suaminya menjauh. Hatinya… aneh. Seperti ada lubang kecil yang belum tertutup. Tapi ia menepis perasaan itu dan melangkah masuk. Interior hotel terasa hangat dan mewah. Di salah satu sofa panjang dekat dinding kaca, ia melihat sosok familiar. “Mbak Sisca!” sapa Aluna sambil tersenyum. “Eh, Lun! Cepet banget nyampenya. Yuk, kita ngobrolin konsep iklannya dulu,” ajak Mbak Sisca antusias. Mereka larut dalam pembahasan—tentang mood syuting, wardrob

