Ponsel Reza bergetar berkali-kali di dalam saku celananya. Tapi ia tidak berniat melihatnya. Layar menyala hanya sekejap, menampilkan nama yang ia kenal baik: Aluna. Ia tekan tombol silent. Lagi. Sekarang bukan waktunya. Ia baru saja meninggalkan hotel tempat ia mengantar istrinya. Tanpa pelukan, tanpa kedekatan, hanya kening yang disentuh sejenak. Dan kini, ia melaju ke arah lain—menuju kontrakan Sekar. Kontrakan yang cukup besar untuk dimasuki mobil, dengan halaman mungil tempat anak-anak bermain. Di sanalah Sekar berdiri ragu, mengenakan blus tipis dan celana longgar, rambut dikuncir rendah. Wajahnya polos. Lelah. Tapi tetap saja cantik, dan itu cukup membuat Reza kehilangan napas. “Ayo ikut. Aku ajak jalan,” kata Reza dari balik jendela mobil. “Mas, ngapain sih kayak gini? Aku… g

