Hujan mengguyur jalan kecil di depan kontrakan Sekar. Udara lembap menempel di kulit, dingin, namun tak mampu menyejukkan kepala yang terasa panas oleh pikiran yang berseliweran tanpa henti. Sekar menuruni mobil perlahan, menahan berat tubuhnya sendiri seperti ingin mengulur waktu. Reza menyusul di belakang, membawa kantong belanja yang tadi penuh dengan pakaian dan mainan anak-anak. Wajahnya masih tenang, bahkan sedikit puas—seolah hari ini adalah kemenangan kecil baginya. Begitu masuk ke dalam kontrakan, Sekar segera melepas sandal dan menutup pintu. Ia berdiri sejenak, menatap dinding kosong di depannya. “Mas,” ucapnya pelan. “Kita harus ngomong.” Reza meletakkan belanjaan ke sofa. “Tentang Bu Ramlah?” Sekar mengangguk. “Iya. Dia curiga. Dia tahu aku bukan perempuan yang semestinya

