Beberapa jam sebelum tubuhnya terlentang di atas ranjang hotel, Aluna berdiri di balik layar studio syuting, mengenakan setelan modis yang sudah dipersiapkan tim wardrobe. Sinar matahari siang menembus kaca besar di belakangnya, memantulkan bayangan dirinya yang terlihat rapi—namun gelisah. Sejak makan siang tadi, Aluna tak bisa tenang. Ponselnya ia cek berkali-kali, tapi layar tetap kosong. Tak ada pesan. Tak ada panggilan balik. Sudah hampir dua puluh kali ia menelepon Reza, dan tak satu pun dijawab. Suaminya… benar-benar menghilang. “Aluna,” suara Rico membuyarkan lamunannya. “Lo kenapa sih? Gelisah banget dari tadi.” Aluna hanya menggeleng pelan, berusaha menyembunyikan kepanikan yang semakin menggunung di dalam dadanya. Tapi Rico sudah mengenalnya terlalu lama untuk nggak sadar.

