Ponsel itu terus berdering di tangan Aluna. Jantungnya masih berdebar hebat, seolah detak itu ikut memantul dari dinding lorong yang dingin. Nafasnya belum stabil, masih tersengal-sengal—sisa dari ciuman yang terlalu liar, terlalu mendadak, dan terlalu dalam. Ia memejamkan mata, menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan-lahan. Sekali. Dua kali. Usahanya sia-sia. Degup itu tetap berisik. Tangannya gemetar, tapi bukan karena cuaca. Ia melirik Rico yang berdiri tak jauh darinya, masih bersandar santai ke dinding, menatapnya lekat-lekat. Bibir pria itu melengkung pelan, geli, seolah tahu persis kekacauan yang sedang berkecamuk dalam kepala Aluna. Rico tidak bicara. Tidak bergerak. Tapi sorot matanya cukup untuk bicara banyak hal. ‘Gue tahu lo lagi bimbang. Tapi lo juga tahu, g

