Ponsel di tangan Aluna nyaris terjatuh. Matanya membelalak saat membaca pesan itu: Reza: “Sayang, aku udah di depan kamar. Kok nggak dibukain?” Tubuhnya menegang. Ia mematung di tengah kamar Rico, hanya bisa menatap layar dengan tangan gemetar. “Reza…” gumamnya lirih. “Dia udah di depan kamar.” Rico, yang baru saja mengenakan kausnya, langsung mendekat. “Dia nunggu di lorong?” Aluna hanya mengangguk, wajahnya pucat. Tanpa pikir panjang, ia buru-buru menelepon Reza. Sambungan terangkat dalam hitungan detik. “Sayang, kamu di mana?” suara Reza terdengar cemas tapi masih lembut. Aluna mengatur napas. “Maaf, aku tadi keluar sebentar. Udara kamar pengap, kepala aku pening. Aku jalan-jalan sebentar keluar hotel.” “Hah? Ke luar hotel?” tanya Reza, terdengar bingung. “Aku kira kamu di kam

