Langit pagi masih pucat, diselimuti kabut tipis yang menggantung rendah di antara atap rumah-rumah kontrakan. Suara burung pipit bersahut-sahutan di kejauhan, bersaing dengan deru motor para pekerja yang mulai sibuk dengan aktivitas hariannya. Sekar berdiri di ujung antrean. Di tangannya ada kantong kain kecil berisi dompet dan kunci rumah. Wajahnya tanpa riasan, hanya sedikit bedak yang menempel tipis. Rambutnya diikat sederhana, mengenakan kaus lengan panjang dan celana longgar. Dari kejauhan, ia tampak seperti ibu rumah tangga biasa—yang tengah mengantri untuk membeli bubur ayam. Tapi isi pikirannya tak sesederhana itu. Di depannya, belasan orang menunggu giliran. Beberapa di antaranya membawa anak kecil yang sudah rewel minta makan. Yang lain sesekali melihat jam tangan, mungkin tak

