Kok Mbak tau nama saya… Aji?” Pertanyaan itu jatuh ringan dari bibir pemuda itu, tapi bagi Sekar, rasanya seperti tamparan yang mendarat telak di pipinya. Ia terdiam. Napasnya tercekat. Untuk sesaat, pandangannya kabur—bukan karena silau matahari pagi, tapi karena kenyataan yang menyeruak begitu saja di hadapannya. Bukan. Ini bukan Mas Aji. Ini bukan lelaki yang dulu menggenggam tangannya di pelaminan. Bukan suara yang memanggil namanya dengan lembut setiap pagi. Bukan mata yang menatapnya penuh harap saat melihat dua garis merah di test pack pertama mereka. Mas Aji sudah tiada. Sudah lama. Sudah bertahun-tahun lalu, terkubur bersama luka yang masih belum benar-benar sembuh. Dan pemuda di hadapannya ini… hanya kebetulan. Kebetulan bernama. Kebetulan rupa. Tapi bukan dia. Sekar menun

