Keesokan harinya, pagi datang dengan warna langit yang bersih dan aroma embun yang menyegarkan. Di sebuah gang kecil di pinggir kota, roda gerobak bubur ayam mulai berderak, didorong perlahan menuju ujung jalan. Sekar mengenakan kaus panjang yang digulung di lengan dan celana bahan yang dilipat setengah betis. Rambutnya diikat seadanya, dan wajahnya tanpa riasan. Tapi sorot matanya penuh tekad. Di belakangnya, stroller besar yang berisi Naya dan Nara bergerak mengikuti irama langkah—keduanya masih tertidur lelap, kepala bersandar ke kanan dan kiri. “Berat, ya?” tanya Bu Norma sambil ikut mendorong gerobak dari samping. “Enggak kok. Saya biasa dorong galon dua biji,” jawab Sekar ringan, lalu tersenyum. Bu Norma tertawa kecil, kagum dengan keluwesan Sekar. “Wah, kuat juga ya kamu ini. Lu

