Pagi di rumah Reza dan Aluna tak diiringi suara tawa, tidak pula sapaan hangat atau aroma sarapan dari dapur. Yang ada hanya dingin. Dingin yang menggantung di udara, dingin yang menyelimuti ruang makan yang rapi tapi sunyi. Reza duduk di meja makan dengan ekspresi gelap. Tangan kirinya menggulir layar ponsel, sementara tangan kanan menggenggam cangkir kopi yang sudah dingin sejak sepuluh menit lalu. Bukan karena lupa, tapi karena pikirannya ada di tempat lain. Kotak masuk emailnya terbuka. Tak ada notifikasi baru. Tidak dari Sekar. Tidak sejak kemarin sore. Biasanya, Sekar akan langsung membalas pesannya dalam waktu kurang dari satu jam. Bahkan kalau dia sedang sibuk, minimal akan kirim emoji atau “nanti aku balas, Mas.” Tapi kali ini, hening. Seolah Sekar menghilang begitu saja. Reza

