Hari itu langit mendung, tapi hati Sekar terasa lebih ringan dari biasanya. Ia baru saja pulang dari lapak bubur ayam Bu Norma, masih mengenakan apron lusuh yang penuh bercak kuah. Tangan dan kakinya pegal, tapi senyum kecil sempat menyelinap saat ia mengunci pintu pagar kontrakan. Suara anak-anak yang bermain di ujung gang, aroma masakan dari dapur tetangga, dan sapaan singkat di seberang rumah—semuanya terasa seperti pengingat bahwa hidup, setidaknya hari ini, tidak sedang menghunuskan belati ke arahnya. Sekar masuk ke dalam rumah, meletakkan tas belanja di atas meja, dan duduk di kursi kayu sambil menarik napas panjang. Ponselnya tergeletak di meja. Sejak pagi, ia sengaja membiarkannya tertinggal. Ia butuh hari ini. Hari tanpa notifikasi. Tanpa tekanan. Tanpa Reza. Pagi tadi ia baru

