Bab 2| Pesona Janda

1236 Kata
Langit siang itu masih mendung. Sisa gerimis membasahi halaman kontrakan Sekar, menciptakan genangan kecil yang memantulkan bayangan tubuhnya yang tampak lelah. Ia berdiri di depan rumah Buk Ramlah, hatinya penuh harap bahwa kali ini wanita itu akan memenuhi janjinya. Namun, seperti yang sudah bisa ditebak, Buk Ramlah masih berkilah. “Astaghfirullah, Sekar! Aku ini juga lagi banyak kebutuhan, tahu? Kamu pikir aku enggak pusing bayar uang sekolah anak?” Buk Ramlah menggeleng-geleng dengan ekspresi dibuat-buat, tangan berkacak pinggang. “Kalau punya uang mah, pasti aku udah bayar!” Sekar menarik napas dalam, mencoba menahan kesabarannya. “Tapi Buk, ini udah lebih dari sebulan. Saya juga butuh uang buat makan anak-anak.” Buk Ramlah mendengus keras, jelas tak suka ditekan. “Kamu kira aku doang yang utang? Semua orang di sini juga suka ngutang, tapi kenapa cuma aku yang kamu tagih terus?” Sekar semakin geram. “Karena yang lain masih nyicil, Buk. Sedangkan Ibu…” “Astaga, ini janda nyolot amat!” Buk Ramlah menuding tajam. “Dulu-dulu, pas suamimu masih hidup, enggak gini deh kelakuanmu!” Baru saja Sekar ingin menjawab, suara deru motor terdengar. Seorang pria bertubuh besar turun dari motornya, menghampiri mereka. Suami Buk Ramlah. “Ada apa ribut-ribut?” tanyanya dengan suara berat. “Bang! Ini loh, Sekar ribut minta utang!” Buk Ramlah langsung mengadu. Pria itu memandang Sekar sekilas, lalu merogoh dompetnya. Tanpa banyak bicara, ia menyodorkan beberapa lembar uang kepada Sekar. “Ini, lunasin aja biar enggak ada masalah.” Buk Ramlah sontak melotot. “Bang, kok abang malah bayarin?! Jangan bilang abang udah kepincut sama janda ini!” Sekar terkejut mendengar tuduhan kasar itu. “Buk, saya cuma minta hak saya!” Buk Ramlah mendengus, menatapnya penuh curiga. Lalu, dengan suara lantang, ia berteriak ke arah para tetangga yang mulai keluar karena keributan. “Hati-hati kalian sama janda satu ini! Suka cari perhatian suami orang!” Sekar terdiam. Hatinya panas, tapi ia tahu, melawan hanya akan membuatnya semakin dikucilkan. Perkataan itu menggema di kepalanya, menusuk lebih dalam dari yang seharusnya. Apakah ini hanya tuduhan kosong dari mulut pedas Buk Ramlah? Atau… Pikiran Sekar berputar kembali ke kejadian tadi malam di toko Reza. Perasaan tak enaknya benar-benar terjadi. Saat itu, ia duduk di bangku kayu kecil di dalam toko, menunggu hujan mereda. Reza duduk di sebelahnya, lebih dekat dari seharusnya. Sekar hanya diam, berusaha tidak menatap pria itu terlalu lama. Tapi tanpa peringatan, Reza tiba-tiba bergerak. Tangannya terulur, menyampirkan helaian rambut basah Sekar ke belakang telinganya. Gerakan itu begitu halus, begitu perlahan, seakan dilakukan dengan penuh kesadaran. "Ada kotoran di rambut kamu," katanya. Sekar tersentak. Jantungnya mencelos, napasnya tercekat. Ia tidak menyangka. Tanpa pikir panjang, ia segera menjauhkan diri, menarik tubuhnya dari jarak yang terlalu dekat itu. Tak ingin membiarkan situasi semakin canggung, ia buru-buru berdiri, lalu menggendong kedua anaknya. “Makasih, Mas, udah mau ngutangi saya s**u sama beras.” Suara Sekar terdengar bergetar, entah karena kedinginan atau karena rasa tidak nyaman yang tiba-tiba menghantuinya. Beruntung, sebelum ada kata-kata lain yang keluar dari mulut Reza, seorang pembeli masuk. Sekar lega bukan main. Tanpa menunggu lebih lama, ia langsung pamit dan pergi, berusaha mengabaikan tatapan yang terasa masih mengikuti punggungnya hingga keluar dari toko. Sekarang, berdiri di hadapan tatapan penuh tuduhan Buk Ramlah dan para tetangga Sekar bergidik ngeri. “Apa jadinya kalau sampai aku ketahuan berduaan gitu sama Mas Reza?” Padahal, ia sama sekali tidak berniat menggoda siapa pun. Tapi di mata orang-orang, apakah mereka akan percaya? Sekar hanya bisa menunduk, menggenggam erat uang di tangannya, lalu berbalik pergi. ** Sementara di rumah mewah yang kontras dengan kehidupan Sekar, Reza duduk di sofa dengan ekspresi bosan. Matanya menatap ke arah istrinya, Aluna, yang masih sibuk dengan ponselnya. Bukan hanya sibuk—Aluna seolah hidup di dalam layar itu. Jarinya lincah mengedit foto, memilih filter, dan sesekali tersenyum kecil saat melihat hasilnya. Dalam sekejap, ia menuliskan caption panjang tentang “self-love” dan “bahagia itu sederhana,” lalu menekan tombol unggah. Reza memutar bola matanya. Ironis. Dari luar, rumah tangga mereka terlihat sempurna. Aluna dikenal sebagai selebgram yang sering membagikan momen manis bersama suaminya. Foto-foto mereka berdua, video mesra, hingga potret sarapan pagi yang seolah dibuat dengan cinta. Tapi kenyataannya? Aluna lebih sering sibuk membagikan kebahagiaan yang bahkan tidak ia rasakan sendiri. Padahal, dulu semuanya tidak seperti ini. Reza dan Aluna adalah pasangan yang menikah muda. Mereka sama-sama berjuang dari nol, meniti hidup dari gaji pas-pasan. Dulu, Reza bekerja sebagai pegawai bank. Gajinya cukup untuk hidup sederhana, tapi ia selalu merasa itu bukan yang ia inginkan. Ia ingin lebih. Lalu, dengan nekat, ia keluar dari pekerjaannya dan memutuskan untuk membuka usaha grosir kecil-kecilan. Awalnya, Aluna menentang. “Gimana kalau usaha ini gagal?” katanya waktu itu. Tapi Reza meyakinkannya. “Kita pasti bisa. Kamu percaya sama aku, kan?” Dan benar saja, perlahan usaha mereka berkembang. Tidak hanya karena kerja keras Reza, tetapi juga karena peran Aluna yang saat itu mulai aktif di media sosial. Aluna mempromosikan usaha mereka, membuat konten, membangun citra sebagai pasangan muda yang sukses. Mereka mulai dikenal di lingkungan sekitar. Usaha grosir mereka semakin besar. Sampai akhirnya, mereka menjadi salah satu keluarga paling terpandang di sana. Namun, di saat segalanya tampak sempurna, ujian datang. Selama lima tahun menikah, Aluna pernah sekali keguguran. Dan setelah kejadian itu, mereka belum dikaruniai anak lagi. Mereka jarang membahasnya secara langsung, tetapi Reza tahu, ada sesuatu yang berubah setelah itu. Aluna semakin sibuk dengan pekerjaannya sebagai selebgram. Ia menutupi luka dan kekosongan hatinya dengan mengalihkan perhatian ke sosial media, konten, dan endorse-an. Sementara Reza… Ia mulai merasa kehilangan sesuatu yang dulu ada di antara mereka. Reza menyandarkan tubuhnya ke sofa, lalu berdeham pelan. “Sayang, udah makan?” Aluna tidak langsung menjawab. Jarinya tetap sibuk, matanya tetap tertuju pada layar. “Nanti aja, masih ngedit. Ini penting.” Reza mendesah, lalu bangkit dari sofa. Ia berjalan mendekat, lalu menyandarkan dagunya di bahu istrinya, sedikit menggoda. “Sekali-kali, kita makan bareng dulu tanpa gangguan handphone, gimana?” bisiknya dengan suara rendah. Aluna hanya menoleh sekilas, tersenyum tipis, lalu kembali ke ponselnya. “Mas, ini kerjaanku. Kalau aku enggak aktif, endorse-an bakal turun,” katanya datar. Reza mengembuskan napas panjang. Alasan yang sama. Jawaban yang sama. Ia tahu Aluna sibuk. Ia tahu pekerjaannya sebagai selebgram memang menuntutnya untuk selalu online, tapi apakah ia harus selalu menjadi pilihan terakhir? Reza bukan pria yang haus perhatian berlebihan, tapi… apa salahnya meminta sedikit waktu dari istri sendiri? Ia duduk di samping Aluna, lalu dengan santai menyentuh paha istrinya. “Kalau makan enggak bisa, mungkin kita bisa ngelakuin hal lain.” Aluna mendongak sebentar, lalu menatapnya dengan tatapan malas. “Mas, aku capek.” Reza menaikkan satu alis. “Tiap hari capek?” Aluna tidak menjawab. Dia kembali menatap layar ponselnya, menyusun caption untuk foto terbaru. Reza menghela napas, kecewa tapi tidak terkejut. Dia menyandarkan tubuhnya ke sofa, tangannya masih di paha Aluna, namun istrinya bahkan tidak peduli. Seakan sentuhannya tidak lebih menarik dibanding likes dan komentar di i********:. “Jangan gitu, dong…” suara Reza sedikit merajuk, tangannya mulai bergerak lebih berani. Tapi Aluna malah menarik napas panjang dengan kesal. “Mas, stop. Aku lagi kerja.” Reza menatapnya lama, lalu menyingkirkan tangannya dengan gerakan malas. Ya, begini lagi. Selalu begini. “Aku keluar sebentar,” katanya akhirnya, tanpa menunggu jawaban dari Aluna. Ia mengambil jaket dan kunci motornya, lalu melangkah pergi. Dan seperti yang sudah bisa ia tebak, Aluna bahkan tidak menoleh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN