Bab 3| Mas Reza

1215 Kata
Reza mengendarai motor Scoopy kesayangannya dengan santai, melaju di jalanan kampung yang tak begitu ramai siang itu. Matahari bersinar cukup terik, membuatnya sedikit menyipitkan mata meski tak menghentikan senyum tipis yang biasa menghiasi wajahnya. Meski di rumah ia merasa diabaikan, di luar ia tetaplah sosok yang dikenal ramah dan menyenangkan. Postur tubuhnya tegap, dengan tinggi sekitar 180 cm yang semakin membuatnya menonjol di antara pria-pria lain di kampung itu. Kulitnya sedikit kecokelatan, bukti bahwa ia bukan pria yang hanya berdiam diri di dalam ruangan. Dengan rahang tegas, hidung mancung, dan mata tajam yang sedikit sayu, Reza adalah tipe pria yang mudah menarik perhatian—terutama para ibu-ibu yang sering kali membicarakannya sebagai suami idaman. Namun, daya tarik Reza bukan hanya dari fisiknya. Ia memiliki sikap yang rendah hati, mudah bergaul dengan siapa saja. Ia bisa bercanda dengan bapak-bapak di pos ronda, duduk mengobrol dengan pemuda-pemuda kampung, hingga menerima pujian terselubung dari ibu-ibu yang iri dengan Aluna, istrinya. Meski begitu, tak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa pernikahannya dengan Aluna tak seperti yang terlihat. Setelah merasa cukup berkeliling, Reza berniat mencari tempat makan atau sekadar ngopi di warung langganannya. Namun, niatnya terhenti ketika suara gaduh menarik perhatiannya. Di ujung jalan, ia melihat kerumunan kecil dengan seorang wanita yang berdiri di tengahnya. Dari kejauhan, ia langsung mengenali sosok itu—Sekar. Ia mengernyitkan dahi sebelum akhirnya memarkirkan motornya di pinggir jalan. Penasaran, ia bertanya pada seorang pria yang juga ikut menonton keributan. “Ada apa ini?” tanyanya santai, meski matanya tetap fokus mengamati Sekar yang sedang berhadapan dengan Buk Ramlah. Pria di sebelahnya menoleh sekilas sebelum berbisik, “Si Sekar. Katanya nagih utang ke Buk Ramlah, tapi malah dituduh suka godain suami orang.” Reza mengangkat alisnya. “Sekar?” “Iya. Ada yang percaya, ada juga yang nggak. Soalnya, kayaknya nggak mungkin sih. Sekar itu orangnya pendiam, jarang banget kelihatan ngobrol sama laki-laki. Apalagi sejak dia jadi janda.” Reza mengangguk kecil, tapi pikirannya melayang ke kejadian semalam—momen di mana ia hanya berdua dengan Sekar di dalam tokonya. Saat itu, Sekar datang dengan wajah lelah, meminta waktu sebentar untuk berteduh karena hujan deras. Daster yang dikenakannya basah di beberapa bagian, menempel pada tubuhnya. Reza yang awalnya tak banyak berpikir tiba-tiba menyadari detail yang sebelumnya tak pernah ia perhatikan. Garis tubuh Sekar yang tersembunyi di balik dasternya, rambut basah yang menempel di pipinya, serta aroma samar sabun yang entah bagaimana terasa begitu menggoda. Sekar terlihat canggung, jelas ia tidak nyaman. Tapi bagi Reza, momen itu justru terasa aneh—seperti ada sesuatu yang mengusik nalurinya sebagai pria. Biasanya, ia tidak pernah tergoda semudah ini. Wanita cantik sudah sering ia temui, baik di tempat kerja maupun di lingkungannya. Tapi entah kenapa, dengan Sekar, perasaan itu muncul begitu saja. Ada keinginan untuk menguji sejauh mana Sekar bisa bereaksi terhadapnya, apakah ia akan menunjukkan ketertarikan atau justru semakin menjauh. Tapi, Sekar tetaplah Sekar. Ia hanya duduk diam, merapatkan dasternya yang basah, menunduk tanpa banyak bicara. Sama sekali tidak ada gestur menggoda atau usaha untuk menarik perhatiannya. Lamunan Reza buyar ketika pria di sebelahnya menegurnya, “Jadi, menurut lo, bener nggak sih Sekar suka godain laki orang?” Reza tersenyum tipis. “Gue rasa nggak,” jawabnya santai. Ia tahu Sekar bukan wanita seperti itu. Tapi jika Sekar benar-benar bisa menggodanya… ah, alangkah menyenangkannya. Sayangnya, ia tahu Sekar terlalu polos untuk melakukan hal semacam itu. ** Sekar melangkah lemas menuju rumah kontrakannya yang sempit. Di tangannya, lembaran uang 300 ribu yang baru saja ia dapatkan dari Buk Ramlah terasa begitu berat. Bukan karena jumlahnya yang kecil, tetapi karena cara ia mendapatkannya—dengan hinaan, tuduhan, dan tatapan penuh curiga dari orang-orang sekitar. “Perempuan nggak tahu malu!” “Dasar janda penggoda!” “Jangan sok suci, semua orang juga tahu caramu!” Bisikan-bisikan itu masih terngiang di kepalanya. Padahal, yang ia lakukan hanya menagih uangnya sendiri. Namun, justru dirinya yang dipermalukan di depan banyak orang. Sesampainya di rumah, Sekar segera mengunci pintu rapat-rapat. Matanya beralih ke dua bayi kembarnya yang tertidur pulas di ayunan sederhana. Wajah mungil mereka terlihat begitu damai, seakan tak menyadari betapa sulitnya kehidupan yang sedang mereka jalani. Sekar mendekat, membelai lembut kepala keduanya sebelum duduk bersimpuh di lantai. Tangannya meraih foto yang terbingkai rapi di dekat ayunan—foto Mas Aji. Senyum lelaki itu masih sama seperti yang ia ingat, hangat dan menenangkan. “Mas…” suara Sekar bergetar. “Harusnya aku ikut kamu aja… Hidupku makin susah setelah kamu nggak ada…” Air mata mulai menetes di pipinya. Hampir setiap malam ia menangis seperti ini. Mengadu pada sosok yang sudah tak bisa lagi menjawabnya. Dulu, hidupnya memang sederhana, tapi ia bahagia. Mas Aji bukan pria kaya, hanya seorang pengemudi ojek online. Tapi ia pria yang baik, setia, dan bertanggung jawab. Ia tak pernah membiarkan Sekar merasa sendirian dalam menghadapi kesulitan. Saat Mas Aji meninggal karena kecelakaan, Sekar masih mencoba tegar. Ia berpikir, dengan uang asuransi yang diterimanya, ia bisa bertahan. Ia membuka usaha kecil-kecilan, berharap bisa memutar kembali uang itu agar tetap bisa menghidupi anak-anaknya. Tapi kenyataan jauh lebih kejam. Sekar bukan wanita yang cerdas dalam berdagang. Ia mudah percaya pada orang lain, hingga akhirnya banyak yang menipunya. Belum lagi ibu-ibu seperti Buk Ramlah yang berutang tanpa niat membayar. Sedikit demi sedikit, uang itu habis tak tersisa. Sekar mengusap air matanya. Ia sadar, dirinya bukan orang berpendidikan tinggi. Lulusan SMP, tanpa keterampilan khusus, tanpa dukungan siapa pun. Apa yang bisa ia lakukan selain bertahan? Tapi sampai kapan? Hatinya berteriak dalam keputusasaan. “Sampai kapan aku harus hidup seperti ini, Mas? Aku capek… Aku benar-benar capek…” Ia menatap foto Mas Aji dengan mata sembab. “Dulu, kita memang nggak kaya… tapi aku bahagia, Mas. Kita selalu berjuang bersama. Aku nggak pernah merasa sendirian… Aku bisa tertawa, meskipun cuma makan nasi dengan tahu goreng… Tapi sekarang? Sekarang aku bahkan nggak tahu besok anak-anak mau makan apa!” Ia menggigit bibirnya, menahan isakan agar tidak membangunkan si kembar yang masih terlelap. “Kenapa orang-orang jahat sama aku, Mas? Aku cuma mau menagih hakku, tapi malah dibilang perempuan nggak tahu malu. Aku nggak pernah ganggu suami orang, tapi kenapa mereka nuduh aku begitu? Aku ini janda, Mas… apa salah jadi janda?” Dadanya naik turun dengan napas yang tak beraturan. “Aku ini perempuan, Mas. Aku nggak bisa kerja kasar kayak laki-laki. Aku nggak punya ijazah tinggi buat cari kerja yang layak. Aku cuma mau dagang kecil-kecilan, tapi malah ditipu orang. Semua habis… Semua hilang… Aku beneran nggak punya apa-apa lagi, Mas…” Sekar memeluk lututnya, tubuhnya bergetar menahan tangis yang semakin pecah. “Apa aku memang harus mati aja? Kalau aku nggak ada, mungkin orang-orang nggak akan mengataiku lagi. Kalau aku mati, aku bisa ketemu Mas Aji lagi… Aku bisa lepas dari semua ini… Tapi anak-anak? Aku nggak tega, Mas… Aku nggak tega ninggalin mereka sendirian di dunia ini…” Tangannya mencengkeram dasternya sendiri, menahan rasa sakit yang tak lagi bisa ia bendung. Ia merasa benar-benar terpojok, tak ada jalan keluar. Saat pikirannya semakin tenggelam dalam keputusasaan, tiba-tiba… Tok! Tok! Tok! Suara ketukan di pintu membuatnya tersentak. Sekar menghapus air matanya dengan cepat. Jantungnya berdegup kencang, entah kenapa firasatnya tidak enak. Ia bangkit dengan lemas, melangkah pelan menuju pintu, lalu membukanya. Begitu melihat siapa yang berdiri di depan pintunya, napasnya hampir tercekat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN