Bab 4| Semakin Kepikiran

1001 Kata
Ketukan keras menggema di pintu kayu lapuk itu, disusul suara gedoran kasar yang membuat Sekar tersentak. Dengan jantung berdebar, ia buru-buru membuka pintu, dan di hadapannya berdiri seorang wanita paruh baya dengan wajah masam dan mata menyipit penuh kemarahan. “Akhirnya buka juga!” Wanita itu—Bu Darmi, pemilik kontrakan—langsung menyelonong masuk tanpa diundang. “Mana uang kontrakanmu, Sekar? Udah dua bulan kamu nunggak! Jangan pura-pura nggak tahu!” Sekar menelan ludah, tubuhnya gemetar. “Saya… saya cuma punya tiga ratus ribu, Bu. Saya janji akan bayar sisanya bulan depan, tolong beri saya waktu sedikit lagi…” Bu Darmi menyipitkan matanya dengan tatapan jijik. “Tiga ratus ribu?! Dikiranya ini kos-kosan murahan? Kalau nggak bisa bayar lunas, angkat kaki dari sini! Jangan cuma bisa nangis dan mengemis, tapi kerjaanmu cuma ongkang-ongkang kaki nunggu belas kasihan orang!” “Nggak, Bu… saya nggak malas, saya juga kerja… saya dagang kecil-kecilan,” Sekar mencoba membela diri, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Dagang? Dagang apaan? Jualan belas kasihan?” Wanita itu mendecakkan lidah. “Udah tahu nggak punya suami, cari kerja yang bener! Bukannya cuma nangis dan meratap setiap hari!” Sekar menggeleng keras, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. “Saya nggak malas, Bu… Saya juga nggak mau hidup begini. Tapi saya nggak punya siapa-siapa lagi…” “Bukan nggak punya siapa-siapa, tapi nggak punya otak buat mikir! Kalau beneran niat, cari laki-laki yang bisa nanggung hidupmu! Atau—” Bu Darmi mendengus, menatap Sekar dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan. “Apa kamu terlalu jual mahal? Jadi janda tuh jangan sok suci! Daripada hidup susah begini, mending cari laki-laki yang bisa kasih makan kamu dan anak-anakmu!” Sekar tersentak, wajahnya memucat. Kata-kata itu begitu menusuk, membuat dadanya terasa sesak seperti diremas. Seakan belum cukup, Bu Darmi melanjutkan, “Lagian, lihat diri kamu! Nggak heran kalau orang-orang ngecap kamu janda penggoda. Udah janda, nggak punya uang, tapi masih aja jual tampang lugu! Kalau aku jadi kamu, udah dari dulu cari suami baru. Biar nggak nyusahin orang!” Sekar menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha menahan tangis yang hampir pecah. “Tolong, Bu… beri saya waktu sedikit lagi…” “Waktu?!” Bu Darmi mendengus kasar, lalu tiba-tiba mendorong Sekar dengan kuat. Sekar nyaris terjengkang, tubuhnya menabrak kasur tipis di lantai, membuat si kembar terbangun dan menangis keras. “Nggak ada waktu lagi! Kalau nggak ada uang minggu depan, angkat kaki dari sini! Dasar janda nggak tahu diri!” Setelah meludah ke lantai, Bu Darmi berbalik dan keluar dengan langkah menghentak, meninggalkan Sekar yang terduduk lemas di lantai. Tangannya gemetar saat mencoba menenangkan anak-anaknya yang masih menangis ketakutan. Air matanya akhirnya tumpah, membasahi pipinya yang sudah pucat. Sekar memeluk kedua anaknya erat, tubuhnya bergetar hebat. Ia benar-benar berada di jalan buntu. ** Reza pulang lalu memarkir motornya di garasi rumahnya yang luas. Begitu melepas helm, matanya langsung menangkap sosok Aluna di dekat mobilnya. Wanita itu tampak sibuk memasukkan beberapa tas dan barang ke dalam bagasi, persis seperti kebiasaannya. Entah untuk urusan endorse atau syuting dengan tim kreasinya, Reza sudah malas bertanya. Tadi pagi mereka sempat bertengkar kecil—perdebatan yang sebenarnya sepele, tapi tetap membuatnya kesal. Aluna selalu mengabaikannya, selalu terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Dan sekarang, tanpa rasa bersalah, dia kembali pergi begitu saja. Namun, saat Aluna melihatnya, raut wajahnya berubah lembut. Seolah sadar bahwa dia sudah terlalu keterlaluan tadi. Wanita itu mendekat, tangannya melingkari lengan Reza, dan dengan suara manja, ia berkata, “Sayang… aku minta maaf ya. Aku nggak sengaja tadi. Aku cuma lagi banyak kerjaan.” Suaranya lembut, penuh rayuan. Lalu tanpa menunggu jawaban, ia mulai menebar kecupan kecil di rahang dan pipi Reza, seolah tahu bahwa ini adalah cara paling efektif untuk meluluhkan suaminya. Reza diam sejenak. Rasa kesalnya perlahan luruh. Bagaimanapun, ini Aluna—istri yang masih dicintainya, wanita cantik yang selalu dibanggakan banyak orang. Tangannya terangkat, mengelus lembut rambut halus istrinya. Tapi di saat itulah, sesuatu yang ganjil terjadi. Di pikirannya, rambut yang ia elus itu bukan milik Aluna. Bayangan itu datang begitu saja, tanpa bisa ia cegah. Sekar. Rambut panjang Sekar yang semalam ia lihat dalam keadaan basah. Wajah Sekar yang terlihat lelah, tetapi tetap saja memikatnya. Reza mengerjap, sedikit terhenyak oleh pikirannya sendiri. Sial. Kenapa bayangan itu terus menghantuinya? Sekar bukan siapa-siapanya. Sekar hanya janda yang kebetulan ia temui di saat yang tepat. Tidak seharusnya ia kepikiran perempuan itu. Tapi nyatanya, ia tidak bisa mengendalikan pikirannya. Aluna masih sibuk memeluknya, mengusap dadanya dengan manja. Tapi Reza malah memikirkan perempuan lain. Matanya kosong, pikirannya melayang kembali ke malam sebelumnya. Saat Sekar berdiri canggung di hadapannya, saat daster yang ia kenakan basah dan membentuk lekuk tubuhnya. Saat ia merasakan ketegangan aneh yang selama ini tidak pernah ia rasakan dengan perempuan lain. Reza mengatup rahangnya rapat. Ini salah. Tapi semakin ia mencoba menepis pikiran itu, semakin jelas bayangan Sekar di kepalanya. Dan sialnya, ia menikmatinya. Aluna mengira semuanya sudah selesai setelah permintaan maafnya diterima. Tapi dia salah. Begitu Reza menatapnya dalam-dalam, ada sesuatu yang berbeda di sorot matanya. Bukan sekadar kehangatan atau kemesraan biasa, melainkan sesuatu yang lebih dalam—lebih liar, lebih mengancam. Sebelum Aluna sempat menarik napas, Reza sudah mendorongnya perlahan ke arah body mobil. “Mas Reza, aku harus pergi—” Kalimat itu menggantung saat tangan besar suaminya mencengkeram pinggangnya erat. Nafas hangat Reza terasa di lehernya, dan dalam hitungan detik, bibirnya sudah menyapu kulitnya, meninggalkan jejak panas di sana. Aluna tahu, sejak tadi pagi Reza memang menginginkannya. Dia juga tahu, jika sudah seperti ini, menolak bukanlah pilihan yang bijak. “Kita cepat saja, hm?” suara Reza terdengar rendah, nyaris seperti bisikan, tapi ada perintah tegas di dalamnya. Aluna menggigit bibir, setengah pasrah, setengah tersentak saat bibir suaminya semakin turun, tangannya semakin dalam menuntut haknya. Reza tidak sekadar menginginkan istrinya. Ada sesuatu dalam dirinya yang terasa lebih beringas kali ini. Seperti ada bara api yang harus segera dipadamkan. Dan Aluna, tanpa tahu bahwa bara itu sebenarnya berasal dari pikiran suaminya yang melayang ke wanita lain, hanya bisa menyerah pada keinginannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN