Bab 5| Mulai Obsesi ke Janda

1434 Kata
Reza duduk di tepi ranjang, meraih rokok dari laci kecil di sampingnya. Dengan gerakan santai, ia menyalakannya, mengisap dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya ke udara. Matanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar, sementara Aluna masih berbaring di sampingnya, tubuhnya berselimutkan kain tipis. Harusnya dia puas. Tapi tidak. Ada yang salah. Pelampiasan barusan tidak membuat pikirannya lebih jernih. Justru sebaliknya—ia semakin terjebak dalam kegelisahan yang tidak bisa dijelaskan. Bayangan Sekar masih menari di kepalanya. Sial. Reza mengerjap, menegakkan tubuhnya, lalu mengusap wajahnya dengan frustrasi. Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Kenapa justru Sekar yang ada di benaknya, bukan istrinya yang nyata-nyata masih terbaring di sebelahnya? Tadi, saat ia menatap Aluna, sentuhannya terasa berbeda. Ada momen di mana pikirannya menyamarkan sosok istrinya dengan Sekar. Itu salah. Tapi anehnya, bukannya merasa bersalah, Reza justru merasakan sensasi lain yang menegangkan. Dari sudut mata, Aluna menggeliat, kemudian mendekat ke arahnya dengan malas. “Kenapa merokok?” tanyanya dengan suara mengantuk. Reza mengetukkan ujung rokoknya ke asbak, lalu menoleh sekilas. “Kamu nggak jadi berangkat?” Aluna menepuk keningnya, mendesah kesal. “Astaga! Aku jadi telat gara-gara kamu!” omelnya sebelum bangkit dari ranjang. Reza hanya terkekeh kecil. “Ya udah, siap-siap sana. Nanti makin nyalahin aku.” Aluna mendengus, tapi tetap menuruti ucapannya. Dengan langkah cepat, ia menuju kamar mandi. Sekilas, Reza sempat melirik ke arahnya, memperhatikan tubuh istrinya yang masih mengenakan daster tipis sebelum akhirnya menghilang di balik pintu kamar mandi. Suara gemericik air terdengar tak lama kemudian. Sementara Aluna membersihkan diri, Reza mengisap rokoknya lagi, membiarkan pikirannya mengembara. Saat Aluna akhirnya keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah, ia buru-buru mengenakan pakaian, merapikan wajahnya sekadarnya, lalu mengambil tasnya dengan tergesa-gesa. Ketika Aluna hendak pergi, ia sempat mendekat untuk mengecup singkat bibir Reza. Namun, berbeda dari biasanya, Reza hanya diam. Tatapannya kosong, seperti tidak benar-benar menikmati momen itu. Aluna menyipitkan mata, menatapnya curiga. “Kamu kenapa sih? Masih ngambek?” Reza menghembuskan napas, tersenyum tipis. “Nggak apa-apa. Hati-hati di jalan.” Aluna masih ragu, tapi akhirnya mengangguk dan pergi. Begitu suara mesin mobil terdengar menjauh, Reza menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Ia memejamkan mata, tapi bayangan Sekar justru semakin jelas di kepalanya. Perlahan, sudut bibirnya tertarik membentuk senyum samar. ** Toko Reza siang ini cukup ramai. Tumpukan kardus berisi barang baru masih berserakan di sudut ruangan, menunggu untuk disortir. Reza menggulung lengan kemejanya hingga siku, kemudian mengambil cutter untuk membuka salah satu kardus besar di depannya. Di sebelahnya, Bang Arap—karyawan angkut di tokonya—sibuk memindahkan beberapa dus yang sudah dibuka. “Bos, ini ditaruh di rak yang biasa atau ada susunan baru?” tanyanya. Reza mengamati isi kardus tersebut, lalu mengangguk. “Taruh di tempat biasa aja, Bang. Nanti aku cek lagi.” Bang Arap mengangguk, kemudian mengangkat dus-dus itu satu per satu. Sementara itu, Reza kembali fokus pada barang-barang yang perlu disortir. Tangannya cekatan, tetapi pikirannya tidak sepenuhnya ada di sana. Sampai tiba-tiba, dari sudut matanya, ia melihat sosok Sekar melintas di depan tokonya. Janda muda itu berjalan perlahan, menggendong si kembar yang tampak tertidur di pelukannya. Namun, ada sesuatu yang berbeda—wajah Sekar terlihat lebih pucat dari biasanya, sorot matanya kosong, dan langkahnya berat. Reza menegakkan tubuhnya, dahinya berkerut. Ada apa lagi dengan wanita itu? “Sekar!” Wanita itu terkejut mendengar namanya dipanggil. Ia menghentikan langkahnya dan menoleh. Setelah melihat Reza, ia buru-buru mendekat, tampak sedikit canggung. Reza menyandarkan satu tangan di pinggangnya, tatapannya menelusuri wajah wanita itu—lelah, sendu, tapi tetap memiliki daya tarik yang sulit dijelaskan. Dan saat itu juga, sesuatu yang lebih mendebarkan menusuk benaknya. Bulir-bulir keringat di pelipis Sekar. Menetes perlahan, turun ke lehernya, lalu menghilang di balik kerah bajunya yang sedikit longgar. Reza menelan ludah. Entah otaknya yang mulai tidak beres atau bagaimana, tetapi pemandangan sederhana itu terasa begitu menggoda. Tidak ada yang spesial—hanya wanita yang kepanasan setelah berjalan di bawah terik matahari. Tapi kenapa, di matanya, itu terasa sangat… seksi? Leher jenjang itu, kulit yang sedikit lembap karena keringat, dan cara Sekar dengan polosnya mengangkat tangan untuk mengusap peluh di dahinya—semua itu memicu sesuatu yang mengganggu di kepala Reza. Astaga. Reza berdeham, mencoba mengusir pikirannya sendiri. “Kamu kenapa? Kelihatan capek banget.” Sekar tersenyum kecil, tapi jelas terlihat lelah. “Nggak apa-apa, Mas. Mungkin karena cuaca.” Reza masih meneliti ekspresi wanita di depannya, mencari sesuatu yang disembunyikannya. “Utangmu gimana?” tanyanya langsung. Sekar menggigit bibirnya, lalu menunduk. “Maaf, Mas… Masih belum bisa bayar sekarang. Tapi saya janji, bakalan tak bayar." Reza diam sejenak. Ia bisa saja langsung menawarkan bantuan—itu hal paling mudah yang bisa ia lakukan. Tapi entah kenapa, ada sisi dirinya yang ingin tahu lebih dalam. “Kamu yakin nggak ada masalah lain?” tanyanya dengan nada lebih pelan. Sekar menoleh, menatapnya dengan mata yang menyiratkan banyak beban. Tapi pada akhirnya, ia hanya menggeleng pelan. “Nggak ada kok, Mas.” Reza masih menatapnya, perasaan aneh merayap dalam dirinya. Ada keinginan untuk menggenggam wanita ini, menahannya agar tidak berusaha sendiri. Namun, sebelum ia sempat bicara lagi, beberapa pelanggan mulai memenuhi tokonya, memanggil-manggil namanya. Sekar melirik ke sekeliling, menyadari bahwa beberapa orang mulai memperhatikannya. Ada tatapan-tatapan penuh selidik, beberapa berbisik-bisik. Ia tidak ingin jadi bahan omongan lagi. “Saya pamit dulu ya, Mas.” Sekar buru-buru membalikkan badan dan melangkah pergi. Reza spontan mengulurkan tangan, ingin menahan wanita itu. “Sekar, tunggu—” Namun, suara pelanggan yang terus memanggilnya membuatnya terpaksa menoleh sebentar. Dan dalam hitungan detik, Sekar sudah menghilang di tikungan jalan. Reza berdiri diam di tempatnya, dadanya naik turun. Kenapa rasanya seperti kehilangan sesuatu yang berharga? Tapi lebih dari itu… Kenapa pikirannya masih dipenuhi bayangan Sekar? ** Sekar berjalan gontai ke sebuah warung kecil di sudut jalan yang tampak lebih hidup saat malam tiba. Warung kopi milik Resti bukan sekadar tempat nongkrong biasa. Banyak pria yang datang bukan hanya untuk minum kopi, tapi juga mencari hiburan dari para pelayan yang lebih sering menggoda daripada sekadar melayani. Resti, seorang wanita berusia awal tiga puluhan, berdiri di depan pintu warung dengan rokok terselip di jemarinya. Ia tampak kaget melihat Sekar mendekat. “Sekar? Tumben banget ke sini,” ujar Resti sambil menghembuskan asap rokok. Matanya yang dihiasi eyeliner tebal menelusuri wajah sendu wanita di depannya. “Jangan bilang mau nagih utang juga ke aku. Lagi gak ada duit, Say.” Sekar tersenyum lemah. “Aku nggak nagih utang, Resti…” suaranya terdengar lelah. “Aku lagi nyari kerjaan.” Resti menaikkan alisnya. “Kerja?” Sekar mengangguk. “Aku butuh uang. Kalau ada kerjaan di sini, aku mau.” Resti tertawa kecil, lalu menatap Sekar seolah memastikan dia serius. “Kamu sadar ini tempat apa?” Sekar mengangguk lagi. Ia tahu. Tempat ini tidak seperti warung kopi biasa. Banyak wanita yang bekerja di sini bukan hanya sekadar menyajikan minuman, tapi juga menggoda pelanggan demi tips lebih. Beberapa dari mereka bahkan membawa pelanggan keluar setelah jam kerja. Resti memperhatikan wajah letih Sekar dengan mata yang lebih serius. “Sebenarnya, apa yang terjadi? Kok sampai butuh kerja di tempat kayak gini?” Sekar menggigit bibirnya. Rasanya berat untuk menceritakan semuanya, tapi kalau tidak, bagaimana dia bisa meminta bantuan Resti? “Aku nggak punya uang, Res. Orang-orang di kampung ini nggak ada yang benar-benar peduli. Mereka cuma bisa nyinyir, ngegosip, nuduh aku macem-macem.” Sekar tersenyum miris. “Kamu tahu nggak? Aku dibilang penggoda suami orang. Cuma gara-gara ada yang bayarin utang istrinya ke aku.” Resti mendengus sinis. “Ya ampun, orang-orang kampung memang jagonya ngecap seenak jidat. Padahal kalau janda kayak kamu punya duit banyak, mereka pasti nempelin diri, sok baik. Tapi kalau lagi susah, langsung jadi bahan gosip.” Sekar menatap kosong ke arah meja. Resti menghisap rokoknya pelan, lalu mengembuskan asap ke udara. "Sekar, kamu dengerin aku. Aku ngerti keadaanmu susah, tapi… kamu yakin mau masuk ke dunia ini? Pelangganku bukan tipe yang cuma datang buat ngopi terus pulang.” Sekar menggigit bibirnya. Ia tidak pernah membayangkan dirinya bekerja di tempat seperti ini. Tapi ia juga tidak bisa membiarkan kedua anaknya kelaparan atau tidur di jalanan. “Aku cuma mau kerja. Melayani minuman, bantu bersihin warung. Aku nggak peduli yang lain. Kalau aku nolak mereka, nggak apa-apa kan?” Resti menatap Sekar lama, lalu menghela napas berat. “Ya nggak apa-apa sih. Ya udah. Tapi kamu harus siap kalau ada yang mulai rese.” Sekar mengangguk. “Aku siap.” Resti menepuk pundaknya. “Ya udah, besok sore datang aja. Kita lihat kamu bisa tahan atau nggak.” Sekar tersenyum kecil. Meski dalam hati, ia tahu, ini bukan pekerjaan yang ia harapkan. Tapi setidaknya, ia masih punya sesuatu untuk diperjuangkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN