Bab 6| Warung Plus-plus

1134 Kata
Esok sorenya... Sekar menarik napas panjang sebelum melangkah masuk ke warung kopi milik Resti. Warung itu lebih ramai dari yang ia bayangkan—penuh dengan pria-pria yang duduk berkelompok, mengobrol sambil merokok. Beberapa ada yang tertawa keras, sebagian sibuk dengan ponsel, sementara yang lain terlihat hanya menikmati kopi sambil mendengarkan musik dari speaker kecil yang menggantung di pojok ruangan. Aroma asap rokok bercampur dengan bau kopi hitam yang menguar dari dapur kecil di bagian belakang. Warung ini memang sederhana—hanya beberapa meja kayu panjang dan kursi plastik yang tersebar di dalam dan luar ruangan. Lampu temaram membuat suasananya terasa lebih suram, seperti memang tempat ini bukan sekadar warung kopi biasa. Resti menepuk bahu Sekar dengan ringan. “Kamu di dapur aja, ya. Gampang kok, paling cuma bikin kopi, gorengin mie, atau nasi. Aku yang urus pelanggan.” Sekar mengangguk, merasa sedikit lega karena tak perlu langsung berhadapan dengan mereka. Ia langsung menuju dapur kecil di belakang warung dan mulai bekerja, menyiapkan pesanan kopi dan makanan. Tangan Sekar lincah menggoreng mie dengan tambahan bumbu rahasianya. Meski ia tak pernah bekerja di warung sebelumnya, ia terbiasa memasak untuk anak-anaknya di rumah, jadi pekerjaan ini terasa tak begitu sulit. Tak butuh waktu lama sebelum salah satu pelanggan berkomentar, “Wah, mie gorengnya tumben enak banget, nih. Biasanya rasa mie instan doang.” Resti tertawa sambil melirik Sekar yang masih sibuk di dapur. “Ya iyalah, sekarang ada tukang masak baru.” Seorang pria dengan kemeja setengah terbuka menyipitkan mata ke arah dapur, mencoba mengintip siapa yang dimaksud. Saat melihat Sekar yang sedang mencuci piring dengan lengan baju tergulung, memperlihatkan kulit lengannya yang bersih, pria itu menyeringai. “Eh, yang baru itu si janda cantik itu, ya?” Sekar yang mendengar itu langsung merasa tak nyaman. Ia pura-pura tidak mendengar dan terus mencuci piringnya. Tapi pria itu justru berdiri dan berjalan ke arahnya. “Mbak, kopi saya enak banget. Mie-nya juga. Bisa nggak besok-besok dibikinin spesial buat saya?” katanya sambil menyandarkan satu tangan ke meja dapur. Sekar tersenyum tipis, berusaha bersikap sopan. “Semua pelanggan dapat yang sama, Mas.” “Ah, tapi kalau saya kan pelanggan spesial. Masa nggak ada layanan khusus?” pria itu menyeringai, suaranya terdengar menggoda. Sekar merasa risih, tapi ia menahan diri untuk tidak bersikap kasar. “Maaf, saya cuma kerja di dapur.” Pria itu tertawa kecil, lalu mendekat sedikit. “Jangan gitu, dong. Kalau butuh tambahan uang, tinggal bilang aja. Bisa kok, saya bantu.” Sekar merasakan bulu kuduknya meremang. Ia mundur selangkah, tapi pria itu semakin berani. “Udah, Bang. Jangan ganggu dia.” Resti tiba-tiba muncul, berdiri di antara mereka. Nada suaranya terdengar santai, tapi ada ketegasan di dalamnya. “Kalau mau godain orang, godain aku aja. Kan aku lebih seru.” Pria itu tertawa, mengangkat kedua tangannya. “Ya ampun, Resti, kamu cemburu? Ya udah deh, aku bercanda doang kok.” “Bercanda ya bercanda, tapi jangan rese.” Resti menepuk bahunya dengan cukup keras sebelum menyuruhnya kembali ke meja. Sekar menghela napas lega, tapi saat ia melirik ke ruangan utama, ia bisa melihat beberapa pelanggan lain juga memperhatikannya. Tatapan mereka seakan menilai dirinya, seolah mereka baru saja menemukan “mainan baru” di warung ini. Sekar menggigit bibirnya. Mungkin ini bukan ide yang baik. Tapi dia tidak punya pilihan. ** Pelanggan terakhir baru saja pergi, menyisakan keheningan yang ganjil di warung kecil itu. Udara malam begitu dingin, menusuk sampai ke tulang. Sekar masih terjaga, duduk di sudut ruangan sambil menyusui si kembar dalam remang lampu seadanya. Matanya sayu, tubuhnya lelah, tapi pikirannya terus berkecamuk. Tiba-tiba, suara langkah terhuyung terdengar mendekat. Sekar menoleh dan mendapati Resti muncul dari pintu belakang. Bau alkohol langsung menyengat, bercampur dengan aroma parfum murahan yang terlalu tajam. Resti tersenyum miring, tangannya menyodorkan selembar uang lima puluh ribu ke arahnya. “Nih, pulang aja, Kar. Aku mau pakai kamar,” katanya, suaranya sedikit serak karena minuman. Sekar menelan ludah. Ia tahu maksud ucapan Resti. Tanpa banyak tanya, ia menerima uang itu dan langsung menggendong si kembar yang sudah tertidur pulas. Dengan langkah cepat, ia meninggalkan kamar kecil yang tadi dipakainya untuk menyusui. Sekar baru saja melangkah keluar dari kamar kecil ketika ia mendengar suara langkah berat mendekat. Ia mendongak, dan di sana, berdiri seorang pria dengan postur kekar, mengenakan jaket kulit yang sedikit kusut. Wajahnya kasar, dengan janggut tipis yang tak terawat, dan bau rokok serta alkohol menguar dari tubuhnya. Pria itu merangkul Resti dengan santai, tangannya langsung bergerak menepuk pinggul perempuan itu seolah itu hal biasa. Resti tertawa kecil, menanggapi dengan manja, tapi Sekar bisa melihat kilatan lelah di mata perempuan itu—entah itu kelelahan fisik atau sekadar jenuh. “Ayolah, sayang. Kita lanjutin yang tadi,” pria itu bergumam dengan suara beratnya, sebelum menarik Resti lebih dekat, menempelkan bibirnya ke leher perempuan itu tanpa malu-malu. Sekar menelan ludah. Ia merasa kaku di tempatnya, tak tahu harus mengalihkan pandangan ke mana. Tapi pria itu menyadari kehadirannya. Dalam sekilas, pria itu menoleh padanya, matanya menatap dari atas ke bawah, sebelum sudut bibirnya tertarik ke dalam senyum menggoda. Ia mengerlingkan sebelah mata, seolah-olah mengatakan bahwa ia bisa saja beralih pada Sekar kalau Resti tak cukup memuaskannya. Sekar langsung membuang muka, mendekap si kembar lebih erat. Punggungnya meremang, rasa tidak nyaman menjalari tubuhnya. “Awas, ya, jangan sampai bikin temenmu ini cemburu,” pria itu terkekeh, tangannya mencengkeram dagu Resti sebelum menariknya dalam ciuman yang tak sabaran. Sekar tidak menunggu lebih lama lagi. Ia memutar tubuh, mempercepat langkahnya menuju dapur belakang, berusaha menjauh dari pemandangan itu secepat mungkin. Jantungnya berdetak kencang. Sekar mencoba mengatur napasnya. Tapi ketenangan itu tak bertahan lama. Dari balik dinding tipis warung, samar-samar ia mulai mendengar suara ranjang berderit. Suara laki-laki yang mendesah. Tawa kecil Resti yang terdengar menggoda. Sekar memejamkan matanya erat-erat. Ini pertama kalinya ia mengalami situasi seperti ini secara langsung. Jantungnya berdetak cepat, bukan karena takut, tapi karena sesuatu di dalam dirinya menjerit. Ia tahu bahwa dunia tak selamanya ramah pada perempuan seperti dirinya. Tapi mendengar semua ini dengan jelas membuatnya sadar, betapa tipisnya batas antara dia dan dunia yang sedang Resti jalani. Sekar membuka matanya. Ia menatap uang lima puluh ribu yang diremasnya tanpa sadar. Apakah ini harga yang harus dibayar untuk bertahan? Ia menoleh ke luar warung. Jalanan sepi. Jam dinding menunjukkan pukul tiga pagi. Tidak ada orang berlalu lalang. Dia mulai ragu. Jika tetap di sini, ia harus mendengar semua suara yang tak ingin didengarnya. Tapi jika pulang sekarang, ia harus menerobos gelap dengan dua anak di pelukannya. Dua pilihan yang sama-sama buruk. Sekar menguatkan dirinya. Ia menyesuaikan selendang di tubuhnya, memastikan si kembar tetap hangat, lalu berdiri. Dengan langkah pelan, ia keluar dari warung, membiarkan suara-suara di belakangnya tertinggal bersama semua kebimbangan yang kini membebani hatinya. Ia harus pulang. Dan ia harus mulai mempertimbangkan kembali, apakah tempat ini benar-benar layak untuknya bertahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN