Bab 7| Rencana Licik

1412 Kata
Kemarin Reza mengendarai motornya dengan santai setelah mengurus beberapa barang di toko. Udara malam masih hangat, jalanan mulai lengang, dan pikirannya kembali melayang ke seseorang—bukan istrinya, tapi Sekar. Wajah letih wanita itu masih tergambar jelas di benaknya. Siang kemarin, saat ia melihat bulir-bulir keringat di leher Sekar, ada sesuatu dalam dirinya yang bergolak. Sesuatu yang seharusnya tidak ia rasakan untuk seorang wanita selain Aluna. Tanpa sadar, motornya melambat saat matanya menangkap sosok Sekar yang baru saja masuk ke dalam sebuah warung di pinggir jalan. Reza mengernyit. Itu warung kopi. Warung remang-remang. Darahnya langsung berdesir. “Apa yang dia lakukan di sana?” Dada Reza terasa panas. Dia tak bisa menahan diri untuk tidak berhenti. Dari motornya, dia melihat Sekar masuk ke bagian dapur, sementara Resti yang ia kenali sebagai pemilik warung menyambutnya dengan senyum santai. Reza menggertakkan giginya. Sekar kerja di tempat seperti ini? Kenapa? Apa dia sebegitu terdesaknya? Apa dia nggak sadar kalau warung kopi macam ini sering jadi tempat nongkrong pria-pria yang nggak sekadar cari kopi? Tangannya mencengkeram setang motor erat. Saat itulah, ia melihat seorang pria bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah dapur. Pria itu menyandarkan tangannya di meja, lalu mulai bicara dengan Sekar. Dari kejauhan, Reza bisa melihat ekspresi Sekar yang langsung berubah canggung. Si b******n itu pasti menggoda Sekar. Reza tak tahu kenapa, tapi amarah dalam dirinya meledak begitu saja. Ia merasakan debaran aneh di dadanya, sensasi yang mendekati kegilaan. Sekar bukan miliknya, tapi melihat ada pria lain yang berani menyentuh atau menggoda wanita itu membuatnya muak. Hampir saja dia turun dari motor, tapi kemudian ia melihat Resti datang dan menyelesaikan masalah itu. Sekar aman. Untuk sementara. Tapi tidak dengan pikirannya. Reza masih diam di atas motornya. Napasnya sedikit berat, jantungnya berdetak lebih kencang dari yang seharusnya. Dia harus pergi. Kalau dia terus di sini, dia takut bakal melakukan hal bodoh. Dengan enggan, Reza memutar gas dan melajukan motornya. Tapi pikirannya tetap tertinggal di warung itu. ** Besoknya.. Reza duduk di atas bangku kayu di pos ronda, menyandarkan punggungnya ke tembok dengan rokok terselip di jari. Asapnya mengepul, mengaburkan sedikit ekspresi wajahnya yang tampak berpikir keras. Malam ini sepi, hanya ada beberapa pemuda setempat yang juga nongkrong di sana, ngobrol santai sambil sesekali tertawa. “Eh, gua kemarin abis mampir ke warungnya Resti,” ucap seorang pemuda, sebut saja Iwan, dengan nada penuh arti. Reza melirik sekilas, tidak menunjukkan reaksi berlebihan. Ia hanya menghembuskan asap rokoknya pelan. “Anjir, lagi-lagi lu, Wan. Langganan banget lu di sana,” sahut yang lain sambil tertawa. Iwan mengangkat bahu, terkekeh, lalu menyikut bahu temannya. “Biasa, cari hiburan. Resti kan asik, ngerti kebutuhan cowok.” Reza tetap diam, tapi pikirannya melayang ke satu nama lain—Sekar. Reza menghisap rokoknya dalam-dalam, membiarkan asapnya memenuhi paru-parunya sebelum ia hembuskan perlahan. Matanya menatap kosong ke arah jalanan gelap, tapi pikirannya bekerja dengan sangat aktif. Ia sudah tahu Sekar bekerja di sana sejak kemarin sore, dan hal itu mengusik pikirannya sepanjang hari. Sekar yang polos. Sekar yang selalu tampak ketakutan saat digoda. Sekar yang ia lihat menggigit bibirnya dengan gugup setiap kali pria-pria di warung mencoba menarik perhatiannya. Dan sekarang perempuan itu benar-benar masuk ke dalam lingkungan seperti itu? Tidak. Reza tidak bisa membiarkan itu terjadi. Bukan karena dia peduli. Setidaknya, bukan dalam arti yang benar. Jika Sekar terus bekerja di sana, besar kemungkinan dia akan terbiasa dengan tempat itu. Terbiasa melihat pria-pria seperti pelanggan Resti. Terbiasa dengan rayuan. Bahkan… terbiasa menerima perhatian dari mereka. Dan itu yang tidak bisa ia terima. Reza ingin Sekar tetap seperti sekarang—tetap menjadi perempuan yang hanya bisa ia dekati dalam diam, tetap menjadi perempuan yang ketakutan dan lugu. Tetap menjadi perempuan yang hanya bisa ia kagumi dari kejauhan tanpa ada pria lain yang bisa menyentuhnya. Tapi bagaimana caranya? Ia tidak bisa terang-terangan menyuruh Sekar berhenti. Jika ia melakukannya, Sekar mungkin justru akan curiga. "Denger-denger Resti punya karyawan baru. Bener nggak?” Reza yang tadinya terlihat santai langsung menegang. Ia menoleh pelan, mengamati wajah Iwan yang tampak penuh rasa ingin tahu. Reza tiba-tiba punya ide. Jika ia tidak bisa membuat Sekar berhenti… maka mungkin, tekanan sosial yang akan melakukannya. Reza menahan senyum samar saat akhirnya menyelipkan kalimatnya dengan nada setengah acuh, seolah ini bukan hal yang penting baginya. “Karyawan barunya, si Sekar.” Hening. Suasana di pos ronda langsung berubah. Semua mata tertuju pada Reza, ekspresi mereka tidak percaya. “Becanda lu, Za?” seseorang menyela. “Mana mungkin Sekar kerja di sana?” Reza mengangkat bahunya, menahan senyum tipis yang nyaris tidak terlihat. “Tanya aja sendiri kalau nggak percaya.” Dan seperti yang sudah ia duga, ledakan reaksi itu akhirnya terjadi. “Astaga! Si janda dua anak itu?” Iwan tampak benar-benar terkejut. “Nggak nyangka gue, pantes aja… Dulu katanya godain suami orang, sekarang malah kerja di tempat begitu!” “Yaelah, Buk Ramlah bener dong kalo gitu? Jangan-jangan emang udah biasa!” Reza hanya tersenyum samar, mendengarkan tanpa menambahkan apa pun. Ia tidak perlu banyak bicara—gosip akan menyebar dengan sendirinya. Dan seolah semesta berpihak padanya, tiba-tiba saja muncul Buk Ramlah yang baru pulang dari rumah tetangganya. Begitu mendengar percakapan mereka, perempuan itu langsung berhenti, matanya membulat, wajahnya penuh gairah ingin tahu. “Apa tadi? Siapa yang kerja di mana?” tanyanya dengan suara nyaring. Iwan, yang terlalu bersemangat, langsung menyambar, “Sekar, Buk! Dia kerja di warungnya Resti!” Mata Buk Ramlah membelalak. “Astaghfirullah! Udah kuduga! Pantesan suami aku dulu kayak tergoda gitu! Ya ampun, perempuan macam itu memang—” Reza menghirup rokoknya dalam-dalam, lalu meniup asapnya pelan. Ia membiarkan Buk Ramlah berkicau sesuka hatinya, tahu betul bahwa sebentar lagi seluruh kampung akan tahu tentang ‘pekerjaan baru’ Sekar. ** Pagi itu, matahari baru saja naik, menyinari gang-gang sempit tempat ibu-ibu berkumpul di warung nasi uduk langganan mereka. Suara tawa dan bisik-bisik terdengar di antara gemerincing sendok dan piring. Tapi kali ini, pembicaraan mereka lebih panas dari biasanya. “Kalian tahu nggak, si Sekar ternyata kerja di tempatnya Resti,” bisik Buk Ramlah dengan nada dramatis, memastikan semua yang ada di sekitarnya bisa mendengar. “Ya ampun! Beneran?” sahut seorang ibu dengan ekspresi terkejut yang dibuat-buat. “Aku dapet kabar dari orang yang nongkrong di pos ronda tadi malam. Katanya, dia udah mulai kerja di sana,” Buk Ramlah menambahkan, suaranya terdengar semakin bersemangat. Ibu-ibu lainnya langsung berbisik-bisik, beberapa menggeleng tak percaya, beberapa justru tersenyum sinis. “Nah, tuh orangnya datang,” salah satu dari mereka berbisik begitu melihat Sekar melangkah masuk ke warung, menggendong si kembar yang masih terkantuk-kantuk. Sekar awalnya tidak menyadari tatapan tajam yang tertuju padanya. Ia hanya ingin membeli sarapan seperti biasa. Namun, perlahan, ia mulai merasakan keheningan yang aneh. Buk Ramlah, yang jelas-jelas paling bersemangat menyebarkan gosip, mendecakkan lidah. “Wah, Sekar… enak banget ya, baru sehari kerja udah bisa beli sarapan mewah.” Sekar menghentikan langkahnya, keningnya berkerut. “Maksudnya, Buk?” “Ya, nggak apa-apa sih. Cuma penasaran aja, kalau udah biasa kerja di tempat kayak gitu, duit pasti ngalir terus, kan?” Buk Ramlah tertawa sinis, diikuti oleh beberapa ibu lain yang terkikik kecil. Jantung Sekar berdetak kencang. Ia merasakan panas di wajahnya, antara marah dan malu bercampur jadi satu. “Maksud Buk Ramlah apa?” tanyanya dengan suara bergetar, meski ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini. Salah satu ibu menimpali, “Ya ampun, masih nanya juga. Udah pada tahu kali, kerja di mana sekarang.” Sekar membeku. Dari mana mereka tahu? Tangan Sekar gemetar saat mengambil sarapan yang sudah dibungkuskan oleh penjual. Ia tak lagi berselera makan. Dengan cepat, ia membayar, lalu berbalik hendak pergi, tapi langkahnya terasa berat. Terlalu berat karena ada derai air mata yang juga mengikutinya. Saat itu juga, tanpa sengaja, ia menabrak seseorang. Reza. Laki-laki itu berdiri dengan posisi santai, satu tangan di saku, ekspresinya datar. Tapi matanya? Mata itu berbinar aneh, seperti sedang menikmati pertunjukan yang sudah lama ia nantikan. “Lihat ke depan Sekar,” suaranya rendah, namun ada nada geli yang terselip di sana. Sekar mendongak lalu menunduk, menyeka sudut matanya yang panas. Reza menatapnya dari atas ke bawah. “Kenapa nangis?” Sekar menggeleng cepat. “Nggak apa-apa, Mas,” suaranya bergetar. Reza menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas. “Kalau ada apa-apa, bilang ke aku.” Sekar menggigit bibirnya, menahan isakan yang hampir keluar. Ia buru-buru menunduk dan berjalan pergi, melewati Reza tanpa menoleh lagi. Reza hanya memandang punggung Sekar yang menjauh. Bibirnya melengkung. Pancingannya berhasil. Sekarang, ia tinggal menunggu langkah selanjutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN