Sekar duduk di lantai rumahnya yang sempit, punggungnya bersandar pada dinding yang mulai lembap. Kepalanya tertunduk, menatap telapak tangan yang kosong—seperti hidupnya saat ini.
Gosip-gosip di luar sana makin menggila. Setiap kali ia melangkah keluar rumah, selalu ada bisikan, tatapan merendahkan, dan sindiran pedas yang menusuk sampai ke tulang. Dan tadi malam, di warung Resti…
Sekar memejamkan mata, mencoba mengusir rasa jijik yang masih tersisa di tubuhnya. Pelanggan yang datang semakin kurang ajar. Salah satu dari mereka berani menyentuhnya, meraba pergelangan tangannya saat ia mengantar pesanan. Sekar buru-buru menarik tangannya, tapi pria itu hanya tertawa dan berusaha menariknya lebih dekat.
“Jangan jual mahal, Sayang,” desis pria itu dengan suara berat yang membuat Sekar bergidik.
Ia ingin berteriak, tapi Resti lebih dulu menghampiri dan menarik lengannya. Bukannya membela, Resti malah menggerutu dengan wajah kesal.
“Kalau kamu gini terus, pelanggan kabur, Sekar. Aku juga yang rugi!”
Sekar menatap temannya dengan tak percaya. “Resti, aku nggak bisa—”
Resti mengangkat tangan, menyetop ucapannya. “Denger ya, aku ngerti kamu butuh uang. Aku juga butuh. Rejeki jangan ditolak. Kalau kamu nggak mau, ya udah, tapi jangan sampe bikin pelanggan ogah balik lagi.”
Sekar tahu batasnya. Ia tak bisa bekerja di sana lagi.
Sekarang, duduk di rumahnya yang pengap, ia menatap anak-anaknya yang masih tertidur lelap di tikar. Kepalanya berdenyut memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Ia sudah kehilangan pekerjaannya, kehilangan reputasinya, dan nyaris kehilangan harapannya.
Ke mana lagi ia harus pergi?
Lalu, seperti iblis yang selalu muncul di saat yang tepat, suara ketukan di pintu menggema. Sekar mendongak dengan napas tertahan.
Siapa yang datang sore-sore?
Sekar berdiri di depan kontrakannya dengan tubuh gemetar, menatap Buk Darmi yang berkacak pinggang di ambang pintu. Perempuan paruh baya itu mendengus, wajahnya menunjukkan ketidaksabaran.
“Aku udah ngasih waktu seminggu, Sekar. Tapi rumah ini udah ada yang mau ngontrak. Jadi, kamu harus keluar sekarang.”
Sekar menelan ludah. Ia mengeratkan gendongan si kembar yang mulai gelisah dalam dekapannya. “Tolong, Buk… Saya cuma butuh waktu sedikit lagi. Saya janji bakal bayar.”
Buk Darmi melipat tangan di d**a, ekspresinya dingin. “Janji? Kamu tau sendiri, janji doang nggak bikin perut kenyang, apalagi bayar kontrakan.”
Sekar menggigit bibirnya, matanya beredar ke sekitar. Beberapa ibu-ibu yang sering bergosip di warung kini berdiri tak jauh, berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke arahnya.
“Dengar ya,” lanjut Buk Darmi, suaranya meninggi. “Aku juga butuh pemasukan. Kamu udah tinggal di sini lama, dan aku udah cukup baik nggak usir kamu dari dulu. Tapi sekarang ada yang mau bayar lebih. Aku nggak bisa nunggu lagi.”
“Tapi, Buk—”
“Udah!” Buk Darmi memutar bola matanya. “Pokoknya sebelum magrib, kamu harus angkat kaki dari sini!”
Sekar mengatup bibirnya rapat, menahan gumpalan sakit di dadanya. Ia tahu tak ada gunanya berdebat. Dengan mata berair, ia membalikkan badan dan berjalan pergi.
Tak ada yang menahan. Tak ada yang menawarkan bantuan. Mereka hanya menonton, membiarkannya pergi dengan gendongan dua anak di pelukannya.
Sekar tak tahu harus ke mana. Langkahnya terasa berat, pikirannya kosong.
Sampai tanpa sadar, ia tiba di pos ronda yang sepi.
Sekar merapatkan tubuhnya di pojok pos ronda, mendekap si kembar yang tertidur pulas dalam gendongan. Angin malam makin menusuk, membuatnya menggigil. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya.
Langkah kaki mendekat.
Sekar mendongak, tubuhnya menegang begitu melihat seseorang berdiri di bawah temaram lampu jalan.
“Mas… Reza?” suaranya hampir berbisik, antara terkejut dan cemas.
Reza berdiri di sana dengan ekspresi bingung, seolah baru saja menemukan sesuatu yang tak ia duga. “Sekar?” Ia berjalan mendekat, alisnya mengernyit. “Ngapain kamu di sini malem-malem?”
Sekar buru-buru menunduk, menyibukkan diri dengan membenarkan selimut si kembar. “Nggak apa-apa, Mas. Cuma… numpang istirahat sebentar.”
Reza mengamati Sekar dalam diam, matanya menyusuri wajah lelah dan tubuh mungil yang tampak semakin ringkih dalam balutan kain tipis. Ia bisa melihat tangan Sekar sedikit gemetar, dan wajahnya penuh kekhawatiran.
“Udah hampir tengah malam,” kata Reza akhirnya. “Masa iya kamu bawa anak-anak di sini sendirian?”
Sekar tetap tak menjawab. Bibirnya bergetar, mencoba menahan sesuatu yang jelas sudah ingin pecah sejak tadi.
Reza mengambil posisi duduk di seberangnya, mencondongkan tubuh sedikit. “Ada masalah, ya?”
Sekar menggeleng. “Saya nggak papa.”
Reza menghela napas, mencondongkan tubuhnya lebih dekat. “Sekar, aku tau kamu bukan tipe orang yang suka mengeluh. Tapi sekarang, kamu kelihatan kayak orang yang nggak tau harus ke mana.” Ia menatapnya lekat-lekat. “Ada apa?”
Sekar menggigit bibirnya. Ia ingin tetap kuat, ingin menahan semua ini sendirian. Tapi sorot mata Reza begitu dalam, seakan memaksanya untuk berbicara.
Dan akhirnya, pertahanannya runtuh.
Tangis Sekar pecah. Ia menutup wajah dengan satu tangan, sementara bahunya terguncang hebat. “Saya… saya diusir, Mas…”
Reza pura-pura terkejut. “Apa?”
“Saya nggak bisa bayar kontrakan… Buk Darmi nggak bisa nunggu lagi… Saya nggak punya tempat buat pergi…” suaranya tercekat di antara isakan.
Reza diam sesaat, membiarkan Sekar meluapkan emosinya. Ia bisa melihat bahu perempuan itu bergetar, tangan kurusnya meremas ujung handuk yang masih basah.
Sekar menghela napas dalam, berusaha mengontrol dirinya, lalu tertawa kecil—tawa yang lebih mirip dengan kepahitan. “Dan sekarang… orang-orang bilang saya kerja di warung Resti bukan cuma buat masak dan nyuci piring.” Suaranya serak. “Mereka bilang saya perempuan murahan… wanita penghibur…”
Reza menaikkan alis, seolah terkejut. “Gosip itu sampai segitunya?”
Sekar menoleh, matanya memerah karena tangis. “Mas Reza juga percaya?”
Reza tersenyum tipis, mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap langsung ke mata Sekar. “Aku tahu kamu bukan perempuan kayak gitu.” Nadanya terdengar meyakinkan, seolah ia benar-benar mempercayai Sekar.
Padahal di balik sorot matanya yang terlihat teduh, tersimpan sesuatu yang lain—sesuatu yang Sekar tak sadari. Sesuatu yang perlahan, tapi pasti, sedang mengurungnya dalam jerat tanpa ia sadari.
“Trus sekarang kamu mau ke mana?”
Sekar menggeleng. “Saya nggak tau…”
Reza menatapnya lama, lalu menarik napas dalam. Seakan baru mendapat ide, ia berkata, “Kalau gitu, kita cari tempat buat malam ini.”
Sekar menatapnya, masih dengan mata sembab. “Maksudnya?”
Reza tersenyum kecil. “Aku tau ada hotel murah di luar kampung. Kita bisa ke sana, cuma buat semalam aja. Besok kita pikirin lagi.”
Sekar menegang. “Mas, saya…”
“Aku nggak maksud apa-apa, Sekar.” Reza buru-buru menyela, suaranya terdengar tulus. “Tapi lihat deh, kayaknya bentar lagi hujan. Kasihan anak-anak kalau kehujanan di sini.”
Sekar mengangkat wajah, melihat langit yang mulai gelap. Udara makin dingin, angin makin kencang.
Dan benar saja. Tak lama, rintik hujan mulai turun.
Reza bangkit. “Ayo, sebelum kita kebasahan.”
Sekar ragu. Tapi suara angin makin kencang, membuatnya sadar bahwa ia tak punya pilihan.
Dengan berat hati, ia akhirnya mengangguk.
Hujan turun deras saat mereka sampai di hotel murah di pinggiran kota. Reza menggandeng tangan Sekar, melindunginya agar tak terpeleset saat mereka berlari kecil ke dalam lobi kecil yang sederhana.
Sekar menghela napas lega ketika akhirnya mereka berada di dalam ruangan yang cukup hangat. Ia merapikan gendongan si kembar yang mulai terbangun, lalu menoleh pada Reza yang sedang berbicara dengan resepsionis.
Tak butuh waktu lama, Reza kembali membawa kunci.
“Kamar kita di lantai dua,” katanya.
Sekar menatapnya dengan ragu, tapi akhirnya mengikuti langkahnya menuju kamar.
Begitu pintu kamar tertutup, Sekar menyandarkan diri di belakang pintu, menghembuskan napas panjang. “Makasih, Mas…”
Reza menatapnya dengan senyum tipis. “Udah kubilang, aku cuma mau bantu.”
Sekar mengangguk. Ia berjalan ke kursi di sudut ruangan, menurunkan gendongan si kembar, lalu mulai mengusap rambutnya yang basah karena rintik hujan tadi.
Dari tempatnya berdiri, Reza menatap Sekar tanpa berkedip.
Rambutnya yang basah membuatnya tampak lebih lembut. Pakaian yang sedikit lembab melekat di tubuhnya, memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan samar.
Reza menelan ludah. Ada sesuatu yang menggerayangi pikirannya, sesuatu yang seharusnya ia redam.
Tapi melihat Sekar seperti ini, basah kuyup, lelah, dan tak berdaya…
Godaan itu terasa semakin besar.