Pagi datang dengan tenang, menyusup lewat tirai tipis di kamar Reza dan Aluna. Udara masih dingin, tapi suasana rumah sudah terasa hangat oleh aroma kopi dan suara tawa ringan dari kamar utama. Aluna duduk bersila di tengah kasur, menghadap lemari besar yang terbuka lebar. Di sekelilingnya, tumpukan baju menumpuk dalam aneka warna. Mulai dari dress pesta, blouse bermotif, sampai jaket oversized yang hanya pernah dipakai sekali untuk endorse. “Banyak banget yang belum pernah aku pakai ya,” gumam Aluna sambil tertawa kecil. Reza duduk di sebelahnya, memandangi satu persatu baju itu sambil sesekali mengangkat salah satu dan berkata, “Ini masih bagus banget, sayang. Sayang banget kalau cuma nganggur di lemari.” Semalam sebelum tidur, Reza yang pertama kali mengusulkan ide itu—menyumbangkan

