Sore itu, caffe tempat Surya akan bertemu dengan Sherina cukup ramai. Surya menatap pintu masuk, menunggu bos yang sekarang seorang gadis SMA datang untuk menemuinya. Sherina sudah memberi kabar, bahwa ia tidak diantar oleh Dino dan Sherina baru saja meminta tolong Surya untuk memesan grabcar untuk dirinya.
Mata Surya membelak sempurna saat Sherina masuk kedalam caffe dengan pakaian acak acakan dan wajah yang lebam dimana mana, bahkan ujung bibir Sherina keluar darah.
Tanpa menunggu Sherina sampai dimeja, Surya langsung bangun dan menghampiri Sherina, membantu dan memapah Sherina untuk duduk dikursi.
Desisan kesakitan, serta decak kekesalan meluncur terus menerus dari bibir Sherina membuat Surya menatap Sherina sembari meringis.
"Sakit buk?"
Sherina menatap Surya dengan lanyang dan sinis "Emang ada orang abis di keroyok kaga sakit?"
Disinisi seperti itu oleh Sherina, Surya mendadak ciut dengan kekehan tidak enaknya "Maaf bu, apa kita perlu ke rumah sakit?"
"Perlu, banget malah" keluh Sherina "Tapi bahas dulu, apa yang mau kamu bahas. Pasti nanti pihak rumah sakit nelfon orang tuanya Sherina ini"
Surya mengangguk, kemudian mengeluarkan kotak p3k mininya ditas lalu diberikan kepada Sherina
"Bisa di obatin dulu buk luka luka lainnya" kasih Surya "Pelayan, tolong minta air es yaa" lanjut Surya lagi yang kemudian mengeluarkan handwash
"Sep! Kamu selalu sigap dan tahu apa yang saya butuhin" kekeh Sherina
"Empat tahun kerja sama ibu, keterlaluan kalo saya gak paham soal ibu" jawab Surya lagi sembari menerima air es dalam wadah besar yang diberikan oleh pelayan
"Ini, ibu kompres dulu sambil saya menjelaskan"
Sherina mengangguk, kemudian mengambil alih apa yang tadi dipegang oleh Surya "Silahkan jelaskan"
"Ada dua berita bu, berita baik dan berita buruk. Apa yang mau ibu dengar dulu?"
"Ck" decak Sherina "Lagi sakit ginj harus banget ada berita buruk?" tanya Sherina yang langsung ditanggapi anggukan oleh Surya
"Buruk dulu deh, biar nanti baiknya bisa nenangin gue yang panik"
"Baik bu, berita buruknya surat wasiat ibu dikatakan palsu oleh pak Nilam Arimajaya namun dinyatakan benar oleh pak Haris Arimaja dan kini tengah menjalankan tes forsenik untuk mengetahui apakah benar itu surat wasiat tulisan ibu atau tidak"
"Nilam b*****t!" Kesal Sherina sembari memijat pelipisnya pening, saudaranya yang satu itu benar benar, gila harta!
"Berita baiknya?"
Surya tersenyum cukup lebar membuat Sherina sedikit merasa aga lega "Saham kita naik bu, 20% dari harga jatuh kemarin"
Mendengar perkataan Surya, Sherina langsung berdiri dari duduknya, menatap Surya tidak percaya "Seriusly? Demi apaa?" Pekik Sherina bahagia
"Iyaa buk, karena surat wasiat ibu jadi yang kemarin menjual sahamnya kembali lagi ke kita buk!"
Mata Sherina sudah berbinar senang, kursi yang tadi berada dibelakangnya pas sudah terdorong cukup jauh kebelakang. Sherina melompat senang, perusahaannya tidak jadi bangkrut. Itu berita bagus.
"Aaaaaaa perusahaan gue gak jadi turun bero ya tuhaaan"
"Turun saham bu" koreksi Surya
"Aaa bodo apapun itu senangnyaa perusahaan gue gak jadi bangkruuut" riang Sherina masih dengan posisi meloncat loncat
Braakkk
"Aduuuuhhhh"
"Kampreet! Air es siapa ini yang tumpaahh bikin gue jatuh ajaa!"
Melihat Sherina yang jatuh, Surya dengan cepat menghampiri Sherina dengan kekehan "Perasaan itu air es ibu yang tadi dipake kompres deh"
✨✨✨
Dokter yang hari itu berjaga di ugd terkekeh melihat seorang gadis SMA yang mengumpat saat lukanya tengah diobati, bukannya merasa tidak sopan malah dokter tersebut merasa lucu. Iya, lucu karena kata kata yang dikeluarkan gadis SMA tersebut terlampau sopan sebagai u*****n.
Surya yang melihat dokter terkekeh atas tingkah sang bos, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Benar benar, bosnya yang tengah berada di tubuh anak SMA ini seperti menjadi dirinya sendiri alias asal nyablak.
"Aaaa kucinggg sakit bat!"
"Aww sus, aduhh sakit jangan disitu"
"Kambingg aduh perihh"
"Duhhh ayamm kok sakit yaa sus"
"Gustiiiii perih banget disitu susterrr"
Bukan hanya dokter dan suster yang mengobati Sherina yang terkekeh, bahkan pasien pasien lainnya ikut terkekeh menonton Sherina yang tengah diobati.
Terlalu heboh.
"Ini udah sus? Beneran udah?" Tanya Sherina saat melihat suster mulai merapihkan alat alat
Suster tersebut mengangguk dengan senyuman di wajahnya "Iya dek udah kok"
Mendengar jawaban suster tersebut, Sherina menghela nafasnya lega dengan cukup kencang "Akhirnya penderitaan ku berakhirr" dramatis Sherina
Selepas kekehan dan gelengan kepala geli dari dokter dan suster pergi, Surya langsung menghampiri Sherina yang sudah terlentang santai. Berbeda 180 derajat dengan kondisinya tadi yang heboh.
"Orang tua si gadis SMA sudah saya hubungi bu, mungkin tengah diperjalanan" terang Surya yang langsung disambut anggukan oleh Sherina
"Hmm bu, boleh saya bertanya?"
Merasa nada seram lolos dari bibir Surya, Sherina menatap Surya dengan seram "Kata kamu cuma ada 2 berita yaa tadi Sur, kok nambah?"
"Ahh bukan itu bu" jawab Surya setelah kekehan
"Lalu?"
Wajah ragu Surya muncul seakan akan takut perkataannya menyakiti perasaan Sherina. Namun, setelah ditatap oleh Sherina bahwa ia akan baik baik saja dengan pertanyaan Surya, pada akhirnya Surya bertanya.
"Apakah ibu bahagia ada di tubuh gadis SMA ini bu? Maksud saya---"
Helaan nafas Sherina seakan memotong ucapan Surya, membuat Surya terdiam tidak enak. Tak lama, senyum Sherina muncul
"Dosa gak yaa kalo saya seneng Sur? I mean, saya merasa aja bisa jadi diri saya sendiri, terus juga saya bebas mau ngapain aja yang dimana pas SMA gak bisa saya lakuin. Saya nemu hal baru, apa lagi jadi anak tentara yang dunianya tidak diketahui oleh orang orang luar. Saya seneng aja Sur, tapi"
"Saya juga kangen sama Papa, Sur. Kangen mimpin perusahaan, kangen anak anak manajemen, kangen anak anak pemasaran, kangen ngantor. Yaa walaupun yang sekarang saya jadi berasa serba enak dan lebih dicintai di keluarganya gadis ini. Tapi bagaimanapun saya merindukan kehidupan saya yang dahulu"
Senyum Sherina muncul "Tapi gak apa apa, saya malah bersyukur masih dikasih kesempatan untuk hidup di tubuh gadis SMA. Yaaa sejenis back to young laah" gurau Sherina dengan kekehan yang membuat Surya ikut terkekeh
Namun, kekehan itu tidak bertahan lama saat sepasang suami istri yang mengenakan seragam olahraga kesatuan datang dengan tergesa gesa dan wajah panik.
"Sherinaaaaa" pekik Ajeng mencari keberadaan anaknya
Mendengar namanya dipanggil, Sherina duduk dari tidurnya kemudian melambaikan tangannya kearah Ajeng "Bundaaa, adek disiniii" pekik Sherina tidak kalah heboh
Mencari sumber suara, Ajeng langsung menghampiri Sherina yang duduk santai diatas bed dengan perban dimana mana.
"Haduuuhhh sayaaanggg, sumpaaah kamu gak koma lagi kan? Gak ngelindur lagi kan? Coba ini siapa?" Berondong pertanyaan Ajeng setelah pelukannya lepas
"Hah? Apa deh Bunda, aku---"
"Ini berapa Sherinn"
"Bundaa, aku jatuh bukan butaaa"
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~