"Halo teman teman semua, namaku Sinta Aulia. Kalian semua bisa manggil aku Sinta"
Pagi itu, kelas Sherina diawali dengan perkenalan murid pindahan baru. Seorang wanita, berparas cantik pula.
Semua menatap Sinta, terpesona. Tapi tidak dengan Sherina, gadis tersebut tengah tertidur dibangku tempatnya duduk. Badannya sakit sakit, efek latihan rampak bedug semalam.
"Ya baik, Sinta kamu bisa duduk di sebelah Destia yaa" ucap bu Retno menunjuk bangku disebelah Destia
Mata bu Retno menyusuri seisi kelas, sampai dimana matanya menangkap Sherina yang tengah tertidur "Yang nanti akan bertanggung jawab mengajak Sinta mengenal sekolah, Destia dan Sherina yaa"
Destia yang mendengar namanya disebut bersamaan dengan Sherina membelak tidak terima, kemudian berdiri dari duduknya. Melakukan protes.
"Sherin, lo gak mau ikutan protes?"
Sherina yang merasa tubuhnya di sikut oleh Alda, mengerjapkan matanya sembari mengucek matanya perlahan "Protes kenapa?" tanya Sherina lirih sembari menguap kecil
Alda menaikan kedua alisnya kemudian menghela nafasnya pendek "Lo sama Destia ditunjuk nemenin si murid baru keliling sekolah"
Tanpa menunggu lama, Sherina langsung berdiri dari duduknya, kemudian menatap bu Retno yang berdiri santai didepan -tengah mendengarkan protesan Destia-.
"Waahhh bu, gak bisa gitu dongg! Saya gak mau sama si nenek lampir nihh"
Mendengar protesan terlambat Sherina, Alda memutarkan kedua bola matanya "Kurang telat"
"Udah bangun, putri tidur?" sapa bu Retno menanggapi protesan Sherina
Mendengar nada sarkas guru sekaligus wali kelasnya tersebut Sherina nyengir kuda sembari terkekeh "Ibu mah, bisa aja" sipu malu Sherina
Kembali menyadarkan Sherina, Alda menyikut Sherina dengan cepat membuat Sherina kembali sadar "Bu, kata ibu kan saya putri naahh ga cocok lah bu masa sama nenek lampir?"
Destia melotot kesal, lalu melempar entah tipe-x siapa yang ada di bangkunya "Heh! Lo pikir gue mau sama upik bau kek lo? Iyuuhhh gak level!"
Tidak terima dilempari oleh Destia menggunakan tipe-x tadi, Sherina malas memukul kembali Destia menggunakan tipe-x tadi
"Idihhh, dasar kamseupaayy!"
"Hah? Songong ye lu, baku hantam lah kitaaa!" teriak Destia tidak terima yang sudah mulai naik keatas meja
Melihat Destia yang sudah mulai naik keatas meja, jelas saja Sherina tidak terima dan ikut naik keatas meja
"Halaahh, modelan ubi cilembu kek lu mah diinjek juga benyeek!"
"Wahh songong si dugong antartika!"
"b**o! Di antartika gak ada dugong!"
Bu Retno yang melihat pertikaian antara Sherina dan Destia mulai memukulkan kayu rotan ke mejanya, memang feeling seorang wanita tidak pernah salah. Bersyukur lah bu Retno berjaga jaga membawa rotan ini, takut ada adu lisan antar muridnya ini.
Mendengar suara rotan membuat baik Sherina maupun Destia mengerjapkan matanya, kaget. Dan diam dari adu mulut mereka.
"Keputusan ibu sudah bulat, Sherina dan Destia temani Sinta keliling sekolah. Kalau ketahuan kalian tidak melakukannya, ibu kasih C dalam mata pelajaran ibu" tutup bu Retno kemudian keluar meninggalkan kelas
Destia dan Sherina membelakkan matanya kaget, kemudian saling tatap dengan mata sinis dan kembali duduk.
"Bau bau pertumpahan darah nih nanti" ujar Alda sembari menghela nafasnya panjang
✨✨✨
"Nah ini toiletnya, nanti lo kalo dari kelas mau ke toilet tinggal ikutin jalan ini aja, inget kan?"
Sinta mengangguk, kemudian matanya mengarah ke Destia dan Sherina yang tengah berjalan sembari sikut menyikut. Kekehan lepas dari bibir Sinta melihat tingkah laku Sherina dan Destia.
Jangan harap yang menjelaskan tadi itu Sherina atau Destia yaa, karena mereka sibuk saling sikut. Karena yang baru saja menjelaskan dan mengarahkan adalah Alda, yang berinisiatif untuk ikut.
Lebih tepatnya, telah menduga akan seperti ini
"Ituu, mereka sering kaya gitu?"
Helaan nafas lepas dari mulut Alda, kedua bahunya diangkat ke atas "Gue mau bilang engga juga, lo udah liat di kelas kan Sin?"
"Haha, iyaa"
Padahal, Alda dan Sinta sudah sampai didepan toilet sekitar 3 menit yang lalu. Tapi, Sherina dan Destia belum juga kunjung sampai.
Bagaimana mau sampai kalau mereka saling sikut seperti itu?
"Minggir lo!"
"Lo yang minggir simpenan g***n!"
"Yeee, kupret! Dasar simpenan eyang subur!"
"Dasar j****y bolong!"
"Janda bolong g****k Destiyong!"
"Suka suka gue dong kan mulut mulut gue!"
"Iyain aja umur gak ada yang tahu"
Destia berhenti jalan menyikut Sherina, kini ia berdiri dengan gaya bertolak pinggang "Lo doain gue cepet mati? Haaah?!"
Merasa sudah tidak saling menyikut, Sherina berdiri dengan tegak kemudian menatap Destia dengan sebelah bibir yang terangkat "Gak gue doain juga lu bakalan wafat, b**o!"
"Sotai najis, sapa lo? Malaikat?"
Gemas, Sherina menggunakan jari telunjuknya untuk mendorong kepala Destia, hingga membuat keseimbangan Destia hilang sesaat.
"Makanyaaa, kalo sekolah ngaji, jangan moloooor" seloroh Sherina yang kemudian berlari menghampiri Alda dan Sinta
"HEH BEGOOK, GUE MUALAF, ANYING!"
✨✨✨
"Makasi yaa temen temen udah ditemenin, sebagai gantinya gue aja yang pesenin sekalian bayarin kalian kali ini"
Mendengar kata teraktir secara tidak langsung, Sherina yang tadinya siap menaruh kepalanya di meja kantin langsung duduk tegap dengan senyum cerah diwajahnya.
"Najis, demennya gratisan"
Mendengar komentar Destia, Sherina memajukan bibirnya singkat untuk mengejek.
"Bodo, kalo lu gak mau silahkan enyaah dari meja ini"
"Idihh, siapa lu? Kan Sinta yang mau teraktir!"
Memilih mengabaikan perkataan Destia, Sherina menatap Sinta dengan senyum cerahnya "Jatah si Destiyong buat gue aja Sin"
Plaak
Sumpit kayu melayang mulus telak mengenai kepala Sherina, membuat Sherina mendecit menatap sang sumber pelemparan dengan keki.
"Sakit, monyong!"
Jika tadi Sherina yang mengabaikan Destia, maka kini Destia yang mengabaikan Sherina kemudian menatap Sinta dengan senyuman lebar.
"Jangan didengerin yaa Sin titisan iblis neraka"
"Udah udah, ayo Sin ama gue aja mesennya gue tahu apa yang bakalan mereka pesen kok" putus Alda pada akhirnya
Lelah mendengar perdebatan Destia dan Sherina yang tidak ada habisnya
"Lo berdua, gue tinggal awas aja balik balik gue ini meja acak acakan, gue aduin ke bu Retno biar nilai kalian C! Kalo bisa E dah"
Mendengar ancaman Alda yang s***s, benar saja sepanjang Alda dan Sinta memesan makanan, Sherina dan Destia saling diam.
Diam diam saling menyinisi maksudnya.
Bergulat melalui ilmu telapati.
Sinta dan Alda telah kembali dengan nampan makanan, Sinta duduk berhadapan dengan Sherina, Alda duduk berhadapan dengan Destia. Sengaja, agar tidak ada perdebatan diantara dua mahluk itu.
"Aaaaa my lovely tea jus gula batu kuuu!"
"Alayy" cibir Destia
"Sewot aje lu jandaa!"
Alda merentangkan kedua tangannya menyilang antara Destia dan Sherina "Udah yaa, makan gak usah ribut"
Sinta terkekeh, Sherina dan Destia memilih menurut. Alda seram soalnya jika sudah marah.
Baru saja selesai menikmati minuman dan ingin menikmati bakso disendoknya, tiba tiba bakso di sendok Sherina lenyap dimulut seseorang yang tiba tiba duduk disebelahnya.
Fahmi.
Melihat hal tersebut, Sherina menatap Fahmi dengan mata melotot, siap berteriak
"Bakso guee kampreeett!"
Yang diteriakk diam saja, malah asik mengunyah baksonya dalam diam.
Gondok setengah mati, Sherina memukul punggung Fahmi cukup kencang hingga terdengar bunyi deg. Membut Alda, Destia dan Sinta membelakkan matanya kaget.
Khususnya Alda dan Destia, mereka akui Sherina terlampau berani melawan Fahmi si badboy sekolah.
Bakso yang tadinya dimulut Fahmi meluncur bebas dari dalam, sebagian sisi bakso sudah terkunyah dan sebagiannya lagi belum menggelinding di lantai kantin.
Melihat hal tersebut, tawa Sherina pecah "Mampuss!" Gelaknya "Makanyaaaa, jangan nyomot makanan orang sembarangan sontoloyoo!" Gemas Sherina sembari mencubit lengan Fahmi
Jika tadi hanya Alda dan Destia yang membelak kaget, kinj seisi kantin tiba tiba hening.
Merasakan perbedaan suasana, Sherina langsung memperhatikan keadaan sekitar dan juga Fahmi sembari menelan salivanya susah payah.
"Lo kalo mau ribut, sama gue aja woi janda jangan sama Fahmi" bisik Destia yang masih terdengar
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~