13. Bertemu Sherina

1040 Kata
Mobil dengan warna hijau tua baru saja berhenti digarasi rumah dinas Raden, menampakan Sherina yang baru saja pulang sekolah dengan seragam super acak acakan dan rambut yang cukup kusut. Ajeng yang tengah menyiram tanaman, melotot histeris melihat penampilan Sherina saat pulang sekolah. Disimpannya selang air, kemudian berjalan cepat kearah Sherina yang tengah berjalan lunglai menuju tempat duduk di teras rumah untuk melepas sepatunya. "Naakk, kamu abis ribut sama kucing manaaa?" Sherina yang baru saja duduk, langsung menegakan badannya menatap Ajeng tidak habis fikir "Kok kucing sih Bun?!" "Lah? Emang sama manusia?" "Astagfirullah Bunda! Yaiyalaah! Emang aku siluman meong apa ribut sama kucingg" gemas Sherina Bisa bisanya, Ajeng berkata seperti itu. Tidak sakit hati sih, lebih tepatnya Sherina tidak habis pikir saja. Kok bisa bisanya jiwanya nyasar di keluarga yang sangat receh able ini. "Dino, beneran Sherina ribut sama manusiaa?" Mata Sherina sudah membelak besar, ia kira saat ia sudah diam dan melepas sepatunya, Ajeng akan cukup bertanya. Tapi ini? Saat Dino turun dari mobil, Ajeng malah bertanya lagi? "Bundaaa, yaiyalaah ada ada aja dehh" seloroh Ajeng Ajeng mengabaikan perkataan Sherina, kemudian berjalan mendekati Dino kemudian mengelus pundak Dino dengan lembut "No, bilang No. Dia ribut sama kucing kampung mana? Jujur aja sama saya" "Bundaaaa!" Dino yang melihat obrolan sederhana namun mengundang tawa antar ibu anak tersebut, terkekeh geli. Maklum saja, ia tidak pernah melihat pemandangan ini sebelumnya. "Sumpah yaa bunda nihh, aku normal keless ribut masih sama manusiaa belom sama kuyaang" ucap Sherina lagi sembari meletakan sepatu yang baru saja ia lepas di rak sepatu depan rumah "Tuhkan Dinooo, Sherina beneran ribut sama kucing apa kuyang sih No?" "Bundaaaaaaa" ✨✨✨ Sherina baru saja selesai mandi sore itu, keluar dari kamar mandi dengan kepala yang sudah dibungkus dengan handuk. Sajian pemandangan untuk sore hari ini cukup indah, Sherina melihat Ajeng yang tengah memasak untuk makan malam mereka. Meskipun memakai pembantu, untuk bagian masak memasak Raden tidak mau jika yang memasak makanan adalah pembantu. Bagi Raden, masakan Ajeng nomor wahid alias satu. "Sore bundaaaa" sapa Sherina kemudian mendekat mencium pipi Ajeng yang tengah memasak "Haduhhh, kaget tau!" seloroh kesal Ajeng yang membuat Sherina terkekeh "Melamun mulu! Ayah juga gak kemana mana wleee" goda Sherina yang membuat Ajeng menggelengkan kepalanya "Kamu nanti malem latian rampak bedug lagi?" Sherina yang tadinya tengah asik bersender ria di pundak Ajeng langsung berdiri tegak "Heh iyaaaa, untung diingetin" "Kenapa? Mau ngerjain tugas dulu?" "Engga sih bun" "Terus?" Belum menjawab pertanyaan Ajeng, Sherina sudah berlari meninggalkan dapur, kemudian terhenti didepan pintu "Aku mau tidur dulu bundaaa, di rukan bikin ngantuk soalnyaaa" Teriakan Sherina sore itu mengisi rumah dinas disertai teriakan protes Ajeng yang mengatakan pamali tidur sore, membuat Sherina terkekeh sampai masuk kedalam kamarnya. Lagi dan lagi, Sherina menatap kamar yang kini tengah ditempatinya. Tidak seluas kamarnya, bahkan soal fasilitas pun kalah. Tapi, ada satu hal yang membuat Sherina merasa nyaman, kasih sayang Ajeng dan Raden. Jahat memang Sherina masih belum juga mengatakan terkait hal yang sebenarnya terjadi, tapi Sherina juga bingung harus berbicara dari mana. Sherina akui, jiwanya terlalu nyaman berada ditubuh Sherina remaja. Nyaman karena dapat menjadi dirinya sendiri dengan sifatnya yang bar bar. Lelah dengan fikirannya sendiri, Sherina memilih mendekati kasur. Benar benar berniat tidur sebelum acara latihan rampak bedug dan mulai lagi melihat wajah wajah yang tidak suka kepadanya. Memilih merebahkan tubuhnya dengan posisi telentang, Sherina memandang langit langit kamar yang kini ia tempati. "Heh Sherina muda, lo kenapa sih? Ada apa?" tanya Sherina pada ruang kosong "Lo tuh udah hidup enak banget, nyokap kerja, bokap juga ada jabatan, keluarga penyayang, tinggal lo aja yang menyesuaikan diri" jeda Sherina sembari menghela nafasnya panjang "Tapi kenapa lo di bully? Dibilang simpanan g***n pulak. Kenapa anjir Sherina? Pusing gue dengernya di sekolah. Manaa juga nih, lo ada masalah apa sama anak anak Retsu? Pada jadi sinisin lo?" Helaan nafas panjang kembali lepas dari bibir Sherina "Padahal lo cantik, harusnya jadi primadona kaya gue dulu" tutup Sherina dengan kekehan yang kemudian memejamkan matanya lalu terlelap dalam tidurnya. ✨✨✨ "Haloo ka Sherin" Sherina mengucek matanya dengan cepat, kemudian kembali menatap sosok yang berada dihadapannya "Laah? Sherinaa?" Gadis remaja di hadapannya terkekeh "Iya, kaka bisa panggil aku Rina" Sherin mengangguk, kemudian memperhatikan sekitar. Gelap? Mereka dimana sekarang? Padang mahsyar? "Kita ada di dalam jiwa kak" ucap Rina seakan tahu isi fikiran Sherin Sherina kembali mengangguk, kemudian matanya menangkap Rina yang berjalan maju mendekatinya. Tak lama setelah mendekat, Rina memegang tangan Sherin dengan air mata yang sudah bercucuran. "Ehh? Kok nangis? Jangan nangis Rin, duh kalo bunda lu tau lu bisa di sangka ribut sama kuyang!" Selorohan heboh Sherin membuat Rina terkekeh dalam air matanya yang tengah turun "Ka Sherin lucu banget" "Yeee, lu kira gue sule" jawab Sherina sembari memajukan bibirnya Rina menggelengkan kepalanya geli "Kak, maaf yaa karena aku, kakak jadi masuk kedalam tubuh aku" Mendengar perkataan Rina, membuat Sherin ingat dengan kondisinya kini "Ini apa? Kamu mau balik ke tubuh kamu lagi?" Tanya Sherin Rina menggelengkan kepalanya rapuh "Aku gak kuat kak, aku gak bisa, sakit banget kak rasanya dibully di sekolah dan di lingkungan asrama. Maaf kalau aku egois meninggalkan kaka dengan masalah aku" jeda Rina "Masalah aku jatuh, sebetulnya aku menjatuhkan diri kak di kamar mandi, soalnya denger denger jatuh di kamar mandi ceper matinya" "Heh!" Kesal Sherin "Tapi, emang iya?" Lanjutnya bingung Mengabaikan pertanyaan Sherin, Rina bangun dari duduknya kemudian menatap Sherina dengan senyum "Jaga diri yaa kak, semoga kaka bisa melewati hari hari sebagai aku" ✨✨✨ Sherina bangun dengan nafas yang terengah-engah dan keringat yang bercucuran, padahal ac kamarnya menyala. Mata Sherina terus mengerjap erjap menyesuaikan cahaya serta mencoba memulihkan kesadarannya. Akhirnya, Sherina memilih memejamkan matanya sebentar. Kembali mengingat apa yang baru saja terjadi. Iyaps, betul. Benar. Sherina tidak salah liat Dan juga ingat. Sherin bertemu dengan Rina, sang pemilik tubuh. "Haduhh b**o! Padahal sebelum tidur banyak pertanyaan yang udah gue susun buat nanya ke si Rina, pas ketemu malah lupaa" kesal Sherina sembari memukul kepalanya "Jadi, sekarang gue harus tahu dulu kaliya apa penyebab Sherina dibully?" "Tapi, kalo jiwa Rina masih ada, tandanya sewaktu waktu dia bisa balik kan?" Tanya Sherina lagi pada ruang kosong Sherina bangun dari tempat tidurnya, kemudian menatap kaca cermin dimeja rias kamar ini dengan senyum lirih "Terus, nasib gue? Gimana?" ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN