12. Lagi Lagi Apes

1034 Kata
"Heh desiyung! Udah belom lu" Destia menatap Sherina dengan sinis, kemudian melanjutkan kegiatannya mencatat nama nama teman bagiannya "Bacot lu ember!" Tidak terima, Sherina membelakkan matanya "Matamu ember! Gue udah kaya rapunzel gini dibilang ember!" "Nenek sihirnya rapunzel maksud lo?" Kini, Destia yang tadinya berdiri membelakangi Sherina yang juga tengah berdiri setelah selesai mencatat nama nama teman kelasnya sudah berdiri menghadap kearah Sherina. Tanda bahwa Destia sudah mau meladeni Sherina. "Itu aladin, b**o!" "Heh koplaak, aladin adanya karpet terbang dodol! Bukan nenek sihir bawa sapu!" Teman teman sekelas yang sudah mendengar perdebatan Sherina dan Destia yang akan dimulai, mulai meninggalkan labolatorium kerajinan. Beberapa ada yang menonton "Dih? Masa iya? Sejak kapan?" seloroh Sherina dengan nada bingung "Susah sih kalo simpenan g***n, otaknya emang suka gak ada" Mata Sherina membelak kesal, kemudian melempar tanah liat asal kearah Destia. Entah bagaimana bisa tanah liat tersebut terbang terlalu tinggi sampai melewati jendela ruangan. Mendengar ada yang mengaduh dari luar, dengan cepat Sherina keluar, mencari siapa yang menjadi korbannya. Saat Sherina sudah ada didepan pintu dan melihat siapa yang terkena lemparan tanah liatnya. Bukannya meminta maaf, Sherina malah tertawa. Tawa yang cukup besar. "Hahaha, anjir kena lo? Bagus deh seenggaknya gak kena orang lain" ujar Sherina masih dengan gelak tawanya Yang terkena tanah liat adalah seorang siswa, yaaps siswa yang membantu Sherina tadi pagi untuk melompat tembok. Alda yang baru saja keluar dari ruangan menyusul Sherina, seketika membelakkan matanya melihat siapa yang sedang Sherina tertawai. Alda menarik tangan Sherina, membuat Sherina menatap Alda masih dengan tawa. "Daa, liat daa. Haha, kasian banget mukanya jadi kek orang b**o" Kesal, akhirnya Alda memukul kepala Sherina "b**o! Lo apain Fahmi, Sheriiinn" "Hah? Ohh namanya Fahmi" jeda Sherina yang kemudian melirik kearah Fahmi -laki laki yang membantunya tadi pagi- kemudian melambaikan tangannya "Halo Fahmi, ules lu jelek banget kek gitu" lanjutnya dengan tawa Alda memejamkan matanya, kemudian mencubit lengan Sherina membuat Sherina mengaduh kesakitan "Apaan sih Aldaa! Sakit, kupret!" "Itu Fahmi Atriksa! Badboy nya sekolah anjir!" Tawa Sherina langsung redam, melihat keadaan sekitar yang ternyata sejak tadi hening saat Sherina puas mentertawai Fahmi. Badan Sherina seketika kaku, menatap Fahmi takut takut. Ini kenapa gue apes banget sih? Melihat perubahan Sherina, membuat Fahmi memunculkan senyum miringnya sembari berjalan menghampiri Sherina "Udah tau, gue siapa?" Sherina mengedipkan matanya cepat saat posisi Fahmi ada di pas hadapannya "Ehh Fahmi, nu kasepppp mau gue elapin?" "Gak." "Ehh, an-- anu. Maaf yaa" cicit Sherina "Gak." Mendengar jawaban Fahmi membuat Sherina membelakkan matanya, kesal. Kemudian mendorong Fahmi dengan tenaganya "Yakan gue gak sengaja, kampang!" Setelah sempat mundur, Fahmi kembali maju, membuat Sherina terpojok di dinding. "H--eh! Mau apa lo?! Gue laporin guru nih yaaa!" "Laporin aja, kalo bisa" Mendengar perkataan Fahmi yang tidak membentak, bukannya membuat Sherina berani malah membuat Sherina menciut. Iya sih tidak membentak, tapi mengintimidasi. Wajah Fahmi semakin dekat kearah Sherina, alarm merahnya seakan berbunyi. Tanpa menunggu waktu lama, dengan sekuat tenaga Sherina melayangkan bogem mentah kewajah Fahmi. "Kupret! Gak usah deket deket! Bau jiggong!" ujar Sherina asal yang langsung kabur sembari menarik Alda dan Destia yang berada didekatnya Fahmi memegang rahang bawahnya yang baru saja ditonjok oleh Sherina, senyum geli muncul di wajahnya mengingat bagaimana wajah takut Sherina tadi. "Bos, lo gak apa apa?" Fahmi menggeleng "Sherina tadi, anak kelas berapa?" "Kelas 11 bos" "Kok bisa gak tahu gue?" Tanya Fahmi lagi sedikit bingung, pasalnya hampir bahkan satu sekolah mengetahui dirinya. Fahmi Atriksa, si badboy sekolah. "Eh, gak tahu juga gue bos" "Bisa bisanya, udah dia gak tahu gue, gak terpanah, gue tolongin gak terimakasih lagi" ✨✨✨ "Ngapa lari si anjir!" Sherina melihat tangannya, kemudian melihat ke sumber suara. Setelah itu gengaman tangannya ia hempaskan "KOK LO BISA GUE TARIK?" Destia yang diteriaki seperti itu sama Sherina langsung membelakkan matanya "Lo yang narik narik gue anying!" Sherina menggelengkan kepalanya cepat, kemudian menatap Alda yang ada disebelahnya juga "Daa, bilang! Dia ngintilin kita kan?" Alda menghela nafasnya cepat "Lo yang narik dia, Sher" Puas dengan jawaban Alda, Destia melipat kedua tangannya di d**a dengan senyum smirknya "Kan, terbukti lo yang ngefans sama gue!" Mengabaikan perkataan Destia, Sherina menatap tangannya yang baru saja ia gunakan untuk menarik Destia. Matanya mengerjap erjap, seperti ada air mata yang siap lolos dari mata Sherina. "Aldaaaaaa, anter gue ke dokter hewaaan, gue takut rabies abis megang si Destiyonggg" histeris Sherina Mendengar perkataan Sherina, dengan cepat Destia menjambak Sherina. Tidak terima dibilang rabies. "Bangke ye lu! Lu yang narik narik gue, mala sekarang ngatain gue! Dasar l***e!" Sherina yang belum siap dengan serangan mendadak dari Destia, sempat terhuyung sedikit kesamping. Lalu, balas menjambak Destia dengan kasar. "Heh! Emang lu najis! Najis mugaladoh tauk gaak!" "Wahhh bener bener ye lu mulai singkong!" "Heeehh itu kata kata gue k*****t!" "Yaudah anggep aja songong!" "Gakk! Gue laporin lu ke Bunda gue yak! Itu kata kata bunda guee!" "Ribet lu asyu!" "Lu lebih ribet!" "Anjing ye lu!" "Lo tuh babi hutan!" "Lo tuh monyet!" "Lo gorila!" "Lo otan!" "Lo beruang kutub!" Alda menghela nafasnya panjang, kembali melihat pertengkahan Sherina dan Destia dengan adegan jambak jambakan dilorong depan kelas mereka. Mau memisahkan juga Alda sadar diri, takut takut terkena jambakan mereka. "Ada cogan lewat noh, jeda dulu ributnya" Mendengar perkataan Alda, benar saja baik Sherina maupun Destia langsung melepaskan jambakan masing masing dan menatap kakak kelas yang berjalan kearah mereka dengan senyum manis. "Kalian, acak acakan kenapa?" tanya kakak kelas itu kearah Sherina dan Destia "Ahh ini kak, abis syuting suara hati istri kita. Iyakan Des?" jawab asal Sherina yang sambil menyikut Destia meminta persetujuan Destia mengangguk, kemudian tangannya naik keatas kepala Sherina lagi "Ini kak, abis praktik jambak menjambak" Kakak kelas tersebut terkekeh, kemudian menatap Alda "Temen temennya lucu dek" Mendengar perkataan kaka kelas tersebut membuat Alda tersenyum kecut "Iya kak, saking lucunya suka bikin istigpar" Kakak kelas tersebut terkekeh mendengar jawaban Alda, kemudian melanjutkan langkahnya lagi yang sempat terhenti untuk singgah mengobrol dengan adik adik kelasnya. Destia yang masih sibuk ber-dadah ria kearah kakak kelas tersebut harus terganggu saat Sherina menarik ujung rambutnya, membuat Destia sedikit mendengkak dan kaget. "Bangke! Apaan sih!" Seloroh kesal Destia "Ayok lanjut kupret!, dendam gue belom tuntas!" Alda menghela nafasnya panjang, kemudian memilih masuk kedalam kelas. Biarlah, urusan siapa yang terluka belakangan biar mereka puas ribut. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN