Gadis dengan rambut yang dicepol itu memegang dadanya, nafas yang keluar sangat terengah-engah. Detak jantungnya benar benar berpacu dengan cepat. Keringat bercucur di jidat gadis bername tag Sherina P.H
"Ahhh s**t! Kok udah di tutup aja siihhh"
Pagi ini, Sherina terlambat datang ke sekolah. Sudah tidak ada Dino yang mengantarnya, karena Dino mengantar Raden dan Ajeng yang tengah melakukan kegiatan kesatuan. Sebetulnya Sherina tidak terlambat sih, bahkan sempat sarapan. Tetapi, saat ingin mengganti seragam Sherina berniat memejamkan matanya sebentar ternyata cukup lama.
Entahlah, sepertinya satu rumah sudah mengira Sherina berangkat atau bagaimana. Yang jelas, saat Sherina bangun keadaan rumah sepi. Bermodal aplikasi taxi online, Sherina tetap nekat berangkat sekolah.
Mata Sherina menjelajahi pagar sekolah yang cukup tinggi ini, berfikir apakah ia harus dihukum? Atau memanjat pagar ini?
"Badge kelas 11, kok gue gak pernah lihat lo?"
Sempat kaget, Sherina melotot ke arah siswa yang baru saja berbicara kepadanya "Salam dulu ngapaaaaa, kaget gue!"
Sudah nafasnya masih terengah-engah, detak jantungnya sudah berpacu cepat eh ditambah dibuat kaget jadi semakin cepat saja.
"Lo, telat?"
Decakan kesal meluncur dari bibir Sherina mendengar pertanyaan yang jelas jelas sudah terlihat di depan mata jawabannya.
"Butaaa, lo pikir aja sendiri"
Mendapat respon dari Sherina yang berbeda membuat laki laki tersebut menjitak kepala Sherina, membuat Sherina membelakkan matanya. Kaget, tiba tiba di jitak.
"Yeee, kupret! Kepala gue udah difitrahin k*****t!"
"Kok lo gak terpesona sama gue?"
Tawa Sherina pecah mendapatkan pertanyaan seperti itu "Hah? Terpesona? Yel yel kaya di t****k itu ya?" Jeda Sherina sebentar
"Terpesonaaaaa, akuuuu terpesonaaaa" lanjut Sherina sembari mempraktikan gerakannya
"Memandang, memandang wajah mu yang ayuuuu"
"Hoaaa hooo eeee"
Selesai. Sherina masih dengan tawa dan gelengan kepala takjub "Pede banget najong" lanjutnya lagi yang sudah berubah ekspresi menjadi datar
Tak lama, ekspresi Sherina menjadi panik kembali "Duhhh mampus gue ini gimana dong telat"
"Mau lewat jalur rahasia?"
"Hah? Dora ye lu ada jalur rahasia?"
✨✨✨
Sherina menatap tembok yang cukup tinggi dihadapannya ini dengan sorot mata yang bahagia, sejak dulu semasa sekolahnya Sherina selalu menunggu momen ini. Momen dimana ia harus memanjat tebok sekolahnya.
"Gillssss beneran back to young banget nih guee"
Laki laki yang ada di sebelahnya menatap Sherina dengan tatapan bingung "Strees!"
Memilih abai, Sherina menatap laki laki disebelahnya ini dengan sorot mata senang.
"Ini gimana naiknya? Terbang?"
"Lu pikir lu spiderman?!"
"Yaaa engga sih, siapa tau lo yang titisan burung ababil" seloroh Sherina asal
"Eh eh lo mau kemanaa?"
Sherina panik ketika melihat laki laki tadi meninggalkannya, namun ternyata tidak jauh bahkan kembali lagi membawa tangga "Wah kita gak jadi terbang nih?"
"Lo tuh manusia bukan sih? Omongan lo ngelindur bener dehh"
Sudah mendengar nada kesal, Sherina mengibaskan rambutnya "Bukan, gue Sherina si korban bully di sekolah. Lo gak tahu gue?"
Laki laki tersebut maju, mendekat kearah Sherina membuat Sherina sedikit mundur karena merasa jarak diantara mereka yang terlalu dekat. Tak lama, jidat Sherina di dorong mundur oleh siswa tersebut membuat Sherina kaget terdorong kebelakang dengan mata yang mengerjap.
"Harusnya. Gue yang nanya gitu ke lo. Lo gak tahu gue?"
"Dih? Kudu banget tahu lo?" seloroh Sherina yang kemudian naik keatas tangga untuk melompati tembok sekolah
"Heh! Gue belom nyuruh lu naik anjirr" panik laki laki tersebut melihat Sherina yang sudah naik saja tanpa aba aba dan perintah
Sherina yang sudah ada diperbatasan atas tembok menatap laki laki yang ada dibawahnya itu dengan senyum bangga "Loo, siapa nama lo?"
"Gue?"
"Engga, setan!" Kesal Sherina "Iyalah anjir lo, siapa lagi"
"Nanti juga lu tau sendiri"
Mendengar jawaban itu Sherina menaikan sebelah bibir kirinya, kemudian mencebik "Cihh, sok tenar. Yaudah ah byee!" Pamit Sherina yang kemudian terdengar bunyi loncatan kaki dan sesuatu yang terjatuh
Laki laki yang ada di sebrang tebok Sherina menghela nafasnya lelah "Makanya doraa, sabar! Dikira tembok disitu kaga sama tinggi apa sama disinii"
"Aduuuhhhh p****t gueeeeeeeee"
✨✨✨
Siang ini, kelas Sherina adalah pelajaran prakarya. Dan kini, kelas Sherina berada di labolatorium kerajinan. Masing masing sudah duduk di bangku mereka dengan tanah liat serta alat alat kerajinan lainnya di meja.
"Nah, seperti yang sudah ibu jelaskan di kelas, sekarang kalian bikin kerajinan yang dapat digunakan dan bermanfaat dengan bahan bahan yang ada di meja kalian. Dikumpulkan saat jam sekolah selesai yaa, nanti tolong ada yang bersedia mengumpulkan list karya teman temannya ke meja ibu?"
"Sherina bu"
Merasa namanya disebut, Sherina menatap sang sumber suara yang baru saja menyebut namanya. Kurang ajar, padahal dari tadi Sherina diam saja karena rasa sakit dipantatnya
"Apaan sih lu Destia! Sebut sebut nama gue, ngefans?"
"Pede banget! Malah alergi gue tuh sama lo!"
"Hiliihhh" seloroh Sherina sembari memajukan bibirnya "Alergi alergi, tapi nyebut nama gue. Ngefans bilang!"
"Dih mulai songong ye lu? Belagak bener!"
Mendengar selorohan tidak terima dari Destia, membuat Sherina mengibaskan rambutnya yang tidak dikucir itu dengan gaya "Emang singkong!"
"Songong, bege!"
"Suka suka gue dong, mulut mulut guee"
Wanita paruh baya yang berada didepan memukul rotan panjang kemeja guru "Sherina, Destia. Kalian berdua yang nanti akan mengumpulkan list nama nama teman kalian di meja ibu" putus guru prakarya yang bernama Retno tersebut
"Dihh, dia aja buk. Gak level seorang Sherina sama si dengkul ayam mah"
Destia yang mendengar perkataan Sherina, meletakan kedua tangannya di pinggang, menatap Sherina dengan bola mata besarnya "Lo pikir, gue mau? Iyuhhh amit amit tujuh turunan!"
"Yaudah gue tujuh tanjakan kalo gitu!"
"Dihh gue tujuh tikungan!"
"Gue tujuh salipan!"
"Cukupp cukupp" potong bu Retno kembali sembari memijat pelipisnya pening "Kalian tuh ribut didepan saya. Gak malu?" Kesal bu Retno kemudian melihat murid murid kelas "Ini juga, kalian temen sekelasnya. Gak ada yang mau misahin? Astagaa"
"Biarin aja bu, nanti juga cape sendiri"
"Iya bu, seru juga lagian nontonnya bu"
Lagi, bu Retno memijat pelipisnya pening. Ada apa sih dengan anak jaman sekarang? Kawannya berdebat kok malah di jadikan tontonan
"Yasudah sudah, pokoknya yang mengumpulkan Destia dan Sherina. Ibu tinggal, kalian lanjut mengerjakan kerajinan yang nanti dilaporkan ke Sherina sama Destia sesuai dengan deretannya"
Selepas peninggalan bu Retno dari kelas, Sherina menatap Destia dengan gaya bertolak pinggang, kemudian ikut melotot kearah Destia yang ikut dibalas balik oleh Destia.
"Ehh Da, seru jugak balik ke muda yaa. Gue bisa nuntasin masa bar bar gue yang kaga kesampean"
Ya salam, Alda menaikan kedua alisnya sembari menghela nafas lelah.
"Suka suka lu Sher, suka suka lu!"
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~