Leo Elbara itu keren. Meski rambutnya yang mulai memanjang itu dibiarkan awut-awutan. Leo Elbara itu tetap tampan, walaupun ketika di toko dia selalu mengenakan sendal jepit yang bentukannya sudah seperti barang rongsokan. Dan di mata Gizka, Leo Elbara itu selalu terlihat sempurna walau pakaiannya simple, hanya kaos dan celana selutut saja, namun selalu bisa membuat seorang Gizka kagum setengah gila. Perfect! Fisiknya ... tapi kalau sifatnya ... terkadang suka nggilani, itu menurut Gizka.
"Giz, coba kamu tanyakan lagi, itu gimana nasib barang returan kita?"
Damn!
Perintah yang keluar dari bibir sexy pria itu seketika menyadarkan Gizka betapa menyebalkannya Bosnya itu.
Fix! Gizka tarik kembali pujian-pujian yang ia layangkan kepada pria itu tadi.
Masalahnya adalah, seharian ini Leo terus saja meributkan masalah barang returan sialan itu. Membuatnya harus bolak-balik menghubungi bagian returan distributor mereka. Bukan sekali dua kali tapi berkali-kali, bahkan tanpa melihatnya secara langsung, Gizka bisa membayangkan betapa dongkolnya bagian returan mereka menjelaskan kepadanya tentang nasib barang returan mereka itu.
Bukan. Bukan Gizka tidak mengerti tapi bosnya saja yang kelewat nggak ada akhlak. Jujur, Gizka malu ... sungguh malunya nggak ada obat. Gizka mungkin saja dicap bodoh, bego, bawel, cerewet oleh mereka. Karena sudah berkali-kali dijelaskan tapi ia masih saja menelfon lagi dan lagi. Sialan emang si Leo kalau lagi kumat nyebelinnya!
Oke ... sabar Gizka ...
"Kan tadi saya sudah bilang, Bos. Kalau barangnya lagi kosong, belum ada gantinya." Kurang sabar apalagi Gizka menghadapi bosnya satu ini.
"Iya. Tapi, kan kamu juga bilang tadi. Kalau sore ini barangnya sampai."
Astajim! Harus berapa kali Gizka menjelaskan biar otak Leo yang cemerlang itu bisa mengerti. Rasanya mulut Gizka sampai berbusa menghadapi kebawelan Leo hari ini. Ughhhh ...!
"Iya. Memang mereka bilang barang dari China sampai sore ini, Bos. Tapi bongkar barangnya tetap menunggu antrian. Karena barang masuk mereka itu banyak banget Bos, ratusan koli. Dan semua ada prosesnya nggak bisa langsung main bongkar-bongkar aja," jelas Gizka masih mencoba sabar, mengulang penjelasan yang diberikan bagian returan distributor tadi kepadanya.
"Makanya itu, kamu kejar terus mereka. Supaya barang kita cepat diganti. Sudah ditungguin sama customer kita lho itu. Saya nggak mau dia pindah ke tempat lain dan bikin saya rugi."
Gizka menarik nafas pelan. Selalu saja Leo membuatnya dalam posisi susah.
"Iya, oke Bos," jawab Gizka lelah. Tangannya lalu meraih ponsel toko dan mulai menghubungi bagian returan pihak distributor. Tentunya dengan membawa serta rasa malunya yang berusaha ia sisihkan jauh-jauh demi memenuhi permintaan bos gilanya itu.
"Kamu nggak usah malu gitu, Giz. Pembeli itu adalah raja, lho. Kita berhak komplain, lagipula duit kita sudah sama mereka ini."
"Ah ... bangkelah," umpat batin Gizka gondok. Leo hanya menggeleng sekilas dengan senyum geli. Ia yakin Gizka pasti sedang misuh-misuh dalam hati saat ini.
"Bos, kalau nggak mau nunggu. Dipotong nota aja katanya," ucap Gizka setelah mematikan sambungan telefon. Nada bicaranya sedikit terdengar ketus.
"No. Saya nggak mau potong nota. Saya mau barang saya segera diganti, sudah ditunggu customer kita. Bilang sama mereka," tegas Leo keras kepala.
"Tapi, kan nggak rugi juga kalau dipotong nota juga, Leo. Kenapa sih harus dibikin ribet, toh nanti kita bisa order lagi kalau barangnya sudah ready. Atau kita bisa ambil di tempat lain aja dulu." Gizka mulai hilang kesabarannya.
"Kok kamu ngomongnya ngegas?" Leo menunjukkan mimik tersinggung. Gizka ini satu-satunya karyawan yang berani melawannya bahkan memarahinya, seperti sekarang ini.
"Haha ... enggak, Bos. Mana ada saya ngegas." Gizka memasang senyum palsunya. "Daritadi saya sabar, lho ...," imbuhnya dengan gigi gemerutuk menahan kesal.
"Enggak. Kamu pasti jengkel sama saya, kan?" tuduh Leo. Lagian sudah tahu pake nanya lagi. Geram Gizka dalam hati.
Gizka menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Lalu keluarlah unek-unek yang ia simpan sedari pagi.
"Lagian ya, Bosku yang paling ganteng sejagad raya. Potong nota nggak bakal bikin kita rugi justru malah untung. Lalu masalahnya di mana?"
"Untung buat kita?" Leo mengeryit, meminta penjelasan lebih.
"Yes! Barang itu dulu pas kita beli harganya masih tinggi sekarang udah turun banyak banget. Jadi kalau dipotong nota justru kita terhindar dari kerugian. Karena kita jual barang itu dengan harga baru lho, Bos dan itu sudah dibawah harga modal kita dulu. Jauuuh malah ...," jelas Gizka.
"Mereka potong pakai harga lama?"
"Ya, iyalah ...," jawan Gizka yakin. Karena bagian returan mereka sendiri yang menawarkan, mungkin sanking jengkelnya terus menerus diteror oleh Gizka. Akhirnya mereka tidak mau menawarkan solusi cepat daripada ambil pusing, hanya karena satu barang yang tentunya tidak akan membuat perusahaan merugi.
"Oh ... ya, udah kalau gitu. Potong nota aja," putus Leo enteng. Segampang itu? Huh ... daritadi kek Bambang!
"Lagian kamu nggak bilang daritadi. Jadi kamu, kan nggak harus uring-uringan begini." Leo tersenyum tanpa dosa. Padahal sedari tadi, Gizka selalu berusaha untuk menjelaskan tapi belum apa-apa, Leo terus kekeuh tidak mau potong nota.
"Bangkelah," umpat Gizka lirih. Namun masih terdengar di telinga sang Bos yang tajam.
"Giz, kamu ngumpatin saya?" Leo mendelik.
"Enggak," ketus Gizka, masih sebal dengan Bos gantengnya itu.
"Jangan cemberut gitu, dong. Nanti cantiknya ilang lho," rayu Leo tanpa tahu malu, lupa bagaimana bawelnya ia seharian ini pada karyawan terlamanya itu.
Serah lu dah Bambang ...
"Ngomong-ngomong, gimana? Kamu jadi mau ikut casting iklan salep panu?" ledek Leo dengan sengaja. Gizka akan segera lupa kalau sedang marah kalau diajak bercanda.
Aseemmm! Masih inget aja si Bos ...
"Enggaklah," jawab Gizka gemas.
"Kok? Kenapa?" Leo mengeryit. Sebelumnya gadis itu masih optimis bahwa mungkin ia memang harus melewati peran sebagai panu atau jamur dulu untuk meraih kesuksesannya sebagai artis papan atas.
"Saya yakin nggak bakalan lolos," ucap Gizka pasrah.
"Kok, kamu pesimis gitu? Kemarin katanya mau dicoba dulu, bayarannya juga lumayan. Padahal saya udah kasih ijin kamu, lho."
"Saya mundur bukan karena pesimis," elaknya. "Tapi nggak mungkin juga saya ketrima. Ya kali ... ada panu secantik, seimut dan sesexy saya," jelas Gizka penuh percaya diri.
Leo tergelak lepas. Ini nih yang membuat Leo betah di toko. Dia selalu suka dengan keceriaan dan kepercayaan diri Gizka yang penuh semangat juang, jujur dan apa adanya. Bahkan sama juteknya Gizka saja Leo merasa terhibur. Karena juteknya Gizka itu nggak serem malah sebaliknya, lucu.
"Selamat siang, Gizka." Sapaan seorang wanita cantik menginterupsi tawa sang atasan dan bawahan itu.
"Siang ...," balas Gizka ramah, ia mengenali perempuan cantik yang berkunjung sore itu ke toko mereka sebagai salah satu kekasih Bosnya.
"Hai Sayang ... temenin aku keluar, yuk." Fani masuk ke dalam toko dan menghampiri Leo.