Selepas sang Bos pergi dengan perempuan sexy itu, suasana di toko menjadi sedikit riuh penuh dengan obrolan para karyawan. Hal yang lumrah terjadi di manapun. Saat tak lagi dalam pengawasan atasan, otomatis ada semacam kelegaan yang membuat bawahan menjadi lebih rileks. Karena tak lagi di bawah tekanan.
Terlebih Leo termasuk Bos yang ketat dalam membuat peraturan saat jam kerja. Mungkin dibeberapa toko masih melonggarkan karyawannya memegang ponsel pribadi saat jam kerja. Tapi tidak di Elbara Cell. Aura Leo memang dari luar terlihat santai dan cuek tapi saat jam kerja, jangan salah ... dia selalu mau pekerjaan dikerjakan dengan sempurna. Apalagi kalau sampai ada kesalahan, karena karyawannya terlalu banyak mengobrol. Bisa panjang urusan dan ceramahnya. Bisa-bisa ada briefing dadakan yang membuat mereka harus pulang lebih malam dari jam kerja yang seharusnya.
Itulah salah satu yang membuat para karyawan tidak betah, selain karena gaji yang memang tak seberapa. Hanya beberapa yang mampu bertahan dan mengantongi gaji yang lumayan. Salah satunya tentu saja Gizka. Itupun dia harus memakai jurus merayu dan mengancam dulu baru si Leo Elbara yang super perhitungan itu mau menaikkan gaji ataupun memberinya pekerjaan tambahan. Demi apa coba, kalau bukan demi membantu meringankan beban orang tuanya, menyekolahkan dua adiknya. Setidaknya Gizka ingin masa depan mereka bisa lebih baik. Jangan sampai nasib mereka sama gembelnya dengan dirinya nanti.
"Giz! Daerah kosan kita katanya kebakaran ...," seru Adnan, bagian teknisi toko Elbara itu panik.
"Serius lo, Nan?!" Gizka yang tengah serius mengecek barang masuk sampai terlonjak kaget. Nyaris saja ia menjatuhkan lcd iphone yang tengah dipegangnya.
Ya salam ... untung saja tangannya sigap menangkap benda pipih itu kembali. Kalau tidak, bisa-bisa gajinya yang sudah menyedihkan itu musti kepotong lagi untuk mengganti kerugian Bosnya. Sumpah! Ia tidak rela dunia akhirat.
"Seriuslah ... nih teman gue bikin status," tukas Adnan sembari membereskan pekerjaannya, bersiap untuk pulang.
"Terus gimana, nih?" Gizka mulai panik. Tangannya masih gemetaran memegang lcd iphone itu layaknya harta karun berharga. Otaknya tiba-tiba blenk dalam waktu bersamaan dikejutkan dua kejadian tak terduga.
"Ya pulanglah, siapa tahu masih ada barang yang bisa kita selametin ...."
"Ya udah gue ijin Bos dulu ...." Pada akhirnya kesadaran Gizka kembali. Segera ia membereskan barang masuk yang hampir selesai diceknya itu.
"Kelamaanlah ... palingan si Bos lagi asyik mantap-mantap tuh sama ceweknya," tukas Adnan tak sabaran.
"Ck ...." Gizka berdecak. Namun tentu saja, dialah yang paling tahu kebobrokan seorang Leo Elbara dan saksi mata nyata sang Bos yang sering membawa pacar-pacarnya itu ke rumah, juga kamarnya. Dan Gizka tidaklah sepolos itu untuk tidak tahu apa yang terjadi di sana.
Satu nilai paling minus sang Bos di matanya.
"Udahlah, Mbak Gizka mah karyawan kesayangan Bos ini ... kalau Bos ngomel, omelin balik aja kaya biasa." Saroh terkikik geli ikut menimpali melihat perdebatan dua rekannya itu.
"Bener, tuh ... Bos mah udah jinak ini sama lo. Hahay...." Dilanda panik masih sempatnya Adnan malah mengajak bercanda.
"Sialan lu berdua ... dikira gue pawang," sungutnya yang malah disambut tawa rekan-rekannya. "Ya udah yuk buru ... Sar, awasi toko sama yang lain. Ingat tuh ada cctv, jangan pada macem-macem. Ntar gue lagi yang kena omel ...," pesan Gizka mewanti-wanti. Bukan ia tak percaya pada rekan-rekannya tapi namanya isi kepala dan hati orang banyak kan tidak ada yang tahu. Ya, kan?
Sementara dialah yang diberi kepercayaan sang Bos untuk meng-handle toko selama sang pemilik pergi. Otomatis kalau terjadi apa-apa, ialah orang pertama yang akan dicari Leo untuk mempertanggung jawabkan semua.
"Udah ... ayo, Giz ." Adnan menarik tangan Gizka keluar dari toko, tak sabar kalau harus menunggu kekhawatiran Gizka mereda. Menurutnya, Bos mereka pasti akan mengerti keadaan darurat saat ini.
***
Si jago merah melalap habis perkampungan padat penduduk itu hampir setengahnya. Asap hitam mengepul tinggi. Gizka berlari terengah mengikuti Adnan menuju kosan mereka sambil melihat kepanikan orang-orang yang berusaha menyelamatkan harta benda juga petugas pemadam kebakaran yang tengah sibuk memadamkan api.
"Nan ... kosan kita ... ?" Gizka menatap gang kecil menuju kosan mereka yang tertutup asap tebal dengan perasaan campur aduk. Memang tak ada barang yang berharga, selain baju-baju dan barang-barang keperluan sehari-hari. Tapi tetap saja, harus di mana ia tinggal setelah ini. Mencari tempat tinggal baru bukanlah hal yang mudah. Belum pakaian tinggallah yang melekat di badan. Itu artinya akan ada pengeluaran lagi, yang mau tak mau harus ia ambil dari tabungan pribadi yang dengan susah payah ia sisihkan.
"Kebakar semua, Giz ...." Adnan tak kalah nelangsa. Nafasnya masih terengah karena mereka terus berlarian sepanjang jalan tadi.
"Terus kita gimana?" Gizka kalut. Ia mensyukuri bahwa setidaknya mereka selamat dari musibah ini. Tapi ia juga tak bisa mengabaikan tentang pengeluarannya yang membengkak karena kejadian ini. Kemarin saja ia sudah mengambil dari tabungan yang sengaja ia sisihkan, untuk menambah kiriman uang untuk biaya sekolah adik keduanya yang baru masuk SMA. Rasanya ada saja halangan yang membuatnya susah untuk menyisihkan uang untuk masa depannya sendiri.
"Sabar, Giz ...jangan nangis dong ...." Adnan menepuk pundak rekannya itu berusaha menghibur. Meski nasibnya sendiri sama saja ngenesnya.
"Siapa yang nangis ... mata gue perih kena asep, Dodol," elaknya jutek berusaha menutupi kelemahannya. Ia memang selalu berusaha terlihat ceria seperti tak punya beban hidup di hadapan rekan-rekan kerjanya. Padahal ada banyak hal yang ia pikirkan.
"Kirain lu nangisin kosan lu yang kebakaran ...." Adnan garuk-garuk kepala kebingungan.
"GIZKA!" Sebuah teriakan mencuri perhatian mereka ditengah hiruk pikuk kekacauan yang terjadi. "Bantuin Gue!" seru Monic panik. Gegas saja Gizka berlari mengikuti sahabatnya itu. Kebetulan api memang belum sampai merembet ke gang kosan Monica. Meski memang asap menghalangi pandangan mereka.
"Barang-barang berharga gue ada di kosan semua." Monica hampir menangis, menaiki tangga dengan terseok begitu pun Gizka yang berulang kali terbatuk karena asap yang menyesakkan.
"Tenang, Mon ...." Terengah Gizka berusaha menenangkan Monica yang sudah nampak kalut. Langkah mereka harus bertabrakan dengan penghuni kosan lain yang juga sibuk menyelamatkan barang-barang sebelum api lebih dulu menyambar habis kosan dua lantai itu.
"Sini gue aja yang buka kuncinya ...." Rasa panik yang luar biasa membuat tangan Monica gemetar dan kesulitan membuka pintu.
Perempuan muda itu menyerah lalu menyerahkan kunci di tangannya pada Gizka.
"Tolong, Giz ... foto sama kalung peninggalan nyokap gue ada di dalam. Itu kenang-kenangan satu-satunya dari Mama yang gue punya ...."
"Tenang, Mon ...." Gizka akhirnya berhasil membuka kamar kosan bernomor lima belas itu. Bersamaan dengan teriakan yang menyerukan bahwa api sudah sampai ke kosan mereka.
"Buruan keluar! Apinya sudah mau nyampe sini!" Teriakan seseorang semakin membuat keduanya panik.
"Buruan, Mon! Ambil yang mau kamu ambil!" seru Gizka dilanda panik. Ia pun membantu mengambil apa saja yang bisa diselamatkan sementara Monica segera membongkar lemarinya untuk mencari benda berharga peninggalan mendiang Ibunya.
"Buruan, Mon!" Semakin lama nafas kian sesak ditambah hawa panas membuat nalurinya meminta untuk segera melarikan diri. Tapi dia tak tega kalau sampai meninggalkan Monica lebih dulu. Maka setelah Monica berhasil mendapatkan barangnya, Gizka mendorong sahabatnya itu untuk berlari lebih dulu. Sementara ia menyusul di belakangnya. Naasnya karena terlalu panik dan penglihatan yang terhalang asap. Gizka tersandung magic com yang tergeletak ditengah jalan hingga membuatnya terjatuh dan kepalanya membentur pagar yang menjadi pembatas tangga. Barang-barang di tangannya berhamburan terlepas begitu saja. Kepalanya tiba-tiba pusing dan matanya berkunang. Ia berusaha untuk bangun. Satu yang pasti, ia belum ingin mati, ia ingin selamat. Itu yang ia pikirkan hingga berusaha untuk bangkit meski rasa sakit mendera tubuhnya.
"Gizka mana?" Samar ia mendengar suara tak asing dari bawah yang mengkhawatirkannya. Setelah itu ia mendengar langkah kaki yang berlari menaiki tangga besi itu dan muncullah sosok sang Bos di sana.
"Gizka! Kamu mau cari mati apa gimana!" Bentak Leo marah. Belum sempat ia ingin bertanya kenapa Bosnya itu bisa di lokasi kebakaran. Gizka dikejutkan dengan gerakan cepat Leo yang mengangkat tubuhnya tanpa aba-aba sama sekali.
"Bos. Sa-saya bisa jalan sendiri," seru Gizka shock juga tak enak hati. Tapi Leo tak menggubrisnya dan langsung membawanya menuruni tangga masih dengan wajah dinginnya. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain berpegangan erat pada leher kokoh itu. Karena ia menyadari keadaan di sekeliling mereka sudah genting dan api merembet dengan begitu cepatnya.
"Kok Bos bisa di sini?" tanyanya penasaran.
"Kalau kamu mati saya gimana?" Bukannya menjawab, Bosnya itu malah balik bertanya marah.
"Me ... mang ...kenapa?" tanya Gizka polos. Benar-benar tak mengerti dengan sikap Bosnya yang tiba-tiba marah atau mungkin ... sedang mengkhawatirkannya itu.
"Kalau kamu mati ... saya nggak punya pembantu lagi di rumah. Cuma kamu yang mau dibayar murah soalnya ...," jawabnya tanpa hati.
Gizka memandang Bos kampretnya itu manyun. Wajahnya memerah menahan kesal.
LEO ELBARA SIALANNNN!!!