Seatap

1031 Kata
Leo menyodorkan sebotol air mineral ke hadapan Gizka. Tanpa pikir panjang gadis itu langsung menyambar dan meneguk air dingin itu. Tenggorokannya rasa kering kerontang lantaran terus-terusan berlarian semenjak tadi. "Makasih, Bos," ucap Gizka setelah menenggak nyaris setengah botol air berukuran sedang itu. Dahaga yang menyiksa sebelumnya akhirnya tertuntaskan sudah. "Sakit?" Tubuh Gizka sontak membeku manakala Bosnya itu mengusap hati-hati benjolan cukup besar yang terasa nyeri di dahinya akibat insiden tersandung dan menabrak pagar pembatas tadi. Wajah berkeringat itu kian memerah ketika sang Bos dengan tak tahu malunya meniupi benjolan itu, padahal ada banyak orang yang sedang memperhatikan mereka. Astaga ... ini apa-apaan maksudnya? Mata Gizka bergerak ke kanan dan ke kiri menatap teman-temannya yang terbengong menyaksikan sikap Leo padanya. Terlebih bagi yang sama sekali tidak mengenal, pasti berpikir bahwa mereka adalah pasangan kekasih yang romantis. Apalagi ditambah drama memalukan saat Leo menggendongnya ala-ala bridal yang sempat membuat heboh tadi. Gizka merasa malu sendiri dengan sikap Bosnya yang menurutnya terlalu berlebihan itu. "Y-ya sakitlah ...," jawab Gizka sok jutek dan spontan saja mendorong tubuh Leo menjauh darinya. "Apa sih kamu, Gizka?" ujar Leo tak terima, hampir saja ia terjengkang dari kursi kayu itu kalau ia tak lekas menjaga keseimbangannya. "So-sorry ...," ucapnya antara gugup dan malu. "La-lagian ngapain juga pake ditiup-tiup segala ... memangnya saya kelilipan?" imbuh Gizka lagi dengan gaya bicara cablaknya. Ada-ada aja, deh. "Astaga ... kamu itu, ya, Giz. Dikasih perhatian malah ... dasar ...," balas Leo kesal. "Apa sih, ah ... lagian saya nggak minta dikasih perhatian, tuh ....,"Gizka melirik cuek sembari berusaha menutupi benjolan di dahinya dengan rambut. Leo melotot. Jengkel bukan main. Baru kali ini menemukan cewek seajaib Gizka dan anehnya lagi, kenapa ia harus seperhatian ini sama karyawannya yang jutek dan galak itu. "Terserah kamulah." Pria itu berdiri. Melirik kesal pada Gizka yang malah sibuk dengan benjolan dan rambut panjangnya. "Ayo ...." Gizka mendongak bingung. "Kemana? Ya Allah, Bos ... baru juga kena musibah masa langsung disuruh kerja lagi, sih ... setidaknya biar saya cari tempat tinggal dulu kek. Nih, saya aja baju tinggal ini satu-satunya yang tersisa," ucapnya memelas. "Siapa yang suruh kamu kerja, Gizka?" Leo memutar bola matanya malas. "Kamu pulang sama saya?" "Pu-pulang kemana?" tanyanya bingung. "Pulang ke rumah sayalah. Memang mau kemana lagi?" Leo mulai geregetan menghadapi otak Gizka yang lemot. "Memang kamu mau tinggal di mana?" "Oh ... maksudnya, Bos mau nampung saya sementara waktu gitu? Ya ampun ... bilang dong dari tadi," sambut Gizka kegirangan hingga tanpa sadar menepuk lengan atasannya itu. Sedari tadi ia sudah kebingungan mau mengungsi di mana. Lebih tepatnya bingung dengan keuangannya. "Iya ... katanya kamu mau naik gaji. Sekalian aja kamu urus semua kerjaan rumah. Kalau kamu tinggal sama saya, jadi gampang juga saya kalau butuh apa-apa, pengen makan, pengen dipijat misalnya, tinggal nyuruh kamu ...." Gizka menatap Bosnya itu keki bin geregetan. Jadi, ada barter dari kenaikan gajinya. Tugasnya sebagai babu bertambah. Dia juga harus membuat sarapan atau mungkin makan malam untuk Leo, dan apa tadi? Mijitin majikan juga? Kenapa nggak sekalian aja jadiin gue bini lo, Bambang? "Ya iya ... kamu butuh uang dan saya butuh tenaga kamu," ujarnya tanpa beban. "Hehe ... iya aja," jawab Gizka pasrah. Sudahlah, penting sekarang ia punya tempat tinggal dulu. Nanti kalau sudah gajian, ia bisa mencari kosan baru. Kalau perlu cari pekerjaan baru sekalian. Bodo amatlah sama Bos bangsulnya. *** "Bos! Makanan sudah siap!" seru Gizka sembari menata makanan di meja. Emang kampret bener si Leo! Rencananya pengen istirahat dan meratapi nasib sejenak sambil rebahan. Bagaimanapun ia baru saja terkena musibah. Bisa-bisanya, Leo malah menyuruhnya memasak ini itu dengan alasan lapar. Padahal setidaknya bisa beli dulu, kek. Ya ampun ... kesel banget Gizka jadinya. "Bos ... saya mandi dulu, ya," izinnya ketika melihat Bosnya itu keluar dari kamar. "Makan dulu aja, baru mandi," titahnya sembari mencomot sepotong ayam asam manis, menarik kursi lalu duduk dan bertingkah layaknya juri master chef. "Enak ...." Senyum Gizka mengembang mendengar pujian itu. Padahal sejak merantau ia sudah jarang memasak, hanya sesekali saja saat Leo memintanya. "Serius, Bos?" tanya Gizka memastikan. Takutnya Leo hanya sedang mengerjainya , menaikkannya lalu menghempaskannya jauh ke dasar. "Hemm. Ambilin, Giz ... nasinya jangan banyak-banyak," titahnya lagi yang membuat Gizka terbengong. Gila! Gue udah kaya bininya aja ... Gizka merengut, mengisi piring dengan nasi dan lauk-pauk yang diinginkan Bosnya. "Kamu juga ... makan yang banyak ...." Gizka menatap sang Bos dengan wajah berbinar tak percaya. Kesambet setan mana, Leo Elbara jadi sebaik ini? "Makasih, Bos," ucap Gizka tulus lalu ikut duduk dan mengambil nasi juga lauk-pauk. Jangan ditanya lagi, dia juga sudah menahan lapar sedari tadi. "Btw ... maaf, ya, Bos tadi ...," ucap Gizka sembari mengunyah makanannya dengan lahap. "Maaf buat?" Dahi Leo berkerut. Tak mengerti anak buahnya itu minta maaf untuk hal apa. "Iya ... gara-gara saya, Bos nggak jadi mantap-mantapan sama Mbak Fani," jawab Gizka dengan entengnya. Kunyahan Leo melambat. Pandangannya tertuju pada raut polos tanpa dosa milik Gizka yang asyik menyantap makan malamnya. Entah kenapa, tiba-tiba saja ia merasa kesal dengan anak buahnya itu. "Buat apa minta maaf? Kan, sudah ada kamu gantinya," balas Leo tak kalah entengnya. Ia tersenyum puas melihat Gizka yang langsung tersedak dan terbatuk-batuk mendengar kalimatnya. "Mak-maksudnya?" Gizka menatap senyum kurang ajar Bosnya itu keki. "Masa kamu nggak ngerti maksud saya?" Senyum m***m Leo kian melebar, membuat Gizka mundur dan bergidik ngeri. "Jangan kurang ajar ya, Bos!" Sontak Gizka berdiri dan menggebrak meja. "Biar gembel saya punya harga diri ...," imbuhnya sembari menutup dadanya dengan maksud melindungi diri. Sembarangan! Dasar Bos bangsul! "Hahaha ... apa sih kamu, Gizka? Saya cuma becanda ... lagian saya juga nggak nafsu sama kamu." Leo melempar senyum mengejek, tatapannya lurus ke d**a Gizka yang ... terlihat rata. Mata Gizka mengerjap. Tangannya masih terangkat di depan d**a. Sialan! Dasar Bos m***m! "Ba-baguslah." Gizka menurunkan tangannya dan kembali duduk. "Cih, lagian gue juga nggak nafsu sama situ, Bangsul," gumam Gizka geram-geram kesal. "Kamu ngumpatin saya, Giz?" Leo sudah hapal sekali kebiasaan anak buahnya itu yang hobi sekali mengumpatinya jika sedang kesal. Tapi anehnya ia tidak bisa marah, malah justru merasa lucu melihat mimik Gizka yang muncu-muncu. "Hehe enggak ...," jawab Gizka dengan senyum geregetan. "Makan Bos, makan ...." SEBELUM KAMU YANG SAYA MAKAN! ARGHTT!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN