Ogah Berjodoh

1025 Kata
"Selamat pagi, Dunia ...," Gizka membuka matanya tepat ketika alarm ponselnya berbunyi. "Dan selamat menjalani dunia perbabuan yang sesungguhnya, Gizka Amanda!" Gadis itu melompat turun dari tempat tidurnya, menguncir rambut panjangnya kilat, mengumpulkan semangatnya dan ia siap untuk menjalani aktivitasnya hari ini. Semalam mereka sudah membicarakan ulang tentang masalah pekerjaan dan gaji. Leo memberikan daftar pekerjaan rumah baru yang harus dikerjakannya. Kata Leo, itu sebagai imbal balik karena dia sudah berbaik hati memberikan tempat tinggal gratis dan nyaman untuk Gizka. Masalah gaji, tetap akan dinaikkan sesuai kesepakatan awal dan tidak ada hubungannya dengan pekerjaan perbabuan yang menjadi tugasnya kini. Cekatan Gizka melakukan satu demi satu tugas yang diberikan sang Bos padanya. Semalam si Leo Elbara request ingin sarapan capcay kuah bakso, katanya dia bosan tiap hari makannya pagi, siang, malam nasi padang melulu. Oleh karenanya pagi-pagi Gizka sudah nongkrong di tukang sayur yang keliling kompleks untuk membeli bahan-bahannya. Bahkan Bosnya itu juga ingin dibuatkan bekal untuk makan siang dengan menu ini itu yang membuat Gizka cukup lama harus berkutat di dapur. "Gizka!" Seru Leo dari dalam kamar. "Ya, Bos!" jawab Gizka balik berseru. "Tuh kenapa lagi si Bangsul?" gumam Gizka bertanya-tanya. "Kamu nggak nyuci celana dalam saya?" Leo muncul dari dalam kamar hanya dengan celana kolor pendek yang meresahkan pandangan mata perawan Gizka. Gadis itu meneguk ludahnya kasar dan segera mengenyahkan bayangan kotor di otak mesumnya. Sialan si Bos! "Y-ya nggaklah, Bos ... kan dari awal perjanjiannya kolor cuci sendiri," jelas Gizka mengingatkan dengan muka jijik yang tak dibuat-buat. Astaga ... gue udah kaya bininya aja, pagi-pagi udah ngeributin kolor ijo ... "Mukanya biasa aja dong, Giz ...." Melihat wajah tersinggung Bosnya, spontan Gizka memperbaiki mimik mukanya menjadi biasa kembali. Lagian siapa suruh keluar dengan pakaian begitu. Ga ada akhlak emang! "Padahal palingan nanti kamu juga suka sama isinya," gerutu Leo menyeringai kesal. Prang! Sendok di tangan Gizka meluncur bebas, jatuh mengenai piring. "Ma-maksudnya, Bos?" Mimik geli Gizka kembali. Kali ini lebih parah dari sebelumnya. Jijik tingkat akut. Anjir! Nggak ada akhlak banget Bangsul ... bisa-bisanya ngomong begitu sama perawan! "Padahal kamu tinggal masukin mesin cuci aja sekalian, kucek-kucek bentar. Apa susahnya sih, Giz?" gerutunya kesal sembari masuk kembali ke kamar dan membanting pintu keras. "Ishhh apa, sih ... lagian dari dulu juga gue udah bilang ogah kalau musti nyuciin kolornya. Iiiiihh ... jijay badai ...." Gizka bergidik ngeri. "Kenapa gak nyari istri aja, sih ... daripada bikin dosa tiap hari ... dasar aneh ...." *** "Giz, tumben Bos belum dateng?" tanya Adnan yang sedang sibuk mengotak-atik servisannya. "Tauk ... lagi jemur kolor kali," jawab Gizka dengan entengnya sembari membungkus rapi barang cacat dari barang masuk yang baru rampung ia cek beberapa saat lalu, karena ke-pending insiden kebakaran kemarin. "Sotoy lu, Giz ...." Adnan tertawa ngakak. Gibahin Bos mereka memang menjadi hiburan tersendiri yang mengasyikkan. Apalagi gibahnya bareng Gizka yang solo pak dan cablak. "Serius gue ... tadi pagi gue ribut di rumah sama dia gara-gara kolornya abis." Gizka memulai sesi curhatnya. Mereka berdua memang dekat, karena sama-sama karyawan yang terlama di toko Elbara. "Parah ... gimana sih, lu jadi bininya." Adnan kembali ngakak. "Sableng lu ... ogah gue juga jadi bininya." Gizka bergidik ngeri. "Yakin, lu? Gitu-gitu Bos ganteng, lho." "Ya itu mah gue juga tahu. Kalau nggak ganteng, mana mau tuh cewek-cewek cakep ajep-ajep sama dia." "Tapi kayaknya Bos suka, deh sama lo, Giz," ucap Adnan, menilik dari perlakuan sang Bos kemarin yang super perhatian pada Gizka. Juga melihat bagaimana keseharian dua orang itu saat di toko. Diam-diam Adnan sering mengamati kelakuan atasan dan rekan kerjanya itu. "Hahaha ...." Gizka tertawa hambar. Leo Elbara? Suka sama dia? Cuma bisa bilang ... MUSTAHIL! "Lo belajar ngarang di mana, sih?" Gizka menoyor kepala Adnan. Dasar bocah sableng! "Dih, gue serius, Giz ... sikap Bos ke elu tuh ... beda gitu. Kaya ada manis-manisnya gitu," ujarnya menirukan jargon sebuah iklan air mineral. "Huahahaha ... lucu ... lucu." Gizka terbahak cukup keras. Menurutnya, ada-ada saja si Adnan. Manis dari mananya coba? Setiap hari dia diomelin, disuruh ini itu. Belum juga diangkat jadi babu. Kaya gitu dibilang Leo suka sama dia? Heloww. Apa kabarnya itu pacar-pacarnya yang sering diajak ajep-ajep? "Idih ...gue serius, Giz." Kali ini Adnan bicara lebih meyakinkan. Feeling-nya mengatakan bahwa ada sesuatu yang berbeda dengan sikap Bosnya itu ke rekan kerjanya. "Hadeh ... banyakan halu lu, Mbel." Sebuah getokan ringan dari pulpen yang ia gunakan untuk menulis nota retur mendarat di kepala Adnan. "Kalau dugaan gue bener gimana?" tantang Adnan. "Mus-tah-hil," jawab Gizka yakin. "Kalau "misalnya" bener gimana, Giz? Lu mau nggak?" Adnan penasaran. "Ogah." Gizka menjawab mantap. Tanpa keraguan sama sekali. "Yakin, lu? Bos ganteng parah gitu ... yakin bisa nolak?" "Hadehh ... bagi gue, ganteng aja nggak cukup. Buat apa kalau nggak setia. Cuma makan ati ... mana hobinya ajep-ajep sana-sini lagi. Bekasan banyak orang ... nggak kebayang deh jadi istrinya ... jijai badai ... belum kalau gue ketularan penyakit kelamin gimana." Gizka bergidik ngeri. Tangannya terus bergerak melakban rapat barang yang hendak diretur. "Wkwkwkw. Jangan gitu, Giz ... siapa tahu lo berjodoh sama Bos. Masa depan nggak ada yang tahu, Giz," goda Adnan. "Ogah. Titik." Tegasnya dengan penuh keyakinan. "Apa sih lu, Nan colek- colek." Gizka menepis tangan yang mencolek berulang di pundaknya. "Adnan!" Lama-lama Gizka kesal juga pundaknya ditowel terus-terusan. Akhirnya ia berbalik kesal, dan siap untuk mengomel panjang lebar pada rekan kerjanya itu. Tapi ... Damn! Matanya membelalak kaget dan bibirnya mendadak kelu seketika. "Hehe ... ba-baru datang, Bos?" sapanya dengan tawa hambar. "Hemm ... seneng, ya kalian gibahin saya?" sindirnya dengan wajah dingin. Tapi tatapannya hanya lurus ke arah Gizka yang berada di hadapannya. "Hehe ... sorry, Bos ... khilaf," jawab Gizka seperti biasa. "Khilaf kok tiap hari. Sini saya hukum kamu," ucapnya sembari menuju kursi kerjanya. "Saya aja, Bos?" Gizka menunjuk dirinya sendiri sembari melirik Adnan yang menunduk dengan wajah menahan tawa, keki. Mereka, kan gibahnya bareng-bareng? Masa dia saja yang dihukum .... "Iya ... kamu aja. Sini pijitin saya, badan saya pegel semua gara-gara kamu," keluhnya masih dengan wajah jengkel. "Issh ...." Gizka mendesis keki tapi menurut juga. Ya elah, Bambang ... nyuci kolor berapa biji aja badannya pada sakit. Giliran ajep-ajep aja nggak ada capeknya ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN