Leo si Singa

1031 Kata
Gizka membanting tubuhnya ke atas tempat tidur. Lelah bukan main. "Nyamannya ...." Gadis itu menepuk kasur empuk di rumah bosnya itu sembari menguap lebar. Berbeda dengan kasur di tempat kosnya dulu yang hanya kasur lantai tipis. "Gizka!" Seruan itu membuat mata Gizka yang tinggal beberapa watt memaksa membuka lebar. "Ya elah ... kenapa lagi sih tuh si Bambang," keluh Gizka sembari menghembuskan nafasnya kasar. Padahal ia sudah teramat mengantuk dan ingin lekas terbang ke alam mimpi. "Ya Bos!" jawab Gizka lantang. "Buatin saya makan malam!" Suara Leo terdengar di depan pintu beserta ketukannya. "Hufft ...." Lagi-lagi gadis itu menghembuskan nafas kasar, menatap langit-langit kamar. Memang benar. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Sudah numpang tinggal, terus ongkang-ongkang kaki dan berleha-leha layaknya ratu. Mana ada, Gizka? Nyatanya juga, Bos kamu itu bukan manusia berhati malaikat. Lihat aja, betapa sensinya dia hari ini karena kamu gibahin tadi siang. "Padahal memang bener, kan dia hobinya maksiat ... cih," gumam-gumamnya kesal mengingat sikap Leo yang menjengkelkan hari ini. Perlahan, ia memaksa tubuhnya yang lelah untuk bangkit. Berjalan keluar kamar dengan langkah gontai. Dilihatnya Leo sedang bersantai di ruang tengah sembari memainkan ponselnya. Televisi di depannya menyala, tapi hanya untuk pajangan saja. Karena fokus pria itu bukan ke layar datar besar di hadapannya melainkan ke layar kecil. "Buatin saya mie rebus, pakai telur dua, sosis sama sayur yang banyak," titahnya tanpa sedikitpun menoleh dari benda pintarnya. "Siap, Bos," jawab Gizka lemas sembari berjalan ke dapur dan siap berjibaku dengan panci juga bahan-bahannya. Tak butuh waktu lama, makanan instan yang tak sehat itupun jadi. Segera ia memanggil bosnya itu supaya lekas menyantap makan malamnya sebelum mie-nya mengembang dan tak layak dimakan. "Kamu nggak bikin?" tanyanya ketika melihat hanya ada satu mangkuk saja di atas meja makan. Gizka mengerjap. "Emang boleh?" tanyanya dengan binar harap. Secara bosnya itu kan merki bin meditnya naudzubillah. Kalau nggak ngemis-ngemis sama ngancem dulu, nggak bakal gajinya dinaikkan dengan kesadaran sendiri. Leo berdecak, menatap karyawannya itu dengan wajah tersinggung. "Ck ... kamu pikir saya pelit banget apa?" Cih ... jadi selama ini, dia nggak nyadar. Leo menggeleng kesal. Dari mimik muka Gizka yang nampak nyinyir saja ia sudah bisa menebak kalau anak buahnya itu pasti sedang menggibahinya dalam hati saat ini. "Jadi ... boleh, Bos?" tanya Gizka hati-hati. "Hemm ...," jawab Leo masih dengan wajah jengkel. Karena ternyata seminus itu dirinya di mata anak buahnya. Sialan! "Ehm ... Bos?" Gizka menatap Bosnya ragu-ragu. "Apalagi, Gizka?" tanya Leo galak. "Ini nggak dipotong gaji, kan, Bos?" Senyum Gizka melebar aneh. Bukannya apa-apa, sekali lagi kadang Bosnya itu perhitungannya bikin najis. Apalagi kalau omset toko sedang menurun. Leo melotot dengan wajah galak, membuat senyum di bibir Gizka memudar perlahan. "Sorry, Bos ...," lirihnya takut-takut. "Saya bikin mie dulu ...." Gizka mundur. "Makasih Bosku yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung," pujinya dengan menampilkan senyum lebarnya dan secepat kilat kabur ke balik panci sebelum bosnya berubah pikiran dan hilanglah kesempatan makan gratis malam ini. Meski hanya semangkuk mie instan. Lumayan, penghematan. Sementara itu di meja makan, Leo masih menatap bengis anak buahnya itu. Memangnya seburuk itukah dirinya selama ini? *** Gizka menikmati mie rebus super pedasnya dengan perasaan terancam. Berkali-kali bahkan ia sulit menelan dan terbatuk-batuk karena tindakan kurang menyenangkan bosnya itu. Bagaimana tidak? Leo Elbara yang sudah kenyang itu bukannya jinak justru nampak sangar mengawasinya makan. "Ya salam ... berasa lagi diawasi Singa," keluh Gizka dongkol. Suara ketukan pintu sedikit mengurai ketegangan di meja makan itu. Sadar diri posisinya, juga keinginan untuk melarikan diri dari bos Singanya. Gizka lekas berpamit membuka pintu ke depan. "Saya ke depan dulu, Bos," ucap Gizka seraya meluncur secepat kilat ke depan sampai membuat Leo menggelengkan kepalanya. Sementara itu, begitu membuka pintu, Gizka langsung menelan ludah ketika menjumpai sosok cantik dengan senyum menawan menyapanya ramah. "Hai, Giz ... Leo ada?" Namanya Amara. Setahu Gizka, wanita cantik ini adalah salah satu teman kencan bosnya. Meski ngakunya 'hanya' teman. Ya kali teman tidur maksudnya. Emangnya ia bisa dibodohi. "A-ada," jawab Gizka sembari menggeser posisi berdirinya, memberi jalan pada tamu cantik itu untuk masuk. "Kok, kamu masih di sini jam segini?" "Biasa, Mbak ... mbabu," jawab Gizka dengan gaya cablaknya, membuat wanita itu tertawa renyah. "Ada-ada aja kamu ...." Amara menggelengkan kepalanya. "Tapi betah, ya, kamu sama Leo. Dia, kan bos pelit ...," imbuhnya serupa bisikan dengan kikikan kecil. "Butuh, Mbak," jawab Gizka apa adanya. Sekilas ia melirik perempuan yang memiliki body ala gitar spanyol itu. Merasa sedikit terheran. Kalau sudah tahu pelit, kenapa banyak perempuan-perempuan pada doyan sama bosnya, terkesan royal dan mau aja dibegoin. Kemudian, Gizka memutar bola matanya malas. Tentu saja daya tarik bosnya itu ada di wajahnya yang harus Gizka akui memang ganteng gila. "Cariin saya kerjaan dong, Mbak ...." Gizka tak pernah melewatkan kesempatan sekecil apapun untuk mendapatkan pekerjaan lain yang lebih baik. Tapi baru juga ia selesai bicara, memperjuangkan mimpi sederhananya. Begitu menatap ke depan, jantungnya nyaris copot ketika mendapat tatapan sangar sang Singa alias "Leo Elbara". Astaga ... kenapa sih si bos bangsul? Mukanya dari siang nggak ngenakin banget. Kaya baru sekali aja gue gibahin. Heran .... Gizka langsung membuang muka, begitu dua manusia di depannya saling bercipika-cipiki ria. "Kita ke kamar aja." Gizka masih sempat melihat lirikan keki sang Bos. Cih, apa maksudnya coba. Kalau mau maksiat, ya maksiat aja sono ... sempet-sempetnya pake ngelirik-ngelirik gue. Mau ngajakin gitu ... ogah!" batin Gizka kesal. "Gizka!" Ya elah ...pake teriak-teriak segala lagi si Bambang. Emangnya lagi di hutan. "Ya, Bos!" Dan herannya dia sendiri juga malah ikutan teriak. "Jangan lupa beresin meja makan, dapur juga harus bersih," titahnya. "Siap, Bos," jawab Gizka lantang. Brak! Pintu ditutup kencang membuat tubuh Gizka berjengkit kaget. Tangannya mengelus dadanya yang nyaris jantungan. "Ya ampun ... punya Bos begini amat. Tadi pagi ngeluh badannya pegel semua cuma gara-gara nyuci kolor dan bikin gue jadi tukang pijit mendadak. Sekarang udah mau ajep-ajep lagi," cerocos Gizka sembari tangannya sibuk membereskan mangkuk bekas makan. "Dasar Adnan sotoy ... sempet-sempetnya juga gue baper. Amit-amit dah, punya suami modelan begitu." Gizka merinding geli tapi otak korengannya mulai kacau membayangkan adegan-adegan di balik pintu kamar bosnya. "Ya Allah ... najis banget otak gue." Gizka membenci otaknya yang tiba-tiba kelewat m***m. Kenapa gue harus kepo begini, sih?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN