Embusan angin menyapu wajah tampannya itu, seketika membuat pikirannya sedikit tenang. Laki-laki itu mengembuskan napas pelan, menengadahkan kepalanya menatap langit malam ini. Kosong. Rasanya kosong, tidak ada yang berarti di sini, setelah penolakan dari gadis yang dia cintai secara terang-terangan. Sakit rasanya, tapi dia juga paham. Gadis itu lebih dulu merasakan rasa sakit ini daripada dirinya. "Keisha." Nama itu dia sebutkan, ingin sekali memeluk gadis itu dengan erat, kemudian dia mengadu kalau selama ini dia melewati berbagai macam hari yang sangat melelahkan. Dia hendak mengeluh, tetapi tidak ada tempat untuk mengeluarkan keluhannya itu. Apalagi, sore tadi dia mendapat kabar kalau papanya masih drop lagi. Tidak ada perubahan sama sekali, biaya rumah sakit di sana sangat mahal.

