Keesokan harinya di lain tempat, Gean tengah menggoyangkan minuman kalengnya. Lelaki yang asik bersandar pada tiang gazebo itu menghela napas panjang. Matanya beberapa kali melihat ke arah ponselnya yang hening. Raut wajahnya yang tampak murung itu semakin murung kala rintik hujan mulai membasahi tanah. “Masuk sana ke dalem!” Titah Rian seraya menaruh satu payung di dekat gazebo. “Lo sendiri ke sini. Pinter banget,” ejek Gean dan melempar satu bantal pada Rian yang duduk di dalam. Tertawa kecil, Rian mengangkat tangannya membentuk huruf V. “Murung mulu. Kenapa, sih? Fera lagi?” Tanya Rian seraya membuka laptop yang ia bawa dari dalam kamar. Lelaki itu menatap kembarannya dengan raut wajah jengah. Sudah bukan sekali dua kali masalahnya ia melihat Gean dengan keadaan mengenaskan sepert

