“Mbak Fera sakit apa? Sampe dua hari Mbak Fera gak masuk. Tadinya saya sama Mbak Weni mau ke apartemen Mbak. Tapi kita gak tahu.” Fera yang baru saja duduk di kursinya itu menolehkan kepala dan tersenyum kecil sebelum merapikan mejanya yang tampak penuh dengan beberapa map yang harus ia kerjakan dengan segera. Menarik napas panjang, Fera melihat ke sekitar yang terlihat melihat ke arahnya dengan wajah yang senang. Menolehkan kepala ke arah lain, Fera menemukan Pak Hamsah—atasannya yang sempat dibawa-bawa oleh Derren—itu sedang berjalan ke arahnya. Seketika Fera jadi teringat pada Derren. Beruntung ia tidak bertemu dengan lelaki itu hari ini. Entah menghilang ke mana Derren setelah acara pengusiran yang ia lakukan beberapa hari lalu. “Selamat pagi, Fera,” sapa Hamsah seraya tersenyum man

