Zayed berdeham dengan kedua sudut bibir berdenyut ingin tersenyum, ia menunjuk pria tua berjanggut putih itu. “Ini paman Karem dan bibi Salama, mereka orang tua Fatimah,” ujar Zayed, memperkenalkan mereka semua. “Pernikahan di sini, kau harus memiliki seorang wali dan paman Karem akan menjadi wali hakim bagimu dalam pernikahan kita. Akhsan, bibi Salama dan Fatimah yang menjadi tiga orang saksi pernikahan kita.
Keana hanya mengangguk sambil tersenyum. “Salam, saya Keana,” katanya dengan sopan.
Fatimah membantu menaikan kerudung Keana, mendudukannya di bantalan yang sudah disediakan bersama Zayed yang ada di sampingnya. Fatimah bersama ibunya berdiri memandang Keana dan Zayed yang terlihat begitu serasi. Di hadapan calon pengantin itu, paman Karem duduk dengan wajah serius.
Lalu Zayed dan Keana pun melakukan upacara pernikahan dengan tradisi yang ada di Ghaliah. Tiga orang lainnya di dalam ruangan itu menjadi saksi pernikahan mereka, dan paman Karem menjadi wali untuk Keana dalam pernikahan mereka. Paman Karem membaca doa-doa dan sumpah pernikahan diucapkan oleh Zayed. Kini mereka telah resmi menjadi suami istri, dan Keana masih tak menyangka akan menjadi istri seorang pria gurun pasir yang ada di dunia lain.
“Semoga Allah memberkahi kalian, dalam susah maupun senang. Menjaga kebaikan diantara kalian berdua,” ujar paman Karem setelahnya.
Semua orang tersenyum, begitu pun dengan Keana yang hanya mampu menundukan kepala dengan d**a berdetak keras.
Tidak apa-apa, Keana. Memang lebih bagus aku memiliki seseorang yang akan melindungiku di dunia asing ini, dan aku bisa menjadikan ini petualangan yang sangat menarik sebelum kembali ke duniaku, asalkan aku tidak mencintai Zayed dengan dalam. Keana meyakinkan dirinya sendiri.
“Keana,” panggil Zayed.
Keana menoleh dan tak bisa lagi menahan senyumannya. “Jadi, sekarang kita suami istri?” bisik Keana antara tak percaya dan takjub, yang dibalas dengan anggukan oleh Zayed.
Keana hendak memeluk Zayed, tapi empat orang di dalam ruangan itu berseru menahannya, membuat Keana menundukan kepala dengan wajah bersemu merah. Ia lupa bahwa tindakan itu tidak biasa di kerajaan ini.
***
Di taman yang sangat indah itu, dengan rumput hijau dan pepohonan juga tanaman bunga, ada dua sosok wanita cantik yang sedang duduk sambil berhadapan. Para pelayan menundukan kepala tak jauh dari mereka.
Sosok Ratu Ameera dan selir Mahrema. Dua wanita dengan posisi tinggi di Ghaliah, yang sama-sama memiliki kecantikan yang dipuji semua orang. Dua wanita Raja yang sudah sangat terkenal. Mereka melakukan perbincangan di sore hari dengan cahaya matahari yang mulai berpendar hangat di ufuk barat.
“Aku dengar Zayed berhasil menangani perompak yang bersembunyi di kota Syad. Bukankah itu prestasi yang bagus?” ujar selir Mahrema seraya meminum teh melatinya yang dicampur madu dan rempah-rempah lainnya dengan gerakan yang sangat anggun. Rambut hitam legamnya sedikit bergelombang ketika angin menerpa.
Ratu Ameera tersenyum kecil, ikut meneguk tehnya sambil mengangguk. “Benar. Zayed sangat ahli dalam militer, dan menangani para perompak yang sewaktu-waktu bisa membahayakan rakyat adalah tugasnya.”
“Tapi...” ucapan selir Mahrema menggantung di udara, ia tersenyum manis dan meletakkan cangkirnya dengan begitu perlahan. “Bukankah kota Syad telah menjadi milik Rasyad putraku? Seharusnya Rasyad yang menanganinya. Akan tetapi, Rasyad justru menangani masalah di istana dan juga perekonomian Kerajaan, yang artinya jauh lebih penting tugasnya.”
“Rasyad adalah pria yang cerdas, dan dia juga Sheikh pertama. Sudah seharusnya kedua Sheikh Ghaliah saling membantu dalam memakmurkan Kerajaan ini. Bukankah Rasyad selalu membantu Zayed, begitu pun sebaliknya.”
Tangan halus dan jari-jari lentik selir Mahrema yang dihiasi cincin permata yang berkilauan itu meraih poci, dan menuangkan tehnya kembali ke cawan dari emas yang dipahat khusus untuk keluarga Kerajaan, memberikannya pada Ratu Ameera dengan anggun.
“Aku dengar, semenjak menghilang beberapa hari, Zayed belum menemuimu dan langsung pergi ke kota Syad. Kudengar juga dia sudah pergi dari kota Syad satu minggu lalu, tapi belum sampai istana. Apa dia pergi ke tempat lain, Sultana?” tanya selir Mahrema dengan senyum manis penuh makna.
Tanpa diketahui, Ratu Ameera mencengkeram pakaiannya di balik meja. Baginya, selir Mahrema memiliki lidah yang cukup licin untuk memojokan, berkelit bahkan berdebat, pembawaannya yang tenang dan lembut memang akan kalah jika berdebat dengan selir Mahrema yang begitu pandai berbicara.
“Sudah empat tahun berlalu, dan Zayed selalu menghabiskan waktunya di medan perang untuk memperluas wilayah kekuasaan. Sudah waktunya dia mencari istri lagi, bukankah begitu, Mahrema?” Ratu Ameera memberikan senyum terbaiknya. “Bukankah wajar bagi pria dewasa untuk mencari kesenangan dengan wanita? Kurasa, Rasyad pun melakukan hal sama. Dia sering keluar dari istana untuk berjalan-jalan di ibu kota, apa selama itu dia tidak menemukan wanita yang disukainya?”
Selir Mahrema menaruh cawannya dengan sedikit kasar kemudian bangun dan membungkuk dengan wajah tak senang. “Aku akan kembali, senang berbicara denganmu, Sultana,” katanya kemudian berlalu.
Selepas kepergian selir Mahrema, Ratu Ameera mengambil kembali cawannya dengan tangan sedikit gemetar hingga air di dalamnya bergelombang. Ia menghela napas pelan dan meneguk tehnya dalam sekaligus. Berbicara dengan selir Mahrema haruslah hati-hati, ditambah lagi dirinya tak bisa melampaui wanita itu dalam berbicara meski posisinya lebih tinggi.
“Semenjak Zayed naik jadi Putra Mahkota, dia selalu berusaha mendekatiku,” ujar Ratu Ameera. “Aku tahu apa maksudnya, dia sangat ambisius agar Rasyad naik jadi Putra Mahkota.”
“Assalamu’alaikum, Sultana.” Seorang pria datang menghadap sambil membungkuk dan memberi salam hormat.
Ratu Ameera menoleh dan tersenyum melihat Ayaz yang sedang berdiri di sampingnya. “Wa’alaikumsalam. Ayaz, kau tidak bersama Zayed?”
Ayaz mengangkat kepala. “Tidak, Sultana. Zayed Emir sedang berada di luar istana.”
“Katakan padaku...” Ratu Ameera bangun dan menatap Ayaz dengan penuh harap. “Apa dia bersama seorang wanita?”
Ayaz diam dan tak berani mengatakannya bahwa apa yang ditanyakan Ratu Ameera memang benar. Namun, pesan dan titah yang diberikan oleh Zayed tak bisa ia khianati. Terlebih wanita itu adalah wanita dari bangsa barat yang hanya menjadi teman berbagi kehangatannya Zayed––itulah yang Ayaz ketahui.
“Ayaz?” tanya Ratu Ameera lagi dengan suara lembut.
“Tidak, Sultana. Zayed Emir ada di paviliun miliknya untuk beristirahat sebelum kembali ke istana. Dia sedang menyelidiki sesuatu.”
“Sesuatu? Ada sesuatu terjadi, Ayaz?”
“Maafkan saya tidak mengatakan ini. Saat Emir menghilang dua minggu yang lalu, sebenarnya dia sedang bersembunyi karena terluka, ada seseorang yang mengejarnya dan melukainya saat malam festival rakyat.”
“Apa?” Ratu Ameera mendudukan kembali tubuhnya dan hampir limbung, membuat beberapa pelayan mendekat dan membantunya duduk. “Kenapa kalian menyembunyikan ini dariku?” tanya Ratu lagi dengan wajah sedih dan kecewa.
“Mohon maafkan kami, Sultana. Zayed Emir tak ingin Anda khawatir, dia sedang melindungi kalian berdua. Setelah kembali dari Syad, Emir ada di paviliunnya seorang diri.”
Ratu Ameera menghela napas lega bercampur khawatir. Kedua tangannya saling meremas. Ketika hendak berbicara, seorang anak lelaki berusia empat tahun berlari ke arah mereka sambil berteriak dengan ceria diikuti seorang pelayan.
“Nenek!” teriak anak itu.
“Faraz, kemarilah.” Ratu Ameera merentangkan kedua tangannya sambil berjongkok, kemudian menerima pelukan dari bocah lelaki itu.
“Nenek, paman Rasyad memberiku hadiah.”
“Benarkah? Faraz menyukainya?”
Anak lelaki itu mengangguk dengan semangat sambil memeluk kembali sang Ratu dengan wajah bahagia dan tatapan polosnya. Wajahnya sangat tampan, dengan alis hitam dan tebal, hidung mancung, bibir kecil dan mata berwarna cokelat gelap yang polos.
“Ayaz, katakan pada Zayed untuk pulang ke istana. Sudah berbulan-bulan dia tidak menemui Faraz, bahkan setelah pulang dari medan perang dia tidak menemuinya. Katakan padanya, dia masih memiliki seorang putra.”
“Baik, Sultana.”
***