Chapter 20

1452 Kata
Suara napas yang menderu dan saling berkejaran, dengan erangan-erangan halus. Derit ranjang terdengar sesekali bersama dengan kelambu yang berkibar, seirama dengan hentakan-hentakan keras yang terjadi di atasnya. Keadaan di dalam kamar temaram dengan cahaya lilin kekuningan dan suasana yang panas dan menyesakan. Aroma percintaan tercium dengan jelas, dari dua orang yang bergumul mencari kesenangan atas percintaan penuh gairah mereka. “Zayed.” Keana mengerang di bawah tubuh besar dan kuat Zayed yang terus menghentakkan pinggulnya, menghujam dan mengisi tubuh Keana dengan penuh dan sentakan dalam. Jari-jemari lentiknya meremas seprei dengan bibir setengah terbuka. Zayed menyeringai dengan wajah puas dan mata gelap yang dilingkupi kabut gairah. Hubungan percintaan mereka begitu menggelora dengan gairah-gairah yang bergejolak. “Kau menyukainya?” bisik Zayed dengan suara serak. Terus menghentakkan tubuhnya, membuat tubuh ramping Keana tersentak berkai-kali. Tangan-tangan besarnya mencengkeram pinggul Keana dengan kuat, seakan bisa terlepas darinya. “Hmm!” Keana hanya bergumam menahan desahannya. Keringat sudah membanjiri tubuh dan wajahnya. Tiba-tiba Zayed menghentikan gerakannya di tengah gairah yang meletup-letup. Desah kecewa terdengar dari bibir Keana, seakan kehilangan sesuatu yang menakjubkan. Tanpa diduga, Zayed menarik tubuh Keana ke atasnya hingga ia berbaring. Kedua kaki Keana berada di kedua sisi tubuh Zayed, dengan tubuh masih menyatu. Dengan wajah memerah dan d**a berdegup cepat, Keana merasa sangat malu berada di atas tubuh Zayed. Tubuh telanjangnya yang indah dan ramping terlihat jelas, dengan d**a yang montok dan rambut pirang tergerai, menempel di wajah dan lehernya yang basah. Kedua tangan Keana berada di bahu Zayed, mencoba untuk bergerak, karena nyatanya gairah telah mengalahkan rasa malunya. Zayed mencengkeram pinggul Keana dan membantunya bergerak, menyentakkan pinggul mereka hingga Keana menjerit pelan sambil memejamkan mata. Tubuhnya bergerak, menghentak dan mencari kepuasan dari tubuh kokoh dan kuat Zayed. Yang membuatnya seakan menggila dan kehilangan akal, meski hubungan mereka selama dua minggu ini tidak berjalan ke mana-mana. Tubuh ramping Keana masih bergerak memberikan kepuasan terbaik untuk dirinya dan Zayed. Sampai kepalanya berdenyut, perutnya melilit dan kakinya terasa keram, kunang-kunang seakan terbang di atas kepalanya, dan erangannya meluncur bersama dengan geraman dalam Zayed. “Hng!” Keana menahan erangannya sambil menggigit bibir ketika tubuhnya terasa penuh dan panas, juga basah. Napas mereka menderu, meraup udara sebanyak-banyaknya, keringat mereka pun menyatu. Keana menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Zayed dengan napas menderu kasar. Pipinya berada di d**a pria itu, tangannya mengusapi bahu Zayed yang berkeringat. Rambut pirangnya pun menempel di tubuhnya dan Zayed. “Kau selalu luar biasa,” bisik Zayed dengan suara serak yang seksi. Keana tersenyum lemah, karena lelah. Ia hendak mengangkat tubuhnya dari tubuh Zayed, tapi pinggulnya ditahan oleh pria itu. “Sudah, kita terlambat untuk makan malam.” Meski tangan kokoh Zayed menahan pinggulnya, Keana melepaskan tautan tubuh mereka dan bangun dengan tanpa mengenakan apa pun. Ia berguling dan berbaring mengambil selimut di samping Zayed, kepalanya berada di atas bantal dan menatap ke atas. “Awalnya aku berpikir, aku akan mencarimu untuk menemukan jalan kembali ke duniaku. Lalu aku berpikir lagi, sepertinya tidak masalah jika aku bersenang-senang di sini sebelum aku kembali ke duniaku.” Keana menoleh pada Zayed yang sedang menatapnya, hingga tatapan mereka bertaut. “Zayed, kau tidak masalah kan jika aku belum bisa menjadi istri yang baik bagimu? Awalnya aku hanya berpikir untuk bersenang-senang sebelum menemukan jalan untuk kembali. Aku ingin mendapatkan pengalaman terbaik selama di sini. selama dua minggu di sini, tak terasa aku begitu menikmatinya. Belajar banyak hal dari kalian juga. Akan tetapi, semakin hari aku semakin sadar bahwa aku istrimu.” Zayed meraih tubuh Keana dan merapatkan dengan tubuhnya, ia merunduk dan mencium bibir Keana. Hanya ciuman sesaat, tapi manisnya bibir itu membuat Zayed menggerakan bibirnya untuk menyesapnya dan melumatnya dengan dalam. “Kau merasa terbebani?” tanya Zayed dengan suara seraknya. Keana menggeleng keras sebagai penyangkalan. “Tidak! Aku hanya merasa masih sangat asing dan tak terbiasa dengan duniamu ini. Aku tahu, dengan menjadi istri sahmu aku akan aman dan tak dianggap sebagai wanita p*****r yang kau tiduri tanpa dinikahi. Kau menyelamatkan aku, dan sekarang aku tahu harus menjadi istri yang baik untukmu.” “Jadi kau tidak menyesal aku nikahi?” Keana menggeleng pelan, ia tersenyum manis sambil mengusap rahang Zayed. Menatap bibir seksi dan menggoda itu. Meski Zayed menikahinya secara rahasia dan dirinya terkurung di paviliun ini, tapi pria itu masih sangat misterius dan tak pernah menceritakan tentang keluarganya, Keana merasa tidak masalah. Biarkanlah hubungan mereka terjalin karena gairah-gairah yang membara. Yang ia takutkan hanya satu; semakin jatuh cinta pada pria itu dan tak bisa melepaskannya jika mereka harus berpisah. “Tidak. Aku pun sama sepertimu, ingin menghabiskan banyak waktu bersamamu. Kita tidak tahu kapan gerbangnya akan terbuka dan aku harus kembali, kan?” jawab Keana, ia mendekatkan wajahnya dan mencium hidung mancung pria itu yang membuatnya selalu iri. “Selama dua minggu di sini, kau tidak bertanya siapa keluargaku?” ujar Zayed dengan sebelah alis terangkat, dan satu tangan memeluk pinggul Keana agar berbaring merapat dengannya. “Aku tidak bisa memaksamu menceritakannya padaku, biar kau sendiri saja yang bercerita. Dengan melihat penampilanmu, dan paviliun yang besar ini aku tahu, kau bangsawan kan? Tapi, aku penasaran apa pekerjaanmu.” “Jika aku katakan, bahwa aku Panglima besar di pasukan Kerajaan, kau percaya?” Keana membulatkan matanya dan bangun untuk mendudukan diri. Kedua tangannya berada di d**a bidang Zayed yang masih berbaring. “Pa-panglima besar? Maksudmu, kau orang yang memimpin pasukan Kerajaan dan berada paling depan di medan perang?” “Benar,” jawab Zayed singkat. Keana berdecak sambil menggelengkan kepala. “Tidak heran. Kau memiliki tubuh yang sangat bagus dan kekar, dengan otot-otot besar dan juga kuat. Aku juga sempat berpikir kau seseorang dari militer, hanya dengan merasakan tubuhmu untuk pertama kalinya berada di atasku, aku tahu kau benar-benar kuat.” Zayed mendengkus pelan sambil mengelus pinggul Keana yang tidak tertutup selimut. Tatapan tajamnya menghunus wajah Keana, lalu turun ke lehernya yang mulus, terus turun sampai ke d**a Keana yang indah. “Kau tidak pernah malu untuk mengatakan hal-hal yang terdengar intim?” “Tidak juga. Di duniaku memang hal yang sudah tak tabu lagi.” Keana mendekatkan kembali wajahnya pada wajah Zayed kemudian menggigit hidung mancungnya dengan gemas. “Eh, aku masih belum tahu mengapa kau merahasiakan hubungan kita, apa kau takut sesuatu?” “Tidak,” jawab Zayed dengan wajah tanpa ekspresi. “Kau sudah menjadi istri sahku, dan tak akan ada yang bisa menyakitimu. Kau istri Panglima besar Kerajaan ini, siapa pun akan hormat padamu.” Keana terpaku dengan d**a yang berdegup begitu cepat. Ia berdeham kemudian tersenyum simpul. Menjadi istri Panglima besar di Kerajaan ini? memang sangat menakjubkan, dan jika saja mereka dari dunia yang sama, Keana sudah pasti akan sangat bangga. Sayangnya mereka dari dunia yang berbeda, dan jika mereka harus berpisah maka mereka akan sama-sama terluka, pikir Keana muram. “Suatu hari nanti, aku akan mengatakan pada seluruh negeri bahwa kau istriku,” lanjut Zayed. “Status dan posisiku saat ini belum cukup kuat untuk mengungkap identitasmu. Jika posisiku lebih tinggi, aku akan membawamu pada keluargaku.” Keana mengangguk sambil tersenyum manis. “Hmm... Aku akan menunggu sampai kau membawaku pada keluargamu. Aku hanya penasaran seperti apa keluargamu.” “Tapi kau harus ingat, kau adalah wanitaku dan tidak ada pria yang boleh menyentuhkan seujung jarinya padamu,” ujar Zayed dengan nada yang terdengar lebih posesif. Keana tersenyum nakal mendengar nada posesif itu. “Lagipula, aku di sini hanya mengenalmu dan Akhsan saja. Kau mengurungku di sini selama dua minggu, dari mana aku bisa mengenal pria lain.” Keana beringsut ke pinggir ranjang untuk mengambil jubah dari sutera yang tergeletak di kepala ranjang, lalu memakainya. “Ayo bangun, kita harus makan malam.” Keana turun dari ranjang dan membawa langkahnya menuju pintu sambil menyisir rambutnya dengan jari-jari. Ketika membuka pintu, tatapannya bertemu dengan tatapan Ayaz dan Fatimah yang berdiri hendak mengetuk pintu. Fatimah membawa nampan berisi makanan, sedangkan Ayaz berdiri di sampingnya. Melihat Keana yang hanya mengenakan jubah sutera dengan rambut berantakan dan wajah sayu, membuat Fatimah menundukan kepala dan Ayaz memalingkan wajahnya. Ditambah dengan keadaan di dalam kamar, di mana pakaian Keana dan Zayed berserakan. “Kalian kenapa?” tanya Keana dengan dahi mengerut. Dari belakang tubuhnya terdengar langkah berat yang mendekat, kemudian sepasang tangan terulur dan menutup pintu hingga Fatimah dan Ayaz tidak terlihat kembali. Keana menoleh dan menatap Zayed dengan dahi mengerut. “Kau tidak bisa terlihat seperti ini di depan pria lain, Keana,” ujar Zayed. Keana menatap tubuhnya sendiri yang dibalut jubah sutera, lalu melihat Zayed yang juga sudah mengenakan jubah berwarna hitam. “Aku mengenakan jubah, apa yang salah?” Zayed menarik bahu Keana mendekat. “Di duniamu mungkin sudah biasa kau memakai pakaian seperti ini atau terbuka, tidak dengan di sini, dan terlebih kau wanita bersuami.” “Iya, iya.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN