Keana terbangun kembali di tengah malam. Ia mendesah kesal karena selalu terbangun pada tengah malam, dan ketika melirik jam digital di meja nakas menunjukan tanggal 2 April dan pukul 02.00 tengah malam. Ia bangun dan turun dari ranjang ketika tenggorkannya terasa kering.
“Kenapa aku selalu terbangun tengah malam,” gerutunya.
Ia pun memutuskan keluar dari kamarnya untuk pergi ke dapur. Ketika melintasi ruang tengah, ia menemukan sepasang kaki menjuntai dari balik sofa miliknya. Memandang kaki-kaki panjang yang terlihat kokoh itu membuat Keana menahan senyumannya. Ia sangat suka melihat tubuh Zayed yang seksi dan kokoh. Bahkan sofa panjangnya tidak bisa menampung seluruh tubuhnya.
Kembali ke kamar, Keana mengambil selimut dari lemari dan membawanya ke sofa. Ia berdiri di depan sofa dengan senyum kecil melihat Zayed yang tertidur dengan kedua tangan terlipat di d**a. Wajah tampannya yang nyaris sempurna itu terlihat tenang, tapi tak menyurutkan keangkuhan dan aura bangsawan dalam dirinya. Keana pun menyelimutinya dan hendak berbalik tapi suara serak dan dalam terdengar mengusiknya.
“Amati...”
“Amati?” Keana mengerutkan dahinya. Wajah Zayed masih terlihat tenang dan ia pikir pria itu bermimpi tentang seseorang.
Keana pun meneruskan langkahnya untuk pergi ke dapur. Ia mengambil air putih dan meneguknya sekaligus. Wajah cantiknya yang biasa terlihat ceria sedikit berpikir dalam kebingungan, bahkan ada banyak pertimbangan yang berkecamuk. Jika apa yang dikatakan Zayed sebelumnya adalah benar, apa yang harus ia lakukan untuk membantu Zayed kembali pada masanya? Jika pria itu gila dan dia membawa ke kantor polisi untuk membantunya, apa yang akan dihadapi Zayed jika dia ternyata seorang bangsawan yang dibuang? Semua pertanyaan itu berputar di benaknya.
“Apa memang ada yang namanya time travel? Apa ada gerbang menuju dimensi lain?” gumamnya, menghela napas panjang. “Jangan pikirkan hal gila yang hanya ada di fiksi, Keana.”
Keana pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan tidur, ia melihat kaki Zayed masih menjuntai dari sofa ketika melintasi ruang tengah. Besok pagi, dia akan pergi ke kantor polisi untuk meminta bantuan, tekadnya. Ketika tiba di kamar, Keana merasa ada sesuatu yang cukup aneh. Atmosfer yang ada di kamarnya terasa aneh dan tak biasa, rasa hangat dan berganti dingin kemudian hangat kembali terus berulang kali bergantian. Ia mengecek pendingin ruangan dan dalam keadaan normal. Bulu kuduknya meremang, dan Keana menoleh ke sana-sini untuk melihat keadaan sekitar.
“Kenapa aku merasa sedikit aneh ya?” bisiknya.
Tak mau berpikiran yang aneh, Keana naik ke ranjang dan hendak berbaring. Gerakannya tertahan ketika ia melihat sebuah cahaya muncul dari dalam kantong pakaian milik Zayed yang ia gantung di kamarnya. Dahinya mengerut, dan cahaya itu berkelip-kelip tak padam. Ia berpikir itu sebuah ponsel, tapi cahaya kemerahan bercampur biru yang terus bersinar dan meredup bukanlah sebuah ponsel.
“Apa itu?” keana mendekati pakaian Zayed yang indah dan penuh hiasan itu. Ia merogoh saku yang terdapat di sana dan menemukan sebuah jepit rambut yang sangat indah, dengan hiasan batu safir berwarna biru dan merah yang berkilauan. Benda itu bersinar, kemudian meredup kembali. Dengan sedikit takut Keana melemparnya hingga terjatuh ke lantai, ia menyentuh tengkuknya yang terasa meremang ketakutan. Rasa dingin dan hangat yang bergantian tidak surut, bersama dengan cahaya yang bersinar dari jepit rambut itu yang semakin kuat. Ia ingin keluar, tapi rasa penasaran mengalahkan ketakutannya.
Keana mengambil kembali jepit rambut itu dan memerhatikannya. Tidak ada apapun yang bisa membuat jepit itu menyala, bahkan tidak ada lampu kecil atau semacamnya. Dengan heran Keana hendak menaruhnya kembali ke kantong pakaian Zayed, tapi secara tiba-tiba cahaya lainnya muncul dan menyilaukan. Keana menutup matanya secara spontan saat cahaya putih itu begitu terang dan seakan membuat matanya perih. Ia membuka kembali matanya secara perlahan, menemukan sebuah cahaya putih besar tak hilang dari pandangannya. Cahaya itu berada di ranjangnya, dan benda di tangannya seakan menariknya untuk mendekat.
“Ada apa dengan tubuhku,” bisiknya saat merasakan respon yang diberikan tubuhnya berbalik dari pikirannya. Kakinya seakan bergerak sendiri mendekati cahaya putih dan menyilaukan di ranjangnya, dan jepit rambut itu seakan sebuah magnet yang tertarik oleh magnet lainnya.
Keana terhuyung ke arah cahaya dan tubuhnya tertarik ke dalam lingkaran cahaya putih itu. Ia ketakutan dan seluruh tubuhnya gemetar sambil mencengkeram jepit rambutnya. Wajahnya pucat pasi dan air mata seakan hendak tumpah. Rambut dan gaun tidurnya berkibar ketika ada angin yang berembus dari dalam dan menerpa tubuhnya. Sebelum dirinya terjatuh dalam lingkaran cahaya putih itu, pintu kamarnya menjeblak terbuka yang memunculkan sosok Zayed dengan wajah terkejut luar biasa.
“Keana!”
Keana menggeleng ke arah Zayed saat tubuhnya semakin tertarik ke lingkaran cahaya. “Zayed, tolong aku!” teriak Keana.
Zayed berlari dan menarik tangan Keana, tapi yang terjadi adalah tubuh mereka terjatuh ke dalam lingkaran cahaya putih itu dan seakan masuk ke dalam sebuah lorong bulat yang akan membawa mereka ke dunia lain. Setelah tubuh Zayed dan Keana tertelan cahaya, secara perlahan lingkaran cahaya itu memudar dan mengecil hingga menghilang sepenuhnya. Menyisakan keheningan dan dingin yang mencekam di dalam kamar. Tak ada suara, tak ada apapun yang seakan hidup di ruangan itu.
***
“Ugghh...”
Erangan halus keluar dari bibir kecilnya ketika merasakan kepalanya begitu sakit dan berdenyut. Keana memegangi kepalanya dan memijatnya, ia juga merasa tubuhnya terasa sakit di beberapa persendian. Ia menguap dan mengucak mata, kemudian secara perlahan membukanya. Cahaya mentari yang masuk membuatnya silau dan harus kembali menutup mata.
Hidungnya mengerut ketika mencium wangi pasir yang berada di bawah terik matahari. Wangi pasir yang kering dan menenangkan, dengan udara hangat dan sedikit lembab. Ia tak pernah merasakan aroma yang menakjubkan seperti ini, kecuali dirinya pergi ke negera-negara timur tengah.
Timur tengah?
Sesaat Keana terdiam masih dengan mata tertutup. Jantungnya berdebar dengan keras, dan sesuatu bergejolak dengan kuat dalam dirinya. Timur tengah? Negeri gurun pasir? Zayed?
“Oh, No!” teriaknya dengan keras seraya membuka mata dan bangun. Denyutan kuat di kepalanya semakin menjadi, dan Keana kembali mengernyitkan dahinya sambil memijit kepalanya. “Tenang, Keana. Perlahan buka mata,” katanya pada diri sendiri.
Keana membuka matanya dengan perlahan seraya menenangkan detak jantungnya yang siap melompat kapan saja jika dugaannya benar saat ini. Ketika mata biru safir itu sepenuhnya terbuka, yang ia lihat adalah sebuah dinding dari batu-batu berwarna merah. Ada jendela dari kayu yang terlihat sudah rapuh dan bolong-bolong, dan pintu yang juga dari kayu yang sudah rapuh. Keana terdiam sesaat, untuk meresapi semua yang ada saat ini.
Di bangunan aneh yang sepertinya tidak ada di London. Bawahnya adalah tanah, dan saat ini dirinya berada di atas jerami kering. Ia tak tahu ada di mana dirinya saat ini, hanya ada kesunyian dan desiran angin yang membawa aroma pasir kering.
“Apa Zayed membawaku ke negaranya ketika aku tidur? Tapi bukankah aku... Aku berada di kamar dan melihat cahaya yang muncul dari jepit rambut lalu Zayed menarikku.” Keana terdiam sesaat, ia teringat dengan jepit rambut cantik yang mengeluarkan cahaya. Ketika mencarinya, jepit rambut itu ada di dekat kakinya.
Keana bangun dan harus mencari tahu ada di manakah dirinya saat ini dan yang penting adalah mencari keberadaan Zayed. Ia melihat penampilan dirinya yang sedikit berantakan dengan hanya mengenakan gaun tidur dari satin berwarna krem, juga rambut pirang bergelombangnya yang sedikit berantakan. Tali gaunnya yang tipis melorot dari bahunya, dan tanpa alas kaki. Ia meringis melihat keadaannya sendiri yang sama seperti sebelumnya.
“Kenapa pakaianku seperti ini? Jika Zayed bangsawan dari Timur Tengah seharusnya dia membawaku dalam keadaan cantik dan pakaian bagus, naik pesawat jet dan menempatkanku di bangunan yang bagus,” ringisnya sambil membenarkan rabutnya dan menjepit bagian depannya dengan jepit rambut itu.
Keana berjalan ke pintu, ia nampak ragu untuk membukanya. Jika Zayed seorang bangsawan, kenapa pria itu menempatkannya di bangunan tak terpakai dengan atap yang terdapat sarang laba-laba seperti itu. Keana pun menguak pintu di depannya, bersama dengan angin yang berembus dan butiran-butiran pasir berterbangan menerpa wajahnya. Sambil merengut kesal ia memejamkan mata saat pasir itu masuk ke matanya.
“Ah, pasir-pasir sialan,” umpatnya dengan kesal.
Membuka mata kembali, Keana hampir menjatuhkan rahangnya dengan mata membulat lebar-lebar. Ia tak percaya di hadapannya kini adalah hamparan pasir kuning yang luas dengan sinar matahari yang panas, ditambah angin yang membawa aroma pasir menenangkan. Rambut pirangnya berkibar bersama dengan gaun tidurnya. Ia melangkah semakin ke depan dan kakinya menjejak pasir yang menghantarkan rasa hangat ke tubuhnya.
Keana tersenyum dengan wajah senang. Akhirnya aku bisa melihat gurun pasir yang indah dan panas. Sambil merentangkan kedua tangannya, ia memejamkan mata dan menghirup udara dalam-dalam. Angin kembali menerbangkan rambut dan pakaiannya.
“Aroma pasir yang menenangkan,” gumamnya. “Eh, tapi aku kan tidak membawa paspor dan segala peralatanku.”
Matahari semakin naik hingga tepat berada di atas kepalanya dan rasa panas semakin menyengat, tapi Keana masih belum bergerak untuk memutuskan akan pergi ke manakah dirinya saat ini. Hanya Zayed yang bisa menolongnya saat ini, dan tekad Keana adalah mencari keberadaan Zayed. Ia pun memutuskan untuk tidak memusingkan perkara paspor, visa dan yang lainnya.
“Aku harus mencari Zayed,” gumamnya dengan penuh tekad.
Keana berjalan menyusuri tempat berpasir yang cukup luas itu. Ia juga melihat ada pohon-pohon palem dan aliran sungai yang tak jauh dari tempatnya. Tenggorkannya terasa kering dan perutnya terasa berbunyi kelaparan. Selain mencari Zayed, dia juga harus mencari minuman dan makanan. Keana mendekati tepi sungai yang mengalir dengan jernihnya seakan tak pernah tersentuh apapun airnya. Ia bercermin di air sungai dan menatap penampilannya sendiri yang terlihat kusut.
“Aku jelek sekali, apa orang-orang tidak akan menertawakanku jika pergi dengan pakaian aneh seperti ini?” gumamnya.
Tak mau memusingkan komentar orang lain, Keana membasuh wajahnya dengan air dan rasa segar segera dirasakannya. Ia menyiduk air dengan kedua tangannya kemudian meminumnya. Ia tersenyum dengan senang dan senyumannya begitu cantik.
“Segarnya,” gumamnya dan kembali menyiduk air. “Aku akan membersihkan diri saja, mungkin aku bisa berenang.”
Ketika hendak mencelupkan sebelah kakinya ke sungai, seseorang mendekatinya dan berteriak melarangnya dalam bahasa Arab. “Laa!”
Keana menoleh dan mengerutkan dahinya ketika melihat seorang pria tinggi dengan tubuh tegap menghampirinya. Wajahnya begitu tampan dan lembut, tatapan dari mata cokelat gelap itu seakan menghipnotis. Rahang tegas dengan jambang yang menghiasi, bulu mata lebat dan lentik dengan alis hitam dan tebal. Bibirnya tipis dan seksi. Keana hampir saja membulatkan mulutnya melihat betapa tampannya pria itu. Dengan balutan dishdasha berwarna putih, juga keffiyeh dan egal di kepalanya. Angin yang berembus menerbangkan keffiyeh-nya.
“Who are you?” tanya Keana dalam bahasa Inggris karena ia tak bisa berbahasa Arab.