Chapter 8

1945 Kata
Pria itu mendekat dan tersenyum kecil. Senyumannya sangat menenangkan dan bersahabat. Meski Zayed tak kalah tampan darinya, tapi Zayed jauh lebih memikat dan memiliki daya tarik yang kuat terhadap seorang wanita. Keana akui, pria itu tampan dan lembut seperti malaikat, tapi Zayed seksi dan penuh gairah yang membara. “Where you come from?” tanya pria itu dalam bahasa Inggris. Keana ikut tersenyum ketika ada seseorang dari negara gurun yang bisa berbahasa Inggris selain Zayed. “Aku Keana, dari London,” jawabnya. “Britania?” “Hmm! Inggris. Eh, apa orang-orang negeri gurun menyebutkan Britania? Zayed juga mengatakan Britania,” gumam Keana. Pria itu semakin mendekati Keana dan menatapnya dengan dalam. “Zayed?” “Iya, temanku. Eh, bukan temanku. Dia orang yang aku tolong, dia membawaku ke sini tapi meninggalkanku,” gerutu Keana dengan wajah kesal. “Membawamu? Kenapa dia membawamu ke sini?” tanya pria itu lagi. Keana menggeleng tidak tahu. “Aku sendiri tidak tahu. Aku masih di London bersamanya, di apartemenku. Beberapa hari dia tinggal bersamaku, dan tiba-tiba aku sudah ada di sini. Mungkin Zayed membawaku saat tidur dengan pesawat jet, tapi aku tidak membawa paspor dan visa, lalu bagaimana aku bisa kembali ke London?” Pria di hadapannya hanya mengerutkan dahi dengan bingung mendengar semua perkataan Keana. “Paspor? Pesawat jet? Apa itu?” Keana mengerang pelan dan menatap pria itu dengan kesal. “Kau sama saja dengannya, tak tahu smartphone dan mobil. Jangan-jangan kau juga tak tahu Google! Ya sudah lah,” gerutunya. “Eh, namamu siapa?” “Aku Rasyad. Pakaianmu sangat aneh, bukankah Britania tidak berpakaian seperti itu? Banyak para pedagang dari Britania datang ke Ghaliah, tapi mereka tidak memakai pakaian terbuka sepertimu.” Keana menaikan kedua alisnya memandang pria itu. Ia mendengarnya mengucapkan kata ‘Ghaliah’ dan itu mengingatkannya pada ucapan Zayed juga informasi di google yang mengatakan bahwa Ghaliah kerajaan yang berjaya pada abad 16. “Kau bilang Ghaliah? Maksudmu Kerajaan Ghaliah yang dipimpin oleh Raja Ahmed dan Ratu Ameera?” tanya Keana untuk memastikan. Pria itu mengangguk sambil tersenyum. “Benar. Kau datang ke sini dari arah mana? Dari sini cukup jauh dengan pelabuhan.” “Eh tidak dari pelabuhan, mungkin Zayed membawaku dari bandara lalu membuangku di sini.” Keana menarik napas panjang kemudian mengembuskannya dengan putus asa. Ia duduk di atas rumput yang ada di bawah pohon palem kemudian bersandar dan memandang aliran sungai yang jernih. “Bagaimana caranya aku menemukan Zayed dan mengembalikanku ke London.” Rasyad mengambil duduk di samping Keana sambil memandang sungai. “Aku akan mengantarmu ke pelabuhan jika kau mau. Mungkin akan ada kapal yang akan berlayar ke Britania.” “Kapal? Kau bercanda ya? Kalau bisa, bawa aku ke kantor kedutaan Inggris saja.” “Kedutaan? Apa itu?” Keana menggaruk kepalanya dengan frustrasi. Manusia modern mana yang tidak tahu kedutaan, paspor dan semacamnya kecuali mereka hidup di jaman peradaban, gerutu Keana dalam hati. Peradaban? Bukankah ini Ghaliah? Dan seakan teringat dengan perkataan Zayed, Keana memandang pria itu lagi dengan tatapan takut bercampur waspada. “Abad berapa ini?” “Ini tahun 1560,” jawab Rasyad. “Oh, no.” Keana menjatuhkan kedua bahunya dengan lesu, wajahnya terlihat frustrasi dan kebingungan. Ia memandang sekeliling dan hanya ada hamparan gurun pasir dengan aliran sungai yang jernih dan pohon palem. Kepalanya kembali berdenyut nyeri dan ketakutan semakin melandanya. Ia ada di abad 16––di dunia Zayed––dan cahaya itu membawanya kembali ke abad 16. “Kau tidak apa-apa?” tanya Rasyad dengan dahi mengerut. Keana mengangkat tangan sambil membatin, aku tidak bisa mengatakan jika aku dari abad 21, aku takut mereka menganggapku gila lalu membunuhku. Aku tidak boleh memberitahu siapapun, dan aku harus mencari Zayed jika dia ikut kembali bersamaku. “Aku tidak apa-apa. Kau boleh pergi, aku ingin sendiri.” “Di sana kota Altaawus, ibu kota Ghaliah. Jika kau mau, aku bisa mengantarmu ke sana dan kau harus berganti pakaian. Kau juga butuh makanan dan minum kan?” Mendengar makanan dan minuman Keana segera menoleh dan menatap Rasyad lekat-lekat. Ia takut jika pria itu akan berbuat jahat atau memanfaatkan dirinya, tapi selama ia tidak membuka identitasnya yang dari masa depan, ia tidak akan dalam bahaya. Jika memang pria ini bisa membawanya ke ibu kota, ia akan mulai mencari Zayed di sana. “Baik. Aku akan ikut denganmu, tapi sebelumnya aku ucapkan terima kasih.” Rasyad tersenyum lembut sambil mengangguk. Ia bangun dan menghampiri kudanya yang sedang meneduh di bawah pohon palem tak jauh dari keberadaan mereka, membawa kudanya menghampiri Keana yang masih duduk. Keana pun segera bangun dan menghampirinya. Ia menatap Rasyad dan kudanya dengan sedikit ragu, tapi jika dirinya hanya akan menangis sendiri di sini, kemungkinan besar dia akan mati. Keana bergidik ngeri membayangkan ia akan mati di sini. Ia pun memegang tali kekang dan menaikan satu kakinya ke pijakan pelana kemudian naik ke kuda, sedangkan Rasyad menyusulnya naik dan duduk di belakangnya. Dengan sedikit gugup Keana menoleh ke belakang, hingga tatapannya bertemu dengan tatapan tajam dan lembut milik Rasyad. “Aku bisa menunggang kuda sendiri, tapi apa tidak masalah jika wanita dan pria berada di atas kuda yang sama?” tanya Keana dengan ragu. Meski ia orang barat, tapi dirinya tahu jika kebudayaan di negari gurun tidak memperbolehkan seorang wanita dan pria berdekatan. Aku dan Rasyad hanya menunggang kuda, itu bukan hal intim, pikir Keana. Lalu ingatannya kembali pada malam di mana Zayed mencium bibirnya. “Aku tidak mungkin menarik kuda untukmu kan?” balas Rasyad dengan nada lembut tapi menusuk. Keana merengut sambil mengangguk, karena apa yang dikatakan Rasyad memang benar. Tidak mungkin juga dirinya yang menarik kuda dengan Rasyad yang menungganginya. Memilih untuk diam, Keana pun tak mengatakan apapun lagi sampai tubuhnya dilingkupi tubuh besar Rasyad, kedua tangannya yang menggenggam tali kekang seakan memeluk pinggangnya, dan punggungnya bersentuhan dengan d**a bidang dan kokoh itu. Mereka pun mulai meninggalkan tempat itu. *** Ruangan itu sangat indah dengan dinding berwarna putih bersih berpadu dengan warna emas. Perabotannya pun sangat mewah. Ranjang besar yang ada di tengah ruangan dengan pilar-pilar dari kayu yang dipahat dan kelambu merah tipis yang terikat di setiap pilarnya. Rak dari kayu yang dipernis dihiasi dengan beberapa kitab dan guci indah. Tempat-tempat lilinnya terbuat dari kuningan yang membentuk lentera yang dibentuk indah dan melengkung. Kristal-kristal menggantung di atapnya yang tinggi. Di pojok ruangan terdapat meja kerja, dan di belakangnya terpajang beberapa pedang bersarung dan busur panah. “Emir, bagaimana Anda bisa menghilang selama beberapa hari?” tanya Ayaz, pria tinggi dan berbadan kekar dalam balutan dishdasha berwarna biru dengan turban putih. Sosok yang duduk di ranjang hanya menatapnya sekilas kemudian memandang lurus ke depan kembali. Ada begitu banyak hal yang berkecamuk di dalam benaknya. Bagaimana ia bisa terlempar ke abad 21, bertemu dengan seorang wanita bawel dan periang. Wanita itu menolongnya, dan bahkan membawanya kembali ke masanya. Hal yang lebih penting adalah, wanita itu pun ikut bersamanya ke masanya. Zayed seorang Pangeran Kerajaan Ghaliah yang ada di abad 16, tentu tak boleh ada yang tahu bahwa dia pergi ke masa depan dan membawa seorang wanita bersamanya. Ketika ia terbangun sudah berada di dalam kamarnya, dan semua orang seakan begitu mencemaskannya––terutama Ratu Ameera, sang ibunda. “Keana,” bisiknya dengan suara berat. Mata cokelat amber itu berpendar tajam dan gelap, bibirnya mengetat tipis dengan kedua alis bertaut. “Aku harus mencarinya,” katanya kemudian bangun. “Emir, Anda mau mencari siapa?” tanya Ayaz lagi. “Aku akan mencarinya. Dia yang sudah menolong dan merawatku selama terluka.” Zayed menatap Ayaz dengan serius dan dalam. “Ayaz, saat aku keluar dari istana untuk melihat festival rakyat, ada dua orang yang mengejarku dan memanahku.” Ayaz terkejut dan menatap Zayed dengan pandangan penuh penyesalan. “Maafkan saya, Emir. Saya tidak bisa melindungi Anda, saya pantas dihukum,” katanya seraya berlutut dengan kepala menunduk. Zayed membungkuk dan meraih kedua bahu Ayaz kemudian membawanya berdiri. “Tidak apa-apa. Aku sudah kembali dengan selamat. Ada seorang wanita yang menolongku, dia dari Britania dan rambutnya pirang. Aku harus menemukannya, karena kemungkinan dia ada di ibu kota.” Zayed pun bergegas mengambil jubahnya yang berwarna emas dengan bordiran di setiap garis jubah, mengambil turbannya kemudian mengenakannya. tanpa menunggu lagi ia segera pergi dari kamarnya untuk menemukan keberadaan Keana di ibu kota. Jika tak dapat menemukannya, ia harus mencari Keana di seluruh penjuru Ghaliah, karena dialah yang telah membawa wanita itu ke masanya. Ini bukanlah dunia Keana, ia harus menyelamatkannya dan mencari cara membawanya kembali ke abad 21 sebelum ada yang menemukan keberadaan Keana. “Emir, Anda harus menemui Sultana terlebih dahulu untuk mengobati kecemasannya karena menghilangnya Anda,” kata Ayaz mencegah, agar Zayed bertemu dengan sang Sultana atau Ratu terlebih dahulu. Zayed menggeram dan menyingkirkan tubuh Ayaz dengan kasar hingga pria itu terhuyung ke samping. Wajah Zayed terlihat sangat gelisah dan cemas, dan ini adalah pertama kalinya sang Pangeran menampakkan wajah gelisah dan cemas. Ia sangat dingin, dengan segala keangkuhan dan aura penuh kuasa yang dimilikinya. Tak akan ada orang yang bisa membuatnya gelisah dan cemas selain Ratu Ameera. Jika ada, itu pertanda bahwa orang itu bukan orang sembarangan. “Menemui Sultana terlebih dahulu, beliau menangis selama Anda menghilang,” cegah Ayaz kembali. Tatapan dingin, tajam dan menusuk itu seakan bisa mencabik-cabik Ayaz saat ini juga. Dengan rahang mengetat dan bibir terkatup rapat sudah jelas menandakan jika Zayed tak bisa dibantah. Ia tak bisa dibantah, dan tak pernah ada yang berani membantahnya. Semua orang terlalu menghormatinya hanya untuk menyela dan membantah. Karena tak pernah dibantah, membuatnya sedikit marah mendapat bantahan dari orang yang dipercayanya. Zayed pun meneruskan langkahnya menyusuri koridor dengan langit-langit yang tinggi, dan pilar-pilar besar berwarna emas. Melintasi koridor istana menuju lapangan istana yang luas. “Ayaz, selidiki siapa yang menyerangku malam itu. Ada orang yang ingin membunuhku ketika aku naik menjadi Putra Mahkota,” titah Zayed. “Baik. Saya akan menyelidikinya secara menyeluruh.” “Jangan tampakkan wajah curiga, bersikaplah seakan tak terjadi apapun. Kau bisa curigai juga orang-orang istana.” Ayaz mengangguk paham, ia berdeham pelan. “Apa mungkin itu perbuatan...” “Jangan sebut apapun,” cegah Zayed. “Maafkan saya, Emir. Saya tidak akan ceroboh,” ujar Ayaz seraya membungkuk dengan wajah menyesal. Zayed bergeming dan terus berjalan melintasi koridor hingga mereka tiba di sebuah tempat di dalam lingkungan istana. Istal istana yang terdapat banyak kuda jantan dan tangguh, berwarna cokelat, hitam dan putih. Seorang penjaga istal membungkuk dalam sambil mengucap salam ketika Zayed mendekat. “Assalamu’alaikum, Emir.” “Wa’alaikumsalam,” balas Zayed sambil lalu. Ia memasuki istal dan menatap jejeran kuda-kuda pejantan dan besar miliknya. Sambil membuka pintu salah satu kandang, Zayed menarik kuda hitam dan besar miliknya yang selalu digunakan saat berjalan-jalan di kota. Kuda Arab yang cantik dan tangguh, yang sudah bertahun-tahun menemaninya di medan perang. Penjaga istal mendekat dan memasangkan pelana, kemudian membawanya keluar. “Emir, Anda sudah kembali? Semua orang di istana mencemaskan keberadaan Anda,” kata penjaga istal setengah baya yang sudah mengabdi di istana untuk mengurus kuda-kuda milik para Pangeran. “Aku hanya bermalam di kota Thaud, dan baru kembali. Jangan cemas, aku akan berjalan-jalan di ibu kota, Safar.” Zayed pun mempersiapkan pelana kemudian menarik tali kekang dan naik. Ia menggenggam tali kekang kudanya, dengan tatapan lurus dan tajam. Kecemasan di matanya tak terlihat lagi, hanya ada tatapan dingin, tak terbaca dan juga kelam. Tak ada yang boleh melihatnya begitu cemas, karena itulah kelemahannya, dan orang-orang akan memanfaatkannya. Tak boleh ada yang tahu kelemahannya. Ia menarik tali kekang dan memukul badan kuda untuk membawanya berjalan meninggalkan istal. Jubah berwarna emasnya berkibar diterpa angin ketika kudanya mulai berlari menuju halaman depan istana utama. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN