“Cantiknya!” Keana berteriak dengan wajah riang ketika ia melompat dari kuda sambil merentangkan kedua tangannya.
Wajah cantiknya terlihat bersinar dengan tatapan dari iris biru safir yang berbinar lugu. Bibirnya terbuka dengan takjub memandang pemandangan kota Altaawus di depannya saat ini. Bangunan-bangunan dengan arsitektur yang indah, memiliki beberapa lantai dan berada dibalik sebuah perbukitan yang indah. Jalanannya dari tanah kering dan berpasir, dengan pohon-pohon palem juga kurma yang ada di pinggir jalanan. Ada bangunan-bangunan yang dibangun di bukit juga. Beberapa bangunan yang bagus dengan kubah melengkung berwarna hijau dan biru. Ada menara-menara yang juga tak kalah indah. Tatanan kotanya indah, dengan bangunan khas negeri gurun tembok-tembok berbatu merah.
Angin gurun menerbangkan rambut pirang dan gaun tidurnya, ia berjalan dengan bertelanjang kaki sambil memandang ke sana-sini. Mereka pun sudah memasuki kota, dan orang-orang yang melihat Keana hanya memandang dengan aneh dan heran. Seorang wanita berambut pirang dan berkulit putih kekuningan hanya mengenakan gaun satin bertali tipis yang memamerkan sedikit belahan payudaranya. Sedangkan orang-orang yang ada di kota itu menggunakan pakaian khas Ghaliah. Para wanita yang mengenakan abaya yang didominasi warna gelap, ada yang mengenakan selendang yang disampirkan, ada yang mengenakan kerudung bahkan ada banyak yang memakai cadar. Para pria yang juga mengenakan dishdasha berbagai warna dengan turban atau keffiyeh.
“Penampilanku pasti sangat aneh,” gumamnya.
Ketika Keana terus berjalan dengan kepala ke sana-sini untuk melihat pemandangan dan aktifitas warga ibu kota, ia menemukan ada orang-orang berwajah Eropa sepertinya. Ada yang juga berambut pirang dan bermata hijau, ada wanita yang mengenakan gaun panjang berenda dengan bagian lengan dan rok menggembung––itu pakaian Inggris di abad pertengahan.
“Ini benar-benar abad 16,” katanya dengan suara lesu dan wajah murung.
“Pakailah.” Sebuah tangan terulur padanya dengan kain berwarna hitam polos.
Keana menoleh dan menemukan Rasyad sedang mengulurkan sebuah pakaian padanya. Dengan sedikit ragu, Keana mengambilnya dan memeluknya. Wajahnya masih terlihat lesu dan murung, karena bagaimana pun ini bukanlah dunianya. Tidak ada mobil, kereta dan sepeda motor dan yang ada hanya beberapa roda pengangkut, kuda dan unta yang membawa barang-barang di punggungnya. Tidak ada deretan toko-toko branded dan modern lainnya.
“Di mana aku bisa mengganti pakaianku?” tanya Keana pada Rasyad.
“Ikutlah.”
Rasyad berjalan terlebih dahulu sambil menarik tali kekang kudanya, diikuti oleh Keana. Mereka berjalan bersama-sama menuju sebuah bangunan yang cukup ramai dikunjungi. Seorang pria menyambut mereka, melirik Keana dengan dahi mengerut dan tatapan heran. Ia sendiri tidak heran mendapat banyak tatapan aneh dari orang-orang. Rasyad berbicara menggunakan bahasa Arab yang tidak Keana mengerti, dan setelahnya mereka masuk.
Lagi-lagi bibir Keana hampir terbuka takjub melihat pemandangan di dalam bangunan itu. Ada banyak pengunjung yang datang, meja dan kursi kayu juga para pelayan yang membawa makanan. Dindingnya dari batu-batu merah yang tidak dicat, dengan lentera-lentera dari kuningan yang dibentuk indah khas timur tengah.
“Aku seperti hidup di jaman Aladin. Ini menakjubkan,” gumamnya tak dapat menahan rasa takjub yang melingkupi. “Seandainya aku membawa kamera dan ponsel, aku akan memotretnya dan mengunggahnya ke i********:. Wah! Robin pasti sangat iri.”
“Apa itu kamera dan ponsel?” tanya Rasyad yang datang kembali setelah mendapat kunci dari penjaga penginapan.
“Oh, itu... itu semacam benda yang digunakan untuk melukis di Britania,” jawabnya dengan senyuman lebar. “Eh, Tuan Rasyad, kau pernah datang ke Britania?”
Rasyad mengangguk singkat. “Pernah sekali saat usiaku dua puluh tahun, aku ikut berlayar ke Britania untuk pertemuan beberapa Kerajaan.”
“Wah, pasti menyenangkan ya Britania di jaman ini.”
Rasyad hanya membalas dengan senyuman kemudian berjalan menaiki tangga, dan Keana mengekor di belakangnya. Undakan tangga dari kayu yang diinjak menimbulkan derit kecil seperti seekor kucing tercekik, dan Keana meringis menahan kengeriannya. Hingga mereka tiba di atas, lantainya pun hanya dari bebatuan yang dihaluskan. Di lorong yang terdapat banyak pintu kamar, mereka bertemu dengan orang-orang yang juga dari bangsa Eropa.
“Hey, Miss. Kau dari Eropa ya?” tanya Keana ketika berpapasan dengan seorang wanita berwajah Eropa dalam gaun besar mengembang dan rambut ikal dengan kipas berenda di tangannya.
“Siapa kau?” tanya wanita itu dengan mata memicing.
“Aku juga dari Eropa. Aku dari Britania, kau dari sana?” tanya Keana lagi. Setidaknya ia bisa mengenal orang dari bangsanya meski ada di masa lain.
“Ya, aku dari Britania,” jawab wanita itu.
Keana tersenyum dengan senang, ia mendekati wanita itu tapi senyumannya segera lenyap ketika wanita itu ditarik paksa oleh seorang pria dan mereka menghilang di tangga. Wajah Keana kembali muram dengan kedua bahu yang melorot lesu. Ia menggigit bibir bawah dengan sedih dan merasa sangat asing. Ingin menangis tapi percuma.
“Jika kau ingin kembali ke Britania, aku akan membantumu ikut dalam pelayaran ke sana. Kudengar minggu depan ada kapal yang akan berlayar ke sana,” kata Rasyad yang melihat wajah muram Keana.
“Tidak perlu, di Britania pada masa ini juga aku tidak memiliki siapapun. Eh, kau mau membawaku ke salah satu kamar?” tanya Keana lagi.
Rasyad mengangguk sambil tersenyum manis, ia kembali berjalan hingga berhenti di depan pintu kayu berwarna putih dengan angka dari aksara Arab. Pria itu membuka kuncinya dan mempersilakan Keana untuk masuk.
“Masuklah, kau harus berganti pakaian dan istirahat. Akan ada yang membawakanmu makanan.”
Keana menatap kamar sederhana itu tapi terlihat sangat khas dan kuno baginya yang hidup di masa modern. Dengan dinding dan lantai dari bebatuan, lentera-lentera yang menggantung dan jendela dari kayu yang dikukir dan memiliki banyak lubang.
Sesaat Keana terdiam dan menoleh dengan cepat pada Rasyad. Ia tidak tahu mengapa kepalanya membayangkan Rasyad yang akan menyewanya sebagai wanita penghibur untuk menemaninya tidur di penginapan. Dengan wajah waspada dan memicing tajam, Keana menatapnya.
“Hey, Tuan. Aku bukan wanita yang seperti itu, jika kau mengira aku mau melayanimu, kau salah.”
Rasyad tertawa ringan, ia menggeleng kemudian masuk dan menunjuk kamar itu. “Aku menyewakanmu kamar karena kau terlihat tidak memiliki apapun selain pakaian dan jepit rambut di kepalamu. Kebetulan aku sedang ada di kota, jadi aku hanya ingin membantumu. Aku juga akan segera pergi, dan jika kau ingin kembali ke Britania minggu depan, pergi ke pelabuhan dan temui pria bernama Sajad, katakan bahwa kau teman Rasyad Al-Sheiraz.”
Pipinya memerah dengan wajah menghangat. Keana merasa sangat malu karena bersikap kurang ajar dan curiga. Ia pun mengangguk dan melempar senyum manis yang begitu memikat pria manapun, membuat Rasyad yang melihat wajah dan senyumannya hanya berdeham pelan sambil memalingkan wajah.
“Terima kasih banyak. Aku berhutang banyak padamu, jika nanti aku memiliki uang, aku pasti akan menggantinya.”
“Aku menolong orang tanpa meminta dikembalikan ataupun imbalan. Kau dari bangsa barat dan tersesat di Ghaliah, aku hanya perlu membantumu. Britania dan Ghaliah memiliki hubungan perdagangan yang cukup baik, terlebih dengan perdagangan minyak dan permadani. Jika kau dari Britania, maka kau juga teman kami,” ujar Rasyad dengan nada ramah yang sangat tulus.
Sesaat Keana terpana dengan kebaikan Rasyad. Pria itu memang baik bahkan tak pernah berniat menyentuhnya sama sekali meski ia berpakaian terbuka. Rasyad memang baik, tapi jika harus dibandingkan dengan Zayed, Keana tentu saja lebih memilih Zayed sebagai pria yang akan melewati malam bersamanya. Zayed jauh lebih seksi dan menggoda dalam segi apapun. Ketajaman, keangkuhan dan wajah dinginnya begitu menggoda untuk ditaklukan.
“Terima kasih banyak, semoga Tuhan melimpahkan karunianya untukmu,” balas Keana dengan tulus.
“Ya. Ini bawalah, kau akan membutuhkannya selama seminggu ke depan. Penginapan ini sudah dibayar, kau tak perlu membayarnya lagi.”
Selepas mengucapkan itu, Rasyad pun menganggukkan kepalanya sesaat lalu berbalik meninggalkan kamar inap Keana. Pria itu berjalan di lorong untuk pergi.
Keana yang masih berdiri dengan senyum hangat pun pergi ke lorong dan menatap punggung kokoh dan postur tinggi itu. “Hey, Tuan tampan dan baik hati. Terima kasih banyak! Aku tidak akan pernah melupakan dirimu!” teriaknya.
Pria itu berbalik sebelum menuruni tangga, melemparkan senyumannya dan mengangguk pelan lalu tubuhnya menghilang ditelan tangga. Keana merasa bahwa Rasyad adalah tipe suami yang akan dipilih oleh semua wanita, dia hangat dan murah senyum.
“Aura yang memancar seorang bangsawan, tapi dia tidak memiliki tatapan dingin dan menusuk yang bisa menghujam jantungku. Dia hangat dan sangat ramah,” gumamnya. Keana melirik buntalan kain di tangannya yang dilukis dengan cat warna emas membentuk sulur. Ketika membukanya, ada banyak keping koin emas dan perak. Dengan wajah takjub Keana memerhatikannya. “Menakjubkan, ini keping emas dan perak. Bukan logam.”
Ia mengambil salah satu keping emas kemudian menggigitnya dan suara gigitan yang terasa pada emas murni. Dengan senyum merekah Keana segera masuk kembali dan mengunci pintu, ia berjalan ke kasur yang cukup untuk menampung dua orang dengan ranjang kayu dan seprei putih.
“Ini benar-benar emas murni, jika saja aku bisa membawanya ke London, sudah pasti aku akan mendapat uang banyak dan membeli mobil.”
***