Chapter 10

1810 Kata
Keana keluar dari kamar penginapannya. Ia sangat asing dan sendirian, begitu ketakutan. Wajah cantiknya terlihat kembali murung dan sedih, tak pernah menyangka akan ada kekuatan tak terduga yang membuka gerbang dimensi lain hingga terjadinya distorsi ruang dan waktu. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian ia tampak berbeda. Mengenakan abaya hitam polos yang terasa besar dari kain sutera yang lembut. Rambut pirangnya ia kepang dua dan wajahnya begitu polos tanpa polesan make up. Sambil menuruni tangga yang berderit dengan hati-hati, Keana mengedarkan tatapannya untuk mencari makanan. Ia mendekati meja panjang dengan seorang pria berada di baliknya. Dengan senyum merekah ia menyapanya. “Hallo, paman!” sapanya dengan nada ceria, suaranya sedikit berisik dengan aksen british yang kental hingga orang-orang di ruangan itu menoleh padanya. Pria didepannya hanya mengerutkan dahi kemudian bertanya dengan bahasa Arab. Keana yang tak paham pun hanya menghela napas sambil menggeleng penuh kesedihan. Ia bahkan tak tahu bahasa mereka. Mungkin bahasa Arab, pikirnya. Merasa tak tahu harus bagaimana, Keana mengeluarkan satu keping emas dari buntalan yang ia sembunyikan di dalam kantung abaya. Memberikannya dan membuat gerakan tangan dan bibir seperti menyuap. Ia sangat bingung harus berbicara apa, karena meski banyak orang barat yang datang ke Ghaliah dalam perdagangan, tapi tidak semua orang bisa berbahasa Inggris seperti di masa modern. Mungkin hanya orang-orang dari kalangan bangsawan yang mempelajari banyak bahasa. Pria di depannya mengangguk senang dan mengambil keping emasnya, kemudian mempersilakan Keana untuk menempati salah satu meja dari kayu yang dibuat seperti asal-asalan dan kursi tinggi yang juga dari kayu tanpa dicat. Pria itu berbicara menggunakan bahasa Arab kembali dan menyuruh Keana menunggu. Sambil menghela napas pelan, Keana menopang dagunya dengan tangan. Memandang lengan abaya yang besar dan lembut, memainkannya dan sesekali memainkan rambutnya yang dikepang. Ia teringat pada jepit rambut milik Zayed kemudian mengambilnya dan memerhatikannya. “Zayed bisa berbahasa Inggris, begitupun Rasyad. Apa mereka bangsawan? Aku sangat menderita di sini. ini semua gara-gara jepit rambut ini!” gerutunya dengan wajah merengut kesal. “Kalau saja malam itu aku tidak mengambil jepit rambut ini, aku tidak akan terdampar ke masa lima abad lalu.” Keana terus menggerutu dan sesekali menghela napas, ia merutuki nasib aneh yang menimpanya sejak kedatangan Zayed ke apartemennya. Mungkin ini yang dirasakan pria itu ketika ada di apartemennya dan melihat keadaan sekitar. Rasa takut, asing dan aneh. Tak berapa lama seorang pelayan wanita muda dengan pakaian tertutup, mengenakan kerudung dan cadar datang membawa nampan berisi makanan dan menaruhnya. “Terima kasih,” kata Keana dengan senyum manis, dan wanita itu pun pergi kembali. Ada beberapa hidangan yang tersedia di mejanya kini, hampir memenuhi satu meja dan Keana heran mengapa ia mendapat banyak menu. Ada daging domba yang dibuat gulai dan bumbu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Seperti roti tipis yang dipanggang sampai setengah kering juga, bersama beberapa makanan lainnya. Bahkan ada buah-buahan dan minuman dalam cawan keramik berwarna kuning keemasan. Dari aroma makanannya ia merasa itu bukanlah kesukaannya. Akan tetapi masa bodoh dengan rasanya, aku hanya ingin kenyang, gerutunya dalam hati. Keana pun makan dengan sedikit serampangan karena perutnya yang terus berbunyi kelaparan. Ia menghabiskan dua porsi makanan, dan satu porsi daging domba. Masih ada banyak makanan di mejanya, dan ia kebingungan harus diberikan ke mana. Salah satu penyebabnya adalah kesulitan dan berkomunikasi, dan Keana tak tahu harus mengatakan apa untuk membungkus makanannya. Ia mengambil buah apel dan menggigitnya. “Rasanya masih sama seperti apel di abad 21, kupikir berbeda,” katanya, kembali menggigit apelnya. Ia juga mengambil cawan berisi minuman berwarna kuning keemasan, sesaat ragu tapi aroma madu dan kurma menggugahnya. Ia mencicipinya sesaat, dan merasakan manis yang kuat seakan menempel di mulutnya. “Manis sekali. Aku benar-benar tidak suka.” Setelah kenyang, Keana bangun dan meninggalkan mejanya yang masih dipenuhi dengan makanan utuh. Ia tak menduga pemilik penginapan akan menyiapkan makanan sebanyak itu untuk satu orang. Karena bingung harus ke mana, Keana pun pergi ke luar dan menghirup udara dalam-dalam. Aktifitas rakyat di depannya nampak sangat asing dan tak pernah dilihat. Mereka berjalan-jalan di udara yang panas ini dengan pakaian yang tertutup sampai bawah, ada pula yang mengenakan cadar yang menutupi separuh wajahnya. “Mereka sangat hebat, di cuaca yang seperti ini sangat tahan dengan pakaian serba tertutup,” gumamnya dengan suara setengah kagum. “Pertama, aku masih punya banyak koin emas. Aku akan membeli beberapa potong pakaian,” putusnya. Keana membawa langkahnya menyusuri jalanan yang dipenuhi dengan bangunan-bangunan penginapan dan rumah makan. Ia terus berjalan dengan kepala yang terus mengedar dan tak hentinya merasa kagum dengan bangunan-bangunan yang tertata rapi dan kuno. Dirinya seakan berjalan di tempat bersejarah untuk berlibur. Ketika berada di ujung jalan, Keana berbelok dan menemukan aktifitas rakyat yang ramai dengan para pedagang kaki lima maupun di toko yang atap depannya dari karung yang khas. Matanya berbinar senang, seakan pergi ke pasar souvenir. Ada para pedagang buah-buahan, pedagang kain dan juga pakaian. Para pedagang menyambut pejalan kaki untuk mampir, dan para pejalan kaki yang saling berbincang sambil sesekali mampir. Di tempat ini bahkan dirinya bisa melihat orang-orang dari bangsa barat yang berjalan-jalan dengan pakaian kuno. Ia juga melihat orang-orang dari bangsa Romawi yang pernah dilihatnya dalam buku sejarah dan museum. Dengan riang Keana berjalan cepat ke arah keramaian dan menghampiri pedagang pakaian untuk wanita. Ia mengambil satu kain dan merasakan satin yang lembut itu di kulitnya, kemudian tersenyum pada wanita tua di depannya. “Nenek, saya mau ini,” katanya. Wanita tua itu balas tersenyum sambil berkata dalam bahasa Arab yang lagi-lagi tak Keana mengerti. Sambil mengeluarkan satu keping koin emas, Keana memberikannya pada wanita itu dan menunjuk pakaian dari satin berwarna merah marun tadi. Ia menunggu, melihat wanita itu mengambil pakaian yang tadi dan dua pakaian lainnya kemudian memasukannya ke dalam buntalan kain lalu mengikatnya. “Wah aku tidak menyangka, satu koin emas ternyata bisa membeli tiga pakaian.” Keana menerima pakaiannya kemudian membungkuk sebagai rasa terima kasih. Ia kembali berjalan ke arah pedagang lainnya yang menjual kain. Melihat wanita-wanita yang mengenakan selendang yang hanya disampirkan di bahu atau kepala membuatnya ingin memiliki hal yang sama. Keana pun mendekati pedagang kain dan memilih kain dari sutera berwarna hitam, memberikan keping koin emasnya dan si penjual memberinya dua koin perak sebagai kembalian. Meski kemurungan terus melandanya sejak datang ke Ghaliah, tapi Keana tak boleh terpuruk dalam keputusasaan dalam tanah asing. Ia harus mencari cara sambil bertahan hidup untuk kembali ke abad 21. Keana menyampirkan kerudungnya di kepala, dan penampilannya jauh lebih cantik serta menarik, meski wajah Eropa dan rambut pirangnya tak bisa disembunyikan. Ia berbalik dan hendak melangkah pergi. Langkahnya tertahan tiba-tiba dan tubuhnya terdiam dengan mata terpaku dan bibir nyaris terbuka. Detak jantungnya seakan berdetak keras seperti genderang. Rasa hangat dan kebahagiaan menyerangnya dalam sekaligus bersama dengan senyum cantik yang merekah di bibirnya. “Zayed?” bisiknya dengan suara nyaris tak terdengar. Di hadapannya, ada satu sosok pria gagah dan tampan dalam balutan dishdasha putih juga jubah keemasan dengan bordiran yang indah. Tatapan tajam, kelam dan misterius dari mata cokelat amber itu sangat Keana hapal. Bibir sedikit tebal dan seksi, dengan rahang yang tegas dan d**a bidang berotot dibalik pakaiannya. Keana sangat menghapalnya, meski mereka hanya beberapa hari tinggal bersama. Sosok Zayed mendekat padanya, dan seakan waktu berhenti berputar dengan angin yang berembus menerpa tubuhnya hingga mengibarkan kerudung di bahunya. Senyuman di bibir tipis dan merah itu tak lepas, sampai ia bisa mencium aroma maskulin dan kayu-kayuan yang kuat dari tubuh tinggi di depannya. Sebelah tangannya terulur untuk menyentuh rahang Zayed, mengusapnya dan merasakan gelitikan halus di telapak tangannya. “Kau datang?” bisiknya lagi dengan suara nyaris tercekat. Zayed bergeming, tatapan tajamnya seakan menghunus tatapan Keana. Tatapan keras, dingin dan tak tersentuh. Zayed meraih tangan Keana di rahangnya kemudian menggenggamnya dengan erat. “Ya, aku datang untukmu,” katanya dengan suara serak dan berat. Keana memejamkan mata mendengar suara serak dan berat itu yang terasa begitu indah berdengung di kepalanya. Ia menghela napas lega sambil menahan air matanya, bagaimana pun Zayed orang yang tahu dirinya dari masa depan. Tanpa diduga Keana membuka matanya dan menubruk tubuh Zayed untuk dipeluk. Ia menyusupkan kepalanya ke d**a Zayed dan mengirup aroma maskulin yang sangat menggoda itu. Orang-orang yang melihat mereka terkejut dan menatap dengan dahi mengerut, aneh, sambil menggelengkan kepala. Sedangkan Zayed hanya membiarkan Keana memeluknya dengan erat sambil menyusupkan wajah. Meski berpelukan dan bersentuhan antara wanita dan pria yang bukan suami istri di depan umum sangatlah tabu dan tak biasa. Keana orang Eropa, ia hidup di masa modern dan sebuah pelukan dengan lawan jenis tidaklah masalah. “Kau tinggal di mana?” tanya Zayed lagi. Suaranya terdengar semakin dalam, dan tatapannya menajam. Tangannya hendak membalas pelukan Keana, tapi tatapan dari orang-orang membuatnya mendorong bahu Keana agar pelukan mereka terlepas. “Aku tinggal di penginapan. Seseorang menolongku, dan dia juga memberiku keping emas dan perak untuk kebutuhanku. Dia bilang bisa membantuku kembali ke Britania, tapi yang aku inginkan adalah kembali ke duniaku,” ujar Keana dengan wajah murung dan suara lesu. “Seseorang? Dia tahu kau dari abad 21?” tanya Zayed dengan wajah tenang. Keana menggeleng lesu. “Tidak, aku tidak memberitahunya. Aku kesulitan berkomunikasi, hanya tuan penolong dan dirimu yang bisa berbahasa Inggris.” “Dia bisa bahasa Britania?” Zayed terlihat mengerutkan dahinya samar-samar dengan tatapan tajam dan waspada. Yang bisa berbahasa asing hanyalah para bangsawan dan para keturunan Raja. “Iya. Aku benar-benar kebingungan di sini, semuanya sangat asing dan aneh. Aku tidak heran saat kau kebingungan ada di duniaku, memang seperti inilah. Kau beruntung bisa kembali lagi, tapi aku tidak tahu.” Keana meredupkan tatapannya sambil menundukan kepala dengan wajah muram. Ia menatap jari-jari tangannya yang saing bertaut. “Kau sudah makan?” tanya Zayed dengan nada tetap rendah dan tatapan tenang seakan tak bisa mengeluarkan ekspresi apapun selain itu. Keana mengangguk cepat. “Sudah, tadi di penginapan. Aku juga meninggalkan penginapan tanpa barang-barang. Zayed, bawa aku bersamamu,” pinta Keana dengan wajah memohon. Wajah cantik dari kulit putih kekuningan yang bersinar itu menampakan raut polos dan tatapan memohon. Bibir tipisnya yang indah sedikit mencebik. Keana tak tahu jika wajah cantiknya telah membangkitkan sesuatu dalam diri Zayed. Sesuatu yang berada di dalam kegelapan dirinya, sesuatu yang panas dan membara yang seakan mendobrak untuk keluar. “Ya, ya? Bawa aku bersamamu. Aku janji tidak akan berisik atau merepotkanmu,” janjinya lagi. Zayed mengangguk masih dengan wajah tenang. Ia menarik tali kekang kuda di belakangnya dan hendak meraih tangan Keana, tapi mereka berada di depan umum. Ia tak bisa menyentuh sembarangan orang di depan umum, meski rakyat biasa tak bisa mengenali dirinya sebagai Putra mahkota Ghaliah. Kenyataan bahwa rakyat biasa tak mengenali bagaimana rupa Zayed Al-Sheiraz, karena Zayed selalu menutupi wajahnya jika kembali dari medan perang, atau jika melintasi kota-kota bersama pasukannya. Ia akan menampakan wajahnya jika berjalan sendiri atau hanya bersama Ayaz. Tak ada yang akan mengenalinya sebagai seorang Pangeran meski pakaiannya terlihat bagus bagai bangsawan. “Ayo,” kata Zayed akhirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN