Chapter 11

1538 Kata
Keana tersenyum senang sambil mengangguk dengan semangat. Kini ia tak akan lagi kesepian dan kebingungan dengan adanya Zayed bersamanya. Sambil berjalan dengan langkah ringan dan senyuman memikat, Keana mendekati pedagang yang menjual buah kurma dan zaitun. Ia mengambil satu buah dan menggigitnya. Pipi halusnya bersemu merah dengan ekspresi yang sangat menggemaskan. “Manisnya. Aku mau ini!” katanya pada si penjual. Zayed mendekat dan memerhatikan Keana yang mengambil satu kantung buah kurma kemudian memberikan satu keping koin perak. Sedangkan Keana kembali melangkah dan menatap ke sana-sini dengan pandangan berbinar. “Kau tahu, aku hampir saja menangis karena ketakutan. Untung saja kau datang dengan cepat,” ujar Keana seraya menggigit satu buah kurma. Mereka masih berjalan bersama, dengan Keana yang sesekali berbicara sedangkan Zayed hanya diam mengikutinya tanpa mengatakan apa pun. Wajahnya tetap tanpa ekspresi, dan tatapannya begitu tajam. Orang-orang yang berpapasan dengan mereka sesekali akan menatap Keana yang berisik dan tak mau diam. “Aku membeli tiga pakaian dengan koin emas. Aku yakin tuan penolongku itu seorang bangsawan, dia sangat tampan dan baik sekali. Dia bahkan tidak pernah menyentuhku sama sekali meski aku berpakaian terbuka. Eh, dia menyentuh tanganku saat kami di atas kuda. Dia sama sepertimu, seperti bangsawan.” Keana menggigit kembali buahnya dan mengunyah, ia berputar untuk menatap bangunan-bangunan yang mereka lewati. Matanya mengedar dan kakinya terus melangkah. “Aku belum pernah pergi ke negeri gurun pasir, jadi aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Mereka menggunakan bahasa yang tidak aku pahami. Awalnya kupikir kau membawaku ke sini dengan pesawat jet, ternyata ini benar-benar di abad 16.” Keana menghela napas pelan untuk menetralkan kembali napasnya karena terus berbicara seakan tak lelah. Ketika ia berbalik, dadanya berbenturan dengan d**a Zayed hingga tubuh mereka menempel. Keana mendongak dan mengerjapkan matanya menatap wajah sangat tampan itu. “Kau tidak lelah?” tanya Zayed akhirnya setelah sekian lama hanya diam. “Hah?” “Kau terus berbicara, apa kau tidak lelah?” Keana mencibir dengan wajah merengut sebal. Ia kembali melanjutkan langkahnya dan menaikan kembali kerudungnya yang melorot ke bahu. Tangannya menunjuk sebuah bangunan dengan kubah berwarna biru yang ada di atas bukit, dengan dua menara di sampingnya. “Apa itu istana?” tanyanya pada Zayed. “Itu paviliun milik Sultan, yang biasa digunakan jika berburu,” jawab Zayed. Suaranya masih setenang danau yang tak terusik. “Paviliun milik sultan? Wah, paviliunnya saja sangat mewah apalagi istananya ya. Aku tak bisa membayangkan hidup di dalam istana yang megah dan indah.” Keana berjalan kembali dan langkahnya melebar ketika menemukan pedagang perhiasan kaki lima. Ia berhenti dan matanya berbinar senang melihat perhiasan sederhana dari manik-manik. “Aku mau satu,” katanya seraya mengambil hiasan dahi. Zayed mendekat dan meraih hiasannya, kemudian menjepitkannya di rambut pirang Keana hingga menjuntai di dahinya yang mulus. Hiasan itu terlihat berkilauan bersama dengan rambutnya yang diterpa sinar matahari. Keana terdiam sesaat, ia menelan ludah susah payah sambil menenangkan detak jantungnya. Belum pernah dirinya merasakan hal seperti ini terhadap seorang pria. Meski usianya sudah 22 tahun, tapi Keana tak pernah mau diajak berkencan oleh pria manapun. Bulu mata lentiknya terangkat dan tatapan dari mata biru safirnya jatuh pada d**a bidang Zayed di hadapannya. d**a itu begitu kokoh, terlihat kuat dan menggoda untuk disentuh. Tanpa disadari tangan Keana terulur, dan mendarat di d**a yang terasa keras di balik pakaiannya. Tatapan Keana bergulir ke atas, menatap kedua bahu kokoh dan sangat menggugah itu. ia membayangkan jari-jari lentiknya bisa meremas kedua bahu itu tanpa penghalang. Tatapannya terus bergulir, rahang yang sangat kokoh dan kuat, yang sangat Keana sukai untuk disentuh. Ia membayangkan bisa menyentuh semua itu, dan tatapannya saat ini seakan mendamba. Dalam dirinya seperti ada sesuatu yang panas dan siap meledak, begitu mengusiknya dan membuat perutnya melilit. “Kau sudah puas menatap tubuhku?” tanya Zayed menyentakkan Keana dari fantasinya. Keana menggeleng kemudian mendongak dan tatapannya bertaut dengan tatapan tajam dan kelam itu. Ia melemparkan cengiran lebar sambil mundur dan merentangkan kedua tangannya. “Bayarkan ya, aku suka hiasannya!” katanya kemudian. Ia kembali meneruskan langkahnya, sedangkan Zayed membayar kembali hiasan dahi yang dikenakan Keana. Mereka berjalan sejajar sambil menarik kuda, dan sinar matahari semakin beranjak ke ufuk barat membawa rasa hangat dan juga sejuk. Bayangan mereka semakin panjang di sisi timur, dan mereka harus segera mencari penginapan sebelum malam menjemput.. “Naiklah,” kata Zayed seraya menghentikan langkahnya. Keana menoleh dan menaikan sebelah alisnya, melirik kuda pejantan berwarna hitam yang terlihat sangat besar dan kuat. Kuda itu cukup berbeda dengan kuda-kuda di Hyde Park tempatnya biasa berkuda dengan Robin, kuda ini jenis kuda Arab yang tangguh. Mengerti ajakan Zayed, Keana mendekat dan berpegangan pada pelana untuk naik ke atas kuda. Akan tetapi tanpa diduga Zayed menyentuh kedua pinggulnya dengan kuat, dan membantunya naik. Sesaat Keana terdiam dengan d**a yang kembali berdegup cepat dan napas tertahan. Ia masih merasakan rasa hangat dan sengatan aneh dari pinggulnya, merasakan jejak-jejak tangan besar dan kokoh milik Zayed di sana. Tak lama Zayed pun naik dan berada di belakangnya. “Kita akan ke mana?” tanya Keana sebelum mereka meninggalkan tempat itu. “Aku akan membawamu ke tempatku.” Dengan wajah berbinar Keana mengangguk, karena matahari semakin beranjak ke ufuk barat, untuk menjemput malam. Lagi-lagi ia harus menahan napas ketika tangan-tangan kokoh Zayed menarik tali kekang dan melingkupi kedua sisi tubuhnya. d**a bidangnya bersentuhan dengan punggungnya, menghantarkan kembali sengatan-sengatan aneh dan menggelitik di sekujur tubuhnya. Ia harus bisa melewati ini, sampai mereka tiba di tempat Zayed dan beristirahat. *** Kuda mereka memasuki gerbang dari kayu yang berukiran dengan tembok yang menjulang tinggi seperti benteng. Ketika tiba, Zayed menarik tali kekangnya kuat-kuat hingga kudanya mengikik pelan dan berhenti melangkah sepenuhnya. Pria itu melompat turun dan mengulurkan tangannya pada Keana. “Wah, indahnya!” Keana berteriak dengan berbinar kagum melihat sebuah bangunan indah berwarna putih, dengan atap berbentuk kubah. Ada tangga pendek menuju bangunannya, juga taman yang indah dengan rumput hijau dan bebungaan. Ada kolam kecil di tengah tamannya. Bangunan itu tepat berada di balik bukit sebelah utara ibu kota, menyembunyikan keberadaannya dari aktifitas ibu kota. Bangunan yang indah, yang merupakan sebuah paviliun milik Zayed. Seorang wanita dengan abaya hitam sederhana dan mengenakan cadar mendatangi Zayed dan Keana, wanita itu membungkuk dengan sebelah tangan di d**a. “Assalamu’alaikum.” Zayed memberi salam. “Wa’alaikumsalam, Emir. Anda datang berkunjung?” tanya wanita itu dengan suara ramah dan pandangan ke bawah. Zayed mengangguk singkat tanpa menjawab apa pun lagi. Kemudian mereka dibimbing masuk, melewati taman di bagian depan, menaiki undakan tangga dan melintasi koridor dengan pilar-pilar besar dan bulat berwarna emas. Atapnya sangat indah, berbentuk melengkung dengan hiasan kristal dan lentera-lentera di setiap dindingnya. “Ini sangat indah, Zayed. Apa ini kediamanmu?” tanya Keana sambil melirik atap koridor yang memiliki lukisan dan kaligrafi dengan aksara Arab. “Ya, ini paviliun milikku. Berada di balik bukit dan terlindungi dari ibu kota.” “Ini hanya paviliun?” gumam Keana dengan rahang hampir terjatuh ke lantai rasanya. Jika sebuah paviliun saja seindah ini, bagaimana dengan kediaman utamanya? Pikir Keana takjub. “Jadi kau bangsawan ya?” Zayed bergeming dan tidak menjawabnya sama sekali, sampai mereka berbelok dan berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna emas dengan ukiran yang rumit. Semuanya indah, dan Keana seakan merasa hidup di dalam sebuah dongeng dengan istana-istana yang indah. Wanita yang membimbing mereka membuka pintu untuk Keana dan mempersilakannya dalam bahasa Arab. “Silakan, Nona. Ini kamar untuk Anda,” katanya. Keana mengernyit dan melirik Zayed dengan senyum kaku. “Dia bilang apa?” Zayed hampir saja tersenyum, dengan kedua sudut bibir yang berkedut geli melihat semua tingkah Keana. Ia berusaha tidak terusik dengan semua tingkah Keana yang begitu lugu dan menggemaskan, dan selalu ceplas ceplos. “Ini kamar untukmu,” jawab Zayed. “Oh, apa kita akan tidur di sini?” “Tidak, hanya kau saja. Kamarku ada di sebelah kanan dari belokan itu.” Zayed menunjuk belokan koridor tak jauh dari mereka. “Fatimah akan membantumu membersihkan diri dan menyiapkan pakaian,” lanjutnya. Selepas mengatakan itu Zayed berbalik dan berjalan lurus menyusuri sisa koridor hingga tubuhnya menghilang di belokan, dan Keana memandang kepergiannya. Keana masuk ke kamar yang sangat jauh dari bayangannya. Ini lebih dari kata mewah, karena semua perabotan dan arsitekturnya tak kalah indah dari istana-istana Kerajaan di masa modern. Bahkan jauh lebih indah. Lentera-lentera di meja, tergantung dan menerangi kamar dengan dinding berwarna putih bersih itu. langit-langitnya tinggi dan terdapat ranjang besar dengan kelambu yang terikat di setiap pilar. Ia mendekati ranjang dan menyentuh permukaan sepreinya yang sangat lembut, dengan selimut dari bulu domba yang tak kalah lembut. Di bagian dalam kamar, ada pintu dari kaca dengan bagian atas yang melengkung seperti kubah. Ia membawa langkahnya mendekati pintu lalu membukanya. Ada kolam pemandian yang lagi-lagi membuatnya nyaris menjatuhkan rahang. “Menakjubkan, ini bahkan lebih indah dari hotel-hotel mewah di Maroko pada masa modern,” gumamnya dengan senyum merekah. Keana berlari ke arah kolam pemandian, dengan lantai marmer yang mengkilap indah. Ini seperti kolam pribadi! Pekiknya dalam hati dengan gembira. Air di dalam kolam begitu jernih, dan pohon-pohon palem tertanam tak jauh dari kolam dengan tanaman bunga. “Fatimah, aku ingin membersihkan diri,” katanya seraya menoleh pada Fatimah. Wanita itu hanya mengangguk. Keana pun tak bisa berbahasa Arab, ia pikir Fatimah paham dengan apa yang diucapkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN