“Hiks, aku takut,” rengek Tarra. “Nggak usah takut, Sayang. Aku pelan-pelan ya gerakinnya,” ujar Tian membujuk istrinya yang kini mulai ketakutan. “Tunggu, bentar. Jangan digerakin dulu. Takut nanti sakit,” panik Tarra. “Nggak kok. Percaya kan sama aku?” “Musrik dong,” Tian kemudian memukul pelan kaki istrinya karena gemas. “Aw aw aw. Jangan bikin pergerakan. Tian, ah!” ujar Tarra sewot melototkan matanya ke Tian padahal posisinya lagi nggak banget. Tian di bawah dan Tarra di atas. Tian tertawa geli dengan sikap istrinya. “Mah…” ujar suara kecil menyela. Tian menoleh dan mendapati anak laki-lakinya Alexander Filbert Priambodo yang berumur empat tahun sedang menatap mereka dengan tatapan polos. “Di situ … tetap di situ,” ucap Tarra memberikan
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


