"Ya, sayang?" "Kamu benar-benar yakin laki-laki bertopi hitam itu sudah pergi?" "Mas yakin. Setidaknya ... itu lebih baik daripada kita tetap di luar." Tegas Nata. "Yang sabar ya, Mas. Aku yakin, Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik. Tentang laki-laki itu, jangan dipikirin ya, Mas. Aku baik-baik aja di sini." Nata tersenyum. Mengusap kepalanya. Drrtt Ponsel Nata berdering. Mengalihkan suasana hening. Nomor telepon asing. Namun, Nata memilih mengangkatnya. "Hallo, dengan siapa ini?" "Hallo, Tuan Nata. Gimana kabarnya?" Suara khas itu pura-pura ramah. Terdengar kembali suara tak asing di telinga Ardi. Ini sudah kesekian kali. Nata mulai muak mendengar suaranya. "Kenapa telpon kesini lagi, hah? Apa belum kapok!?" "Haha tenang, Tuan Nata. Tenang... saya cuma memast

