"Sudah, Mas. Aku gapapa ko. Yang penting kita bersama-sama. Ya 'kan?" Nata tak kuat lagi menahan gejolak emosi. Hiruk pikuk perjalanan rumah tangganya bersama Naya. Namun, apapun yang menimpanya, Naya selalu hadir di sampingnya. Keharuan menyelimuti Nata. Ia teringat perjuangan istrinya menemani. "Mas... orang itu sudah selesai?? Dia masih di sana?" Nata mengangguk. "Sudah kamu selesaikan?" Nata menggeleng. Ia masih belum mampu mengucap satu katapun. "Mas..." Naya menatap penuh pada suaminya itu. "Orang mulia itu bukan karena hartanya. Pun, bukan karena cantiknya istrinya. Tapi... yang mampu menjaga keduanya. Kamu masih punya rasa ingin menjaganya bukan?" Naya tersenyum. Berharap laki-laki yang ada di depannya turut tersenyum. Nata mendekati istrinya. Tak tahan menahan haru mende

