"Emang kenapa?" "Karena Mas ingin kita berjalan seiring, buka menggiring." Diusapnya kepala Naya lembut oleh Nata. Wajahnya yang semula penuh amarah, kini sejuk seketika. Mungkin, kau pernah bertanya apa ciri-ciri jodoh kita? Barangkali, salah satunya adalah ia yang saat kamu lihat, kamu merasa tenang di dalamnya. Dan ... itu yang mungkin dirasakan Nata. "Terima kasih, wahai perempuan yang lembut hatinya." Ucap Nata lembut. "Sama-sama, Mas." "Oh ya, kamu rencananya besok mau kemana? Aku ikut yah? Bosen di rumah." "Uhm... kangen yah?" "Ih... gak. Cuma bosen aja." Naya meledek Nata sambil mencubit pinggangnya. Senyum sumringah. "Mas ... kamu masih ingat Mbah yang pernah kamu ceritain?" "Ehm, yang tinggal di ujung pesawahan itu? Mbah Toid?" "Iya. Beliau masih tinggal di sini 'kan

