"Eh, belajar ngelawak darimana istriku ini?" "Hehe... gak, dari suaminya lah." "Ehm... perasaan aku lebih romantis, daripada humoris. Eh ada tambahan lagi ding. Ganteng." Pedenya. Berusaha mengalihkan apa yang barusan ia luapkan emosi di ponselnya. Nata berusaha menghibur istrinya. Ia tak ingin Naya bertanya kembali tentang siapa yang menelponnya. Nata tak ingin membuatnya kawatir lagi. Apalagi baru beberapa hari tinggal di sini. "Ada-ada saja kamu, Mas." "Mas ..." "Iya?" "Sebegitu berharganya aku bagimu, Mas?" "Apa masih perlu dipertanyakan lagi? Kenapa perempuan selalu bertanya hal yang sama seperti itu?" Nata mendekatkan posisi duduknya. "Kenapa, yah? Uhm.. gatau juga. Refleks. Jawab aja napa." Ledek Naya. "Ya jawab dulu kenapa? Masa Mas jawab pertanyaan kegitu berkali-kali." U

