"Membuat hidup Tuan jadi miskin atau tanpa istri tercinta, misalnya. Haha indah 'kan?! Eh, Anda sudah miskin. Tinggal yang kedua. Sudah siap?!" "Kurang ajar!!" "Ssstt sudah saya bilang. Tenang, Tuan. Tenang." Nata menahan emosinya. Berusaha mengatur ritme emosinya. Namun, napas Nata kian tak teratur. Wajahnya memerah marah. "Pergi kau!! Jangan hubungi kami lagi!" "Hahaha." "Mas? Kenapa?" Naya kembali bertanya. "Gapapa, ini bentar lagi juga udahan." Namun, Naya penasaran. Ia pun makin mendekati suaminya. "Mas, kenapa sebenernya?" Pintanya lagi. "Sayang ... kamu bisa tolong buatkan aku minum?" Nata memintanya. Kali ini, Naya langsung menurut. Meninggalkan suaminya dan pergi ke dapur. Tak berapa lama, Naya kembali. "Mas... ini minumannya. Masih nelpon?" "Sebentar, sayang. Ka

